You are here Info Buku

Resensi Buku

Menjelajahi Sejarah Prancis

Surel Cetak PDF

Resensi Paris: Sejarah yang Tersembunyi karya Andrew Hussey

Koran Sindo | Minggu, 13 April 2014 | Noval Maliki

 

Keanggunan arsitektur kota, keelokan para perempuannya, serta kehidupan gemerlap para bangsawan, demikian citra dan ilusi yang ditimbulkan Paris. Akan tetapi, ilusi paling kuat yang diciptakan oleh ibu kota Prancis ini adalah sejarahnya.

Setidaknya demikian menurut buku berjudul Paris; Sejarah yang Tersembunyi ini. Ditulis oleh Andrew Hussey, buku ini berusaha memaparkan kisah Paris dari sudut pandang “kelas-kelas berbahaya”, sebuah istilah yang digunakan para se-jarawan Prancis untuk mendes-kripsikan unsur-unsur margi-nal dan subversif di kota ini yang catatan pengalamannya bertentangan dengan sejarah resmi.

Paris boleh saja dianggap sebagai ibukota dunia bagi politik, agama, dan kebudayaan. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah kota Paris sebagian besar ditempa oleh kesulitan hidup yang dialami para penduduknya atau petites gens(rakyat jelata). Paris merupakan kota yang menjadi tempat revolusi rakyat, terutama setelah mengalami konflik berdarah selama berabad-abad. Berasal dari nama sebuah suku di tepi Sungai Seine yang tiba di wilayah ini satu milenia setelah orang Afrika Utara, kaum Parisii adalah pedagang ulung.

Mereka selalu menghubungkan kesadaran komersial (commercial nous) dengan persepsi yang selalu muncul dari dunia lain. Menghuni sebuah kawasan yang pada zaman dulu dikenal sebagai daerah Lutetia, mereka dikenal hampir tidak memiliki rasa takut terhadap dunia fisik. Namun, mereka juga merasakan kekhawatiran kolektif kuat tentang akhir dunia, bahwa langit akan secara harfiah akan runtuh menimpa kepala mereka. Nama Lutetia hanya bertahan selama beberapa ratus tahun.

Kota ini berubah nama menjadi Paris pada masa kekuasaan Julian, seorang komandan pasukan Romawi, yang menggantinya dengan Civitas Parisiorum, yang berarti kota suku Parisii. Sedangkan nama France (Prancis), pertama kali dicetuskan oleh Clovis, pemimpin suku barbar Frank yang berakar di Jerman Barat. Clovis merupakan seorang pembunuh dan bandit.

Setelah menguasai Lutetia, ia memproklamasikan bahwa semua orang Frank adalah manusia merdeka dan semua manusia merdeka adalah orang Frank. Sejak saat itu, istilah ‘Frank’ tidak hanya dikaitkan dengan Francia, yang secara perlahan menjadi France, namun juga dengan gagasan menjadi “manusia merdeka”. (Halaman 12-30) Kaum Frank memerintah Prancis selama hampir dua abad. Berbagai gejolak politik, peperangan dan penjarahan silih berganti menghiasi harihari Paris.

Akan tetapi, Stereotipe karakter parigot Parisian atau orang-orang Paris tetap lebih sering menampilkan sosoksosok yang secara konsisten melawan pemerintah suatu negara. Bukanlah kebetulan bahwa kata “Parisian” sudah lama disamakan dengan kata agitator, atau penghasut. Identitas lain yang melekat pada Paris adalah medan peminum minuman keras. Pada paruh abad ke-17, hampir semua jalan di kota memiliki paling sedikit dua atau tiga kedai minum dengan berbagai kualitas dan harga. Tidak mengherankan jika penyair Francois Villon menyebut kota ini “parouarts”, sebuah kata sandi bagi kedai minum dan rumah pelacuran bawah tanah. (Halaman 211) Dekade 1990-an dalam banyak hal menjadi dekade yang sulit bagi Parisian.

