You are here Info Buku

Resensi Buku

Ide Pemikiran Pluralisme Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Radar Surabaya | Minggu, 7 Desember 2014 | Abdul Aziz Musaihi


Pada 1765, sebelas tahun menjelang deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (AS), Thomas Jefferson membeli sebuah al-Quran. Rupanya, ini menandai awal dari minatnya yang panjang terhadap Islam. Setelah itu, ia terus mencari sejumlah buku tentang bahasa, sejarah, dan perkembangan Timur Tengah. Jefferson pun intensif memahami Islam meskipun hal itu dinilai menghina keimanannya, sebuah sentimen umum yang berlaku di kalangan Protestan kala itu di Inggris dan Amerika.

Tak disangka sejak 1776, Jefferson telah membayangkan kaum Muslim hidup dan tinggal sebagai warga negara Amerika di masa depan negerinya yang baru. Sebuah pandangan baru Jefferson yang menyajikan rumusan traktat toleransi dan kebebasan beragama.

Buku karya Denise A. Spellberg ini, menjadi bukti bahwa dulu para pendiri Amerika telah memiliki gagasan-gagasan toleransi agama, terutama pandangan tentang agama Islam. Di tengah kekerasan antar sekte Kristen di Eropa, beberapa penganut Kristen pada abad 16 menganggap Islam bukan sebagai agama melainkan paham palsu yang dibawa oleh Muhammad.

Meski pendiri Amerika sebagian besarnya adalah penganut Kristen protestan, namun ada segelintir pemimpin yang punya pemikiran plural. Tak dimungkiri, banyak orang sekarang akan merasa kaget gagasan tersebut muncul pada saat itu, namun telah banyak bukti menguatkan hal itu, sebagaimana ditulis Denise dalam catatan pribadinya Jefferson; “Tidak seorang pun dari kalangan Pagan maupun Muslim atau warga Yahudi boleh dikecualikan dari hak-hak sipil persemakmuran karena agamanya.” Di sinilah catatan Jefferson upaya pertama dalam negara baru tersebut untuk memikirkan hak-hak sipil Muslim maupun Yahudi.

Jefferson, karena pandangannya yang luas tentang kebebasan beragama dan kesetaraan politik, mengalami serangan berulang kali sebagai "kafir". Kata yang pada masanya berarti bukan sekadar tidak beriman, melainkan juga seorang Muslim.

Kendati demikian, meskipun Jefferson gigih memperjuangkan kesamaan hak sipil Muslim, dalam anggapan penulis, ia tak pernah tahu bahwa Muslim pertama Amerika adalah para budak dari Afrika Barat. Mereka tidak memperoleh kebebasan yang dikiranya berlaku universal. Pendiri negara Amerika itu mungkin saja memiliki budak Muslim, meski tak ada bukti pasti tentang hal itu. Namun tak diragukan lagi, bahwa Jefferson sejak awal membayangkan Muslim sebagai sesama tetangga di masa depan negaranya, sebuah ramalan yang sudah dapat dipastikan kebenarannya saat ini.

Selain Jefferson, ada beberapa dari mereka yang andil dalam menyuarakan hak-hak muslim, yaitu para pemrotes Presbiterian dan Baptis yang menentang penetapan agama resmi di Virginia; pengacara Anglikan James Iredell dan Samuel Johnston di Carolina Utara yang menuntut hak-hak muslim dalam konvensi ratifikasi konstitusi negara bagian; dan John Leland, pengkhotbah Baptis Evangelis sekaligus sekutu Jefferson dan Madison di Virginia yang mendukung kesetaraan muslim.

Ironisnya, hanya muslim yang sampai sekarang tetap menjadi objek dari wacana penghinaan dan marjinalisasi sipil, muslim masih dianggap di banyak wilayah sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya khas Amerika.