Pada Desember 1995, di bawah bayangan seorang presiden yang sekarat dan rasa terombang-ambing, setelah kekacauan dan kekerasan tingkat rendah yang sporadis, Paris seperti kota hantu; sebagian besar jalanan kosong, kecuali sejumlah kecil turis. Bahkan sekarang, para komentator budaya biasanya menyebut tahun 1994 dan 1995 sebagai “tahun-tahun hitam” saat identitas Paris menghadapi bahaya serius yaitu tenggelam di bawah serangkaian krisis lainnya. (Halaman 548)

Memang benar bahwa cinta adalah hal utama bagi mitos dan realitas Paris, tetapi demikian pula halnya dengan makanan, pakaian, agama, uang, perang, dan seks. Bahkan ketika teror dan kekerasan mendominasi jalanan, seks dan cinta masih menjadi pusat dari etos dan mitologi Paris. Gairah, pertumpahan darah, glamor, dan fanatisme selalu menjadi bagian integral kehidupansehari- haridikotakunoini. Gaya hidup baru, perpolitikan baru, kekerasan dan kesenangan dalam bentuk baru, sedang membentuk kota abad ke-21.

Dengan semangat demikian, buku setebal 591 halaman ini disuguhkan dalam bentuk sebuah perjalanan dari bar, tempat pelacuran dan ruang belakang, ke permukiman-permukiman miskin di pinggir kota serta salon elegan dan pusat kekuasaan, sambil selalu menginterogasi, membedah atau hanya digoda oleh mitosmitos Paris yang memukau sekaligus penuh paradoks. Beragam data dan referensi disodorkan penulisnya, sehingga karya ini merupakan hasil riset yang serius dan mengesankan.

Sebuah buku sejarah yang dapat digunakan sebagai penerjemah, pemandu dan teman bicara bagi siapa saja yang membacanya. Terentangselamaduaributahun, mulai dari era prasejarah hingga era Zinedine Zidane.

Ketika Perempuan Pilih Melajang

Surel Cetak PDF

Resensi buku The Single Woman karya Mandy Hale

Harian Nasional | Minggu, 6 April 2014 | Nursodik El Hadee

 

Banyak yang beranggapan miring pada status single,khususnya bagi perempuan yang dinilai kelewat umur. Julukan “perawan tua” pun kerap mampir kepadanya. Namun, buku The Single Woman karya Mandy ini berusaha membuktikan bahwa tidak semua wanita single itu identik dengan stigma negatif.

Melalui catatan pribadinya selama melajang, Mandy berbagi cerita, saran dan antusiasme seorang wanita untuk menghentikan siasat pikiran bahwa tidak semua wanita harus menikmati matahari terbenam bersama seorang pria, maksudnya tidak melulu memikirkan pria sebagai penopang kehidupan. Dalam kamus hidup Mandy mengatakan, kita tidak membutuhkan pasangan yang hebat, tampan untuk memiliki kehidupan yang hebat. (hal 10)

Bagi seorang aktivis twitter, Hale gencar menyiarkan persoalan Wanita Lajang dimata publik. Menurut dia, hidup melajang merupakan sebuah pilihan bukan derita. Yakni, pilihan untuk menjalani hidup sendirian, pilihan untuk fokus berkarier serta komitmen menapaki kehidupan tanpa pendamping (Single).

Setiap perempuan, demikian Hale memiliki prinsip hidup masing-masing, ada wanita yang tidak bisa hidup tanpa sosok pria disampingnya, ada juga wanita yang penuh daya, tangguh, percaya diri mampu mengatasi problem diri dan kehidupannya, walaupun harus menantang status quo. Yang berarti berjalan sedikit lebih jauh, berjuang sedikit lebih keras, dan menggapai sedikit lebih tinggi serta merelakan demi melangkah lebih maju.

Dalam buku ini, pertanyaan demi pertanyaan Hale begitu persuasive, seakan menginginkan semua wanita lajang untuk melupakan pria, yang secara kebutuhan sudah tidak diperlukan lagi, karena semua kebutuhan financial, seperti membayar semua tagihan pajak, listrik, dan lain-lainnya sudah terpenuhi.

Mengakhiri catatannya, Hale mengatakan dalam menjalani kehidupan, kita melihat sebuah dunia dengan opsi atau pilihan. Apa pun yang diajarkan oleh dunia kepada kita, seberapa jauh anda melangkah yang terpenting adalah keberanian demi akhir yang bahagia.

Selebihnya, membaca buku wanita lajang ini begitu menginspirasi hati, pikiran dan jiwa-jiwa yang terluka berubah menjadi kearifan. Beragam cobaan hidup yang dirasakan sebagai derita berubah menjadi sesuatu yang berharga. Buku ini juga mengajak pembaca memasuki alam pikiran penulis agar jangan bersedih dengan status melajang , jika memang itu pilihan untuk untuk bangkit dari keterpurukan menuju kebahagiaan.

Jembatan Perdamaian Kristen-Islam

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan karya Paul Moses

Jawa Pos | Minggu, 30 Maret 2014 | Nur Mursidi

 

SETIAP perang yang berkecamuk, sejarah selalu mencatat duka dan penderitaan panjang yang membekas--hingga tahun-tahun mendatang. Tak terkecuali Perang Salib yang telah berlangsung ratusan tahun lalu. Tetapi selalu ada "sosok heroik" yang mampu mewarnai tragedi kelam itu dengan memercikkan teladan yang layak direnungi karena kiprah dan perjuangan yang dilakukan dengan luar biasa. Sosok heroik dalam Perang Salib V itu, bisa disebutkan, salah satunya adalah Santo Fransiskus. Sekalipun Kardinal Pelagius, pemimpin pasukan Kristen sudah memperingatkan biarawan bertubuh ringkih itu agar tidak menempuh perjalanan sia-sia, dan bodoh, dia tetap nekat.

St. Fransiskus seperti tidak takut akan mati. Biarawan dari Assisi itu nekat menyeberangi sungai untuk menemui Sultan Malik al-Kamil. Tujuannya hanya dua; menawarkan perdamaian dan minta sultan memeluk Kristen. Meskipun khotbah dan perundingan yang dilakukan itu bisa dikata gagal tapi misi yang dilakukan itu mulia; merajut perdamaian antara Kristen dan Islam. Sayang, cerita heroik St. Fransiskus dalam membangun jembatan perdamaian itu --seiring perjalanan sejarah-- seperti ditutup-tutupi.

Buku Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib ini, berusaha menyibak kabut gelap itu. Paul Moses menelusuri setumpuk data, dokumentasi, dan ratusan cerita seputar Perang Salib V dan perihal diplomasi damai antara St. Fransiskus dan Sultan. Karena, bagi penulis --yang memperoleh gelar Master Fine Arts di Inggris dari University of Fine Arts di Inggris dari University of Massachusetts di Amherst dan tinggal di Brooklyn, NY ini- misi mulia yang diperjuangkan oleh St Fransiskus telah mengalami "setumpuk" distorsi. Dari sebuah pertemuan yang penuh perdamaian menjadi sebuah benturan peradaban yang diwarnai kekerasan (hal. 168).

St Fransiskus memiliki masa lalu yang kelam dalam perang dan hal itu meninggalkan trauma. Saat masih muda, dia pernah ikut terlibat pertempuran sengit antara Assisi (kota kediamannya) dengan kota tetangganya, Perugia. Assisi kalah, dan hal itu berakibat buruk bagi St. Fransiskus. Dia diseret dari hutan, menyebrangi sungai dan mendaki ke bukit Perugia, dan dijebloskan ke dalam penjara kurang lebih selama satu tahun. Setelah itu, dia melakukan pertobatan dan permenungan. Dia pun seiring waktu kemudian mengalami kebangkitan spiritual (hal 18-20). Bahkan, dia setelah itu memulai hidup baru sebagai seorang santo.

Wajar, dari pengalaman tragis dan permenungan itu, dia kemudian menentang perang, termasuk Perang Salib. Maka, ketika perang Salib V berlangsung, ia memutuskan pergi ke Mesir. Ia diperkirakan pergi ke Mesir menumpang kapal Perang Salib setelah pertempuran 31 Juli 1219. Saat melihat secara langsung mayat-mayat bergelimpangan sepanjang perjalanan menuju benteng pasukan Kristen, hati St Fransiskus serasa sedih. Sebenarnya pemimpin pasukan muslim, Sultan Malik telah menawarkan kesepakatan damai terkait pengembalikan Yerusalem. Tapi Kardinal Pelagius -yang memegang kendali pasukan Kristen- keras kepala. Sekali pun bala bantuan dari Kaisar Frederick II tak kunjung datang, Pelagius tetap tak mau kesepakatan damai yang ditawarkan Sultan itu, dan bersikeras ingin menundukkan seluruh Mesir (137-138).