Buku ini mengungkapkan cerita penting yang sedikit diketahui tentang riwayat kebebasan agama di Amerika, sebuah drama di mana Islam memainkan peran mengejutkan. Denise menceritakan bagaimana para pendiri Amerika Serikat, terutama Jefferson, tertarik pada ide-ide pencerahan perihal toleransi Muslim untuk menciptakan landasan praktis pemerintahan Amerika yang tengah sengit diperdebatkan. Dalam hal ini, kaum Muslim, yang kala itu bahkan tak diketahui eksistensinya di koloni itu, menjadi batas imajinasi terjauh bagi pluralisme keagamaan Amerika, yang juga mencakup kaum Yahudi dan Katolik sebagai minoritas sebenarnya.

Kini, selagi kecurigaan Barat terhadap Islam terus hidup dan jumlah warga Muslim di Amerika kian tumbuh menjadi jutaan, cerita Denise yang mengungkap gagasan revolusioner para pendiri Amerika menjadi sangat penting diketahui. Di tengah menguatnya keyakinan tentang benturan peradaban antara Islam dan Barat, buku ini menjadi bacaan yang tepat untuk merajut kembali harapan akan perdamaian dunia.

Al-Quran Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Koran Tempo | Minggu, 7 Desember 2014 | Kurniawan ( Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya )

 

Spellberg berusaha mengungkap mengapa Thomas Jefferson membeli Al-Quran dan memasukkan kemungkinan seorang muslim menjadi Presiden Amerika Serikat.

Kontroversi meledak pada 3 Januari 2007, ketika Keith Ellison, orang muslim pertama yang terpilih sebagai anggota kongres Amerika Serikat, mengangkat sumpah jabatan dengan dua Al-Quran berbahasa Inggris terjemahan George Sale. Kitab suci umat Islam itu milik Thomas Jefferson, salah seorang bapak bangsa dan presiden ketiga negara itu.

Ellison ingin menunjukkan bahwa seorang visioner seperti Jefferson tak takut terhadap sistem kepercayaan yang berbeda. “Ini menunjukkan bahwa toleransi beragama adalah pijakan dasar negara ini. dan perbedaan agama tak perlu ditakutkan.” kata dia, kepada kantor berita Associated Press.

Empat tahun kemudian, Denise A. Spellberg, guru besar Sejarah dan Studi Timur Tengah di University of Texas. Austin, Amerika Serikat, mulai membuka Al-Quran Jefferson yang tersimpan di Perpustakaan Kongres. Dengan semangat Ellison, Spellberg menyelidiki mengapa Jefferson membeli kitab itu dan bagaimana dia, bersama bapak bangsa Amerika lainnya, mema­sukkan kemungkinan seorang muslim menjadi warga negara dan Presiden Amerika Serikat, suatu pandangan yang melampaui zamannya.

Dalam bab-bab awal buku berjudul Kontroversi Al-Quran Thomas Jefferson ini, Spellberg memberi konteks atas munculnya prasangka buruk di kalangan umat Kristen terhadap Islam. Prasangka itu lahir dari sejarah kelam Eropa.

Pada abad ke-14, kekuasaan Turki Ustmani meluas dan menekan Kristen. Pada 1453, Konstantinopel, benteng terakhir Kekaisaran Byzantium Kristen, jatuh ke tangan Turki yang terus memperluas kekuasaannya ke Eropa dan menjadi momok bagi negara-negara yang berpenduduk mayoritas Kristen.

Turki tak hanya dipandang sebagai sebuah negara, tapi juga diidentikkan dengan Islam. Bahkan, meski keliru, Sultan Turki dianggap sebagai pemimpin spiritual tertinggi Islam, seperti Paus bagi Katolik.

Pada saat yang sama, gerakan Pembaharu Protestan muncul dan menyerang paham Katolik, yang dianggap bertentangan dengan agama Kristen sejati versi mereka. Tokoh Protestan, seper­ti Martin Luther, menganggap Katolik sebagai anti-Kristus. Ia juga memasukkan Islam dalam barisan anti-Kristus. Namun, di sisi lain, para tokoh Katolik pun menyerang Islam dan Protestan sebagai penghancur agama Kristen. Permusuhan ini terbawa ke Amerika.