St Fransiskus diambang dilema. Pada satu sisi, dia tak mau menentang otoritas gereja yang diwakili oleh Peligus, tapi ia merasa harus mengukuti hati nuraninya. Ia akhirnya memilih bisikan hati; kemudian mengajak Illuminatus menempuh perjalanan penuh mara bahaya bahkan bisa disebut ingin mati karena memutuskan menemui Sultan Malik. Tetapi, itulah yang harus dilakukan. Dia hanya ingin menjalin tali kasih dan membangun jembatan "perdamaian" Kristen-Islam.

Dengan berupaya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam dialog perdamaian antara Frassiskus dan Sultan Malim, dan seputar peristiwa yang melatarbelakangi perang Salib V dan juga ditambah dengan mengisahkan kehidupan dua tokoh sentral dalam buku ini, yakni Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil, penulis ingin menjadi peristiwa heroik itu sebagai teladan untuk membangun konteks yang lebih luas; menjalin hubungan harmonis antara Kristen-Islam.

Penulis ingin upaya St Fransiskus untuk campur tangan dalam Perang Salib Kelima menjadi satu teladan dalam "menjalin" hubungan baik antara Kristen dan Islam tidak saja dalam membingkai sejarah Perang Salib, tetapi juga bagaimana membangun tali kasih dan hubungan yang lebih baik ke depan nantinya. Apalagi setelah tragedi 11 September 2001 yang meluluhkan gedung kembar WTC, harus diakui telah melahirkan benturan perabadan baru antara Kristen dan Islam radikal. Penulis berharap besar, sosok St Fransiskus menjadi teladan bagi umat Kristen. Sebeliknya, Sultan Malik menjadi teladan umat Islam untuk membangun kesepakatan damai antara Kristen dan Islam.

Sebab, dari pertemuan penting antara St Fransiskus dan Sultan itu, jika direnungkan, bisa membuka cakrawala baru bagi umat Kristen dan Islam. Kisah dua orang juru damai itu telah memberi "inspirasi" bagi umat Kristen dan Islam di seluruh dunia bahwa jalan damai adalah jalan yang terbaik daripada memandang umat lain penuh kecurigaan dan kebencian. Untuk tujuan itulah, Paul MOses merasa perlu menceritakan kisah St Fransiskus dan Sultan Malik lewat buku ini. Ia berupaya menulis episode sejarah yang ditutup-tutupi, dan mengajak merenung untuk membangun perdamaian melalui dialog agama --bukan lewat peperangan.

Perjalanan Panjang Teks Al-Qur’an

Surel Cetak PDF

Resensi Rekonstruksi Sejarah al-Quran karya Taufik Adnan Amal

Harianbhirawa.co.id | Jumat, 28 Maret 2014 | Fatmawati Ningsih

 

Setiap kitab suci agama mempunyai sejarah masing-masing. Sejak awal kemunculannya hingga kini selalu menarik untuk dikaji. Kitab suci selalu mendapat tempat tertinggi di hati pemeluknya karena di samping ajaran Nabi, juga diyakini sebagai wahyu Tuhan dalam bentuk verbal.

Al-Qur’an kitab suci agama Islam diyakini pemeluknya sebagai Kalam Allah, ucapan Allah. Keyakinan ini tidak begitu saja diterima pihak oposisi. Pada zaman Nabi Muhammad, orang kafir menuduh Muhammad memperoleh wahyu dari bisikan ruh-ruh jahat. Sebagian lagi beranggapan al-Qur’an hanyalah dongeng dari orang-orang terdahulu yang dipelajari Muhammad.

Dewasa ini, kajian tentang al-Qur’an tak luput dari penelitian sarjana Barat. Sama halnya oposan era Nabi, orientalis modern dari kalangan Yahudi seperti Abraham Geiger memusatkan perhatian pada anasir Yahudi dalam al-Qur’an. Dalam penelitiannya, Geiger sampai kepada kesimpulan bahwa seluruh ajaran Muhammad yang tertuang di dalam al-Qur’an sejak semula telah menunjukkan sendiri asal usul Yahudiyahnya.