Di tengah pandangan yang menyesatkan seperti itulah Jefferson membeli Al-Quran ter­jemahan Sale seharga 16 shilling pada 1765. Menurut Spellberg, pembelian itu menunjukkan minat Jefferson untuk memahami Islam dengan melihat langsung dari sumbernya. Bahkan, Jefferson berusaha mendapatkan banyak buku tentang bahasa, sejarah, dan perjalanan Timur Tengah. Upaya itu terus berlanjut sepanjang hidupnya.

Tak ada yang tahu persis pen­dapat Jefferson tentang Al-Quran karena tak ada catatan soal itu. Spellberg memilih jalan memutar dengan melacak berbagai artikel dan catatan Jefferson mengenai Islam, toleransi, dan undang- undang tentang agama. Ia mencontohkan upaya Jefferson mengakhiri penetapan Anglikanisme di Virginia.

Pada masa itu, Negara bagian Virginia diperkirakan secara eksklusif dihuni oleh penganut Kristen. Penganut agama lain menjadi minoritas, dan penganut Islam bisa jadi tak ada sama sekali di sana. Negara tersebut menerapkan aturan agar semua orang, meski bukan penganut Anglikan, wajib membayar pajak untuk mendukung keuangan gereja dan pendeta Anglikang. Jefferson mempertanyakan pemaksaan itu. Pada 1776, ia mengusulkan rancangan undang-undang penghapusan hokum yang bertentangan dengan kebebasan beribadah.

Hal paling maju dalam pergulatan pemikiran Jefferson mengenai toleransi beragama adalah jawaban atas pertanyaan berikut ini: mungkinkah seorang muslim menjadi presiden? Pada masa itu, negara-negara bagian Amerika Serikat mewajibkan religious test bagi calon pejabat publik.

Religious test, yang dapat diterjemahkan sebagai “sumpah agama”, merupakan ketentuan bahwa seseorang pantas menduduki jabatan publik bila menganut agama tertentu (dalam hal ini Protestan). Penerbit Alvabet secara keliru menerjemahkan istilah penting ini sebagai “uji agama” dan “sumpah ujian”. Dengan berlakunya sumpah agama, tak mungkin bagi umat Islam (juga penganut Katolik, Yahudi, dan non-Protestan lainnya) menduduki jabatan publik.

Sebagai anggota Dewan Perwakilan Virginia, Jefferson mengajukan Rancangan Undang-undang Kebebasan Beragama yang menggariskan “bahwa semua orang bebas memegang dan berargumen untuk mempertahankan pendapat mereka mengenai agama, dan hal serupa sama sekali tak akan mengurangi, memperbesar; atau berdampak pada kapasitas sipil mereka”.

Meski mendapat protes keras dari berbagai kelompok, Jefferson maju terus dan rancangan itu pun akhirnya disahkan pada 1786, yang menandai pemisahan tegas antara negara dan agama di Virginia.

Sebetulnya Konstitusi Amerika Serikat sudah menghapus sum­pah agama dan hanya mewajib­kan calon pejabat untuk meng- angkat sumpah atas Konstitusi, sebuah sumpah sipil. Namun hal itu dapat berlaku bila diratifikasi oleh sembilan dari 13 negara bagian. Perbedaan mengenai kemungkinan seorang muslim menjadi presiden pun berpindah ke masing-masing Negara bagian. Perbedaan itu panas, tapi pada akhirnya mereka menerima kemungkinan tersebut.

Buku Spellberg ini memang member tantangan yang menarik dalam menafsirkan pergulatan pemikiran para pendiri Negara Amerika Serikat mengenai toleransi beragama dan Islam. Sayangnya, banyak banyak bagian dari buku ini yang kurang tepat-terkadang hanya secara harfiah-sehingga uraian Spellberg menjadi sukar dipahami, bahkan bisa menyesatkan pembaca.

Cara Sederhana, Hasil Luar Biasa

Surel Cetak PDF

Resensi buku 59 Detik karya Richard Wiseman

Koran Sindo | Minggu, 7 Desember 2014 | Noval Maliki


Selama bertahun-tahun, para pakar pengembangan diri kerap menjelaskan sebuah penelitian tanpa memeriksa faktanya terlebih dahulu. Salah satu mitos, yang kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran, adalah bahwa dengan menekan pikiran-pikiran negatif dan membiasakan berpikir positif, dapat membuat seseorang menjadi bahagia.

Faktanya justru berbeda dengan yang dilaporkan penelitian ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa menekan pikiran- pikiran negatif justru bisa semakin menambah, bukan mengurangi, kesengsaraan. Eksperimen yang dilakukan para psikolog membuktikan kelompok orang yang berusaha menekan pikiran-pikiran negatif mereka justru semakin memikirkan pikiran sama.

Jika hal demikian yang terjadi, maka apa yang harus dilakukan seseorang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik termasuk hidup bahagia? buku berjudul lengkap 59 Detik yang Membuat Anda Menjadi Lebih Kreatif, Lebih Meyakinkan, Lebih Menarik, dan Lebih Bahagia ini mengupas sekaligus mendekonstruksi beragam mitos yang telah diperlakukan layaknya sebuah kebenaran dalam dunia self-help dengan kerangka berpikir ilmiah.

Kebahagiaan memang menjadi penting karena, sebagaimana hasil penelitian Sonja Lyubomirsky, kebahagiaan dapat membuat manusia menjadi lebih sosial dan peduli terhadap orang lain. Perasaan ini membuat mereka semakin menyukai diri mereka sendiri dan orang lain, meningkatkan kemampuan dalam mengatasi konflik dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Tetapi, berbeda dengan asumsi kebanyakan orang yang cenderung berpikir materialistis tentang korelasi kebahagiaan dengan banyaknya uang, Richard Wiseman, penulis buku ini justru menemukan bahwa mengungkapkan rasa syukur, membayangkan masa depan yang sempurna serta menulis hal-hal yang bersifat kasih terbukti ampuh dapat meningkatkan kebahagiaan seseorang, menurunkan tingkat stres, bahkan menurunkan kadar kolesterol secara signifikan.

Sedangkan, lingkungan yang dirasa nyaman ternyata, menurut hasil penelitian yang lain, mampu merangsang munculnya ideide yang lebih kreatif dan menarik bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Dengan kata lain, kreativitas manusia dapat ditumbuhkan dengan cara menciptakan kondisi yang lebih nyaman baginya.

Salah satu cara yang sederhana untuk membangkitkan munculnya pemikiran kreatif adalah dengan meletakkan tanaman dan bunga di dalam sebuah ruangan, dan, jika memungkinkan, pastikan jendela menghadap ke pepohonan dan rumput, bukan ke arah beton atau besi.

Namun, apabila kita tidak dapat menghadirkan unsur alam ke dalam lingkungan atau ruangan sekitar, maka pergi ke daerah hijau terdekat dapat menjadi solusi yang efektif. Dekorasi ruangan yang berwarna hijau juga terbukti mampu memancing pemikiran yang kreatif dan inovatif bagi orang di sekitarnya. Ratusan hasil studi yang berasal dari berbagai bidang ilmu perilaku dikumpulkan oleh Wiseman dalam satu buku setebal 428 halaman ini.