Sementara para sarjana Kristen juga melakukan upaya senada. Karl Friedrich Gerock berusaha membuktikan al-Qur’an tidak lebih dari gema sumbang tradisi Kristiani. Berbeda dari orientalis Yahudi dan Kristen, umat Muslim justru meyakini seluruh kitab suci baik Injil, Taurat dan al-Qur’an bersumber dari Allah. Para Nabi diutus untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya, namun risalah mereka tetap bersifat universal.

Al-Qur’an merupakan kitab suci paling mapan dan konsisten setelah diresmikan unifikasi bacaan sebagai standar al-Qur’an umat muslim pada pemerintahan khalifah Usman bin ‘Affan. Meskipun mengalami problematika dan gejolak pada awal pengumpulannya, pada akhirnya umat Islam di seluruh penjuru dunia memegang satu mushaf yang sama dan tak seorangpun mempunyai otoritas mengubah satu kata bahkan satu huruf dari kitab tersebut.

Taufik Adnan Amal, penulis buku ini berusaha merekonstruksi sejarah pengumpulan al-Qur’an dari masa Nabi hingga stabilisasi teks dan bacaan meliputi penyempurnaan ortografi al-Qur’an. Taufik setidaknya membagi dua cara pengumpulan al-Qur’an di masa Nabi Muhammad. Pertama, pemeliharan hafalan oleh Nabi dan sahabat. Kedua, perekaman dalam bentuk tertulis. (Halaman 142-143)

Dalam tulis menulis wahyu, Nabi memprintahkan beberapa sekertaris untuk mencatatnya. Meskipun masyarakat pada waktu itu mendapat julukan Jahiliyah, yang diartikan sementara sejarawan kaum bodoh, tidak mengenal baca tulis, faktanya mereka sudah akrab dunia administrasi. Terbukti bangsa Arab pandai dalam urusan perniagaan. Al-Qur’an merekam masalah hutang piutang agar supaya diantara keduanya mencatat dan disaksikan dua orang laki-laki.

Penulis menyangkal pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa pengumpulan al-Qur’an dilakukan setelah wafatnya Nabi. Teori paling populer di kalangan ortodoksi Islam menyatakan pengumpulan pertama pada masa khalifah Abu Bakar. Cerita paling masyhur yaitu Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit merekam jejak al-Qur’an atas desakan Umar bin Khattab. Kegelisahan Umar atas gugurnya sahabat-sahabat penghafal al-Qur’an pada perang Yamamah mendorong gagasan intelektual pengumpulan al-Qur’an. (Halaman 157)

Taufik Adnan Amal tidak menyangkal bahwa Nabi dipastikan tidak meninggalkan kodeks al-Qur’an dalam bentuk lengkap. Akan tetapi, terdapat upaya sadar dan serius di zaman Nabi dari kalangan sahabat untuk memelihara wahyu-wahyu dalam bentuk tertulis. Tidak hanya sekertaris yang ditunjuk Nabi untuk medokumentasikan, tetapi banyak sahabat yang sukarela mencatat wahyu secara pribadi. Sebab itu, belakangan timbul variae lectiones, yaitu keragaman bacaan al-Qur’an yang kemudian pada masa pemerintahan Usman bin ‘Affan dimusnahkan dan diseragamkan demi persatuan umat.

Salah satu sebab yang melatarbelakangi munculnya variae lectiones adalah ketidaksempurnaan aksara arab, yakni screptio devectiva, yang tidak memiliki tanda-tanda vokal dan titik diakritis pembeda konsonan berlambang sama.(Halaman 329)

Pada mulanya, Usman mengirim salinan mushaf ke tiap wilayah dalam screptio devectiva. Masyarakat daerah tersebut tetap mengikuti bacaan yang mereka pelajari dari sahabat tertentu. Dari sinilah tumbuh para qurra’ yang terkenal ulama Qira’ah Sab’ah.

Usman selalu berusaha mengupayakan standarisasi teks al-Qur’an, yang dalam kenyataannya juga mengarah unifikasi bacaan meskipun pemusnahan teks non usmaniy harus dilakukan. Pada tataran praxis, teks utsmani berhasil memapankan diri sebagai textus receptus, yaitu satu-satunya teks al-Qur’an yang disepakati.

Buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an karya Taufik Adnan Amal ini sangat lengkap dalam memaparkan sejarah al-Qur’an. Ia mempertemukan tiga arus keilmuan, yaitu tradisi Barat, Timur Tengah dan ranah keilmuan Indonesia. Didasarkan pada riset ilmiah, buku ini berhasil mengungkapkan perjalanan panjang teks al-Qur’an dan perjumpaannya dengan para analis Islam maupun orientalis Barat.

Sang Juru Damai Perang Salib

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan karya paul Moses

Riau Pos | Minggu, 2 Maret 2014 | Abdul Aziz Musaihi

 

Pada tahun 1219, ketika perang salib kelima berlangsung, Fransiskus dari Assisi menyeberangi garis pasukan Muslim untuk menemui Sultan Malik al-Kamil di kampnya di tepi sungai Nil. Fransiskus sudah mendambakan pertemuannya dengan  seorang pemimpin Islam itu kurang lebih lamanya tujuh tahun dan menempuh perjalanan yang sangat berbahaya.

Pemimpin pasukan Kristen, Kardinal Pelagius sendiri telah memperingatkan biarawan dari Assisi tersebut bahwa melintasi medan pertempuran antara dua pasukan guna menemui Sultan Malik al-Kamil sama halnya dengan bunuh diri di medan musuh. Selain itu, Fransiskus juga diberi tahu Kardinal bahwa sang Sultan seorang tiran kejam yang mungkin akan menyiksa dan menghukum mati jika dia dicurigai sebagai mata-mata.

Fransiskus yang tidak asing lagi dengan kekejaman kemanusiaan dalam peperangan, tahu betul akan penyiksaan dan hukuman mati yang dilakukan sang Sultan pada dirinya. Namun, Fransiskus bersi kukuh untuk tetap menemui sang Sultan dan tidak akan gentar dengan peringatan Kardinal.

Sesampainya Fransiskus di perkemahan Pasukan Muslim, ia ditangkap dan diperlakukan dengan kasar oleh pasukan Muslim, kemudian Fransiskus dihadirkan di hadapan Sultan. Cukup mengherankan bagi sang Sultan, bahwa orang Kristen tanpa senjata ini berani memasuki kamp pasukan Muslim yang menjadi musuh bebuyutannya.

Sang Sultan pun mengira bahwa barangkali orang Frank, sebutan orang Islam terhadap tentara Salib, mengirim dia ke kampnya untuk membawa balasan surat terbarunya kepada Sultan. Namun faktanya tidak demikian, kedatangan Fransiskus ke kampnya cukup mengejutkan Sultan, bahwa ia bertemu dengan Sultan justru ingin menawarkan perdamaian. Sebuah pertemuan yang memunculkan gagasan revolusioner di kalangan umat Kristen.

Sejalan dengan sang Sultan yang sangat menginginkan adanya kesepakatan yang akan mengakhiri pengepungan pasukan Kristen terhadap Damietta sebuah kota di muara sungai Nil. Di tengah peperangan, Santo Fransiskus dan sultan Malik al-Kamil menemukan landasan bersama dalam pertemuan mereka pada tahun 1219 di luar kota Damietta Mesir yang sedang terkepung.

Pada saat itu, perang salib telah berkecamuk selama lebih dari satu abad. Pasukan Kristen merebut Yerusalem dari pasukan Muslim pada 1099, tetapi mengalami pukulan telak ketika pejuang hebat Salahudin mengambil alih kembali kota suci itu delapan puluh delapan tahun kemudian. Dalam dekade berikutnya, paus demi paus meluncurkan satu per satu upaya militer yang gagal untuk merebut kembali wilayah di tanah suci tersebut. Perang antar agama pun terus berlangsung selama berabad-abad saat pasukan Kristen berjuang melawan pasukan Islam di Eropa.

Inilah kisah tentang bagaimana seorang biarawan berusaha dengan caranya sendiri untuk menghentikan siklus kekerasan perang salib. Sultan yang tak lain keponakan Salahudin, jelas kagum dengan biarawan kharismatik ini yang berani menyeberang ke perkemahannya. Fransiskus salah satu Santo Kristen terbesar tergugah oleh pengalaman tersebut dan menjadi sangat terkesan dengan spiritualitas Islam. Dengan sebuah pertemuan yang revolusioner pada masanya, dia mendesak agar para brudernya hidup damai di tengah umat Islam. Pertemuan kedua kesatria ini sebagai cikal bakal dialog perdamaian antara umat Kristen dan umat Islam.

Melalui buku ini, Paul