Kata-kata yang Membangkitkan Asa

Surel Cetak PDF

Resensi Sejuta Surat Cinta karya Jodi Ann Bickley

Harian Nasional | Minggu, 30 November 2014 | Lusiana Dewi


Barangkali hanya Peter Parker yang beruntung karena gigitan serangga. Dia kemudian bisa berubah menjadi manusia superhero, Spiderman, meskipun itu hanya cerita fiksi. Di dunia nyata, digigit serangga justru mustahil bisa mengubah seseorang menjadi superhero. Hal itu sebagaimana yang dialami oleh Jodi Ann Bickley yang terpapar dalam buku berjudul “One Million Lovely Letters”. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul buku “Sejuta Surat Cinta”.

Dalam buku tersebut, Jodi menuliskan memoar kehidupannya. Kehidupannya memang tidak bisa dibilang nyaman. Orangtuanya harus berpisah lantaran mereka bercerai. Sang ayah yang ugal-ugalan, tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, bahkan kepada Jodi sebagai anaknya. Kehidupan pun berjalan dengan suasana yang jauh dari posisi nyaman hingga Jodi berusia dewasa.

Singkat cerita, Jodi digigit oleh seekor binatang yang termasuk dalam jenis spesies serangga. Ya, Jodi digigit oleh serangga yang bernama tungau. Tungau merupakan jenis kutu kecil yang berwarna merah yang sering terdapat pada kulit ayam atau lain sebagainya. Tidak disangka bahwa gigitannya bisa membuat Jodi merasa hampir mati. Dokter pun memvonis bahwa Jodi mengidap infeksi otak akut akibat gigitan serangga bernama tungau tersebut. (hlm. 33).

Dalam sakitnya itu, hari-hari Jodi diisi dengan hal-hal yang membuatnya frustrasi. Dia tidak lagi bisa bekerja. Jangankan bekerja, berjalan saja susah. Salah satu kakinya tidak bisa digerakkan. Syaraf antara otak dan kaki kanannya bahkan tidak tersambung dengan baik sehingga ketika otak memerintahkannya berjalan, kakinya tidak bisa diajak berkompromi.

Hari-hari putus asa itulah yang membuatnya gemar menulis surat. Dia menulis surat untuk orang-orang yang berada di dalam kehidupannya. Dia menulis surat untuk ibunya, adiknya, pacarnya, mantan pacarnya, sahabatnya, dan orang-orang yang dikenalnya. Bahkan, perawat baik hati yang merawatnya di rumah sakit dan memberikan ketenangan pun masuk dalam objek suratnya.

Siapa yang menyangka bahwa surat-surat yang dia tulis dalam keadaan putus asa itu justru membuat dirinya termotivasi. Terlebih lagi, ada orang yang mengirim surat kepadanya atau orang yang membalas suratnya. Semangatnya pun bangkit. Hidupnya semakin menjadi berarti dengan itu .

Padahal, hari-harinya dilalui dengan rasa putus asa karena memang berat untuk ditanggung. Selain karena sakit akibat infeksi otak akut yang disebabkan oleh gigitan tungau tersebut, Jodi juga berasal dari keluarga yang bisa dikatakan tidak menyenangkan.

Jodi menganggap dirinya sebagai orang yang terbuka. Dia pun menganggap bahwa pada dasarnya semua orang itu baik. Jadi, ketika mereka tidak seperti yang diharapkan oleh Jodi, ketika orang mengatakan hal-hal yang melukai dan menindas, hal itu membuatnya rentan..

Kekuatan Jodi ketika itu memang bukan fisiknya. Akan tetapi, kata-kata yang dituangkannya dalam bentuk surat, sungguh menjadi keajaiban tersendiri yang memotivasi dirinya untuk bangkit dari berbagai hal yang membuatnya terpuruk, termasuk infeksi otak yang dideritanya.

Dengan motivasi dari sejumlah surat itu, Jodi melakukan gebrakan dalam hidupnya. Kekuatan pun muncul untuk menghidupkannya. Dia bangkit, dia menatap masa depan, dia meraih asa, dan dia akhirnya bisa berjalan secara normal.

Hidup, menurut Jodi, bisa benar-benar mematahkan hati. Kematian, penyakit, kekurangan uang, sebuah gigitan tungau—hidup tahu bagaimana melemparkan semuanya kepada kita. Namun, tidak ada yang lebih menakutkan daripada kekuatan pikiran kita sendiri. Tak seorang pun tahu ketakutan dan keraguan kita sebaik diri kita sendiri dan dihantui ketakutan serta keraguan itu membuat kita lebih berantakan dibandingkan hal lain. (hlm. 246).

Bangkit Lagi, Hitler Bernostalgia di Era Modern

Surel Cetak PDF

Resensi buku Hitler Bangkil Lagi karya Timur Vermes

Sayangi.com | Kamis, 18 September 2014 | Moh. Ilyas


Seorang sosok yang selama ini dikenal dengan kekejamannya, tiba-tiba hadir ke permukaan sebagai seorang romantis, yang hari-harinya diiringi dengan nostalgia masa lalu. Inilah yang terjadi pada Adolf Hitler dalam buku Hitler Bangkit Lagi ini.

Pada Musim Panas 2011, tepatnya di Kota Berlin, Jerman, Hitler tiba-tiba hidup lagi. Ia terdampar di sebidang tanah kosong. Ia tampak sehat. Namun segalanya telah berubah – tak ada Eva Braun, tak ada Nazi, tak ada perang. Hitler pun hampir tak mengenali tanah tercintanya yang penuh imigran dan dipimpin oleh seorang wanita.

Tak ada pikiran lain kala ia terbangun dari tidur panjangnya selama 65 tahun itu, melainkan hanya keheran-heranan. Ia melihat mobil yang lebih kecil dari yang dia lihat di masanya, namun terlihat lebih canggih. Ketika tatapan matanya mengarah pada rumah-rumah yang memiliki cat baru, dengan berbagai warna, tiba-tiba ia teringat pada gula-gula di masa kanak-kanak. Tak ada yang akrab dari lingkungan barunya tahun itu. Bahkan kepalanya pusing, mengingat semuanya terasa aneh, jauh dari jangakauan memori otaknya.

Begitu pun dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika ia mengaku bahwa dirinya adalah Hitler, tak ada yang membenarkannya. Ia mencoba memberanikan diri bertanya kepada seorang perempuan tua tentang jalan menuju istana Kanselir Reich? Tapi orang tua itu malah meletakkan telunjuk ke kepalanya, tidak mengerti apa yang ditanyakan Hitler.

Namun Hitler masih sedikit berbangga. Salam Nazi di Berlin masih tetap bertahan, meski sudah tidak banyak orang melakukannya. Salam Nazi yang dilakukan dengan cara mengangkat kedua tangan, membengkokkan jari telunjuk dan jari tengah bersama, kemudian menyentakkannya ke atas dan ke bawah dua kali, membuatnya berpikir:

"Aku nyaris tak bisa membuat diriku menerima bahwa setelah 66 tahun hanya ini yang tersisa dari salah satu penghormatan Nazi yang dulu kaku itu. Ini merupakan kejuatan yang sangat dahsyat, namun juga sebuah tanda bahwa pengaruh politikku tidaklah lenyap sama sekali dalam tahun-tahun ini."

Teguh Pendirian

Usai bangun dari tidur panjangnya, Hitler “diselamatkan” oleh seorang penjual koran. Bersama dia, Hitler mulai sedikit memahami tentang dunia baru, dunia modern yang masih asing dalam pikirannya, yang selalu terngiang-ngiang tentang masa masa lalunya.

Kepada tukang koran, Hitler berkali-kali mengaku bahwa dirinya adalah Adolf Hitler, sang pemimpin Nazi yang dikenal dengan kekejamannya. Tetapi berkali-kali pengakuan itu, berkali-kali pula Si Tukang Koran mengabaikannya. Hitler pun tidak mau menuruti keinginan tukang koran itu untuk menanggalkan pakaiannya yang sudah lusuh di badannya. Hitler teguh dengan pendiriannya dan menegaskan bahwa menanggalkan pakaian adalah pengkhianatan terhadap rakyat Jerman.

Ia berujar, “Haruskah aku mengingkari kehidupanku, pekerjaanku, rakyatku? Kau tak boleh memintaku melakukannya. Aku akan terus mengenakan seragam ini hingga tetes darah terakhir tumpah. Aku tidak akan, seperti yang dilakukan brutus kepada Casar, melakukan tindakan pengkhianatan yang menyedihkan. Aku tidak akan menikam dari belakang untuk kedua kalinya mereka yang telah memberikan nyawa mereka untuk pergerakan.

Meski pengakuan tentang identitas dirinya tak mendapatkan respon positif, namun hampir tak ada yang menampik dan menolak pikiran-pikiran bernasnya serta nostalgia tentang perang berikut strateginya dan tentang peristiwa di masa lalu. Pemikiran-pemikiran bernas itulah yang kemudian mengantarkannya tergabung dalam dunia pertelevisian.

Jika selama ini ia dikenal dengan revolusinya, meskipun menuai banyak kritik karena dilakukan dengan cara yang kejam, namun ia tetap berdiri tegak dalam pendiriannya. Ia tetap mengumandangkan bahwa Ini Jerman membutuhkan perubahan. Jerman membutuhkan sebuah revolusi. Ia memulai ide ini dengan meletakkan jiwa tanggung jawab dalam diri tiap individu di Jerman, selain pula kekuatan. Ia menegaskan perlunya sebuah kepemimpinan yang mengambil keputusan dan mempertahankannya dengan jiwa dan raga, dengan segalanya.

Jika kalian ingin menyerang Rusia, kalian tidak bisa mengatakan, sebagaimana yang akan dikatakan kolega kalian: sebenarnya, kami semua memutuskan ini bersama-sama.” Jiwa tanggung jawab ini yang dikampanyekan oleh Hitler bersama tim yang kelak menjadikannya sebagai sosok populer melalui media televisi bahkan hingga youtube. Tidak hanya itu, baginya juga tidak ada yang lebih berbahaya bagi sebuah gerakan baru selain keberhasilan yang terlalu pesat.

Dalam perjalanan selanjutnya, ia menjadi populer dan menjadi perbincangan, termasuk bintang Youtube. Ia tampil di berbagai televisi dan komentar-komentarnya selalu ditunggu. Ia pun mampu meyakinkan banyak orang terhadap argumentasi-argumentasi dan pemikiran-pemikirannya, tapi tidak dengan identitasnya. Seribu kali dia mengaku Hitler, seribu kali juga penolakan atas pengakuan itu muncul. Tapi bukan Hitler namanya jika menyerah begitu saja. Ia tetap berusaha meyakinkan semua orang bahwa sosok yang hidup lagi itu benar-benar dia, Hitler.

Buku yang memiliki judul asli “Look Who’s Back” ini kaya sejarah, terutama yang bertalian dengan pengalaman dan pengetahuan sang Fuhrer, Hitler. Mulai dari soal musuh-musuh politiknya, pembantaian terhadap Yahudi, hingga strategi perang yang dituturkannya kepada khalayak, melalui televisi.

Kelebihan buku ini terletak pada bagaimana kekuatan imaji penulis dalam menampilkan sosok Hitler di era modern. Keterlibatan Hitler dalam kehidupan sehari-hari di era modern digambarkan seolah-olah begitu nyata terjadi. Penulis buku ini mampu menyandingkan Hitler yang kaya dengan kisah masa lalu, dengan dunia kemodernan yang serba canggih saat ini. Sinergitas kisah masa lalu dan hari ini menjadi nilai plus tersendiri. Kita yang menyukai tema-tema soal kepemimpinan, strategi perang maupun kondisi Jerman di bawah kendali Hitler, layak membaca buku ini. Selamat Membaca!

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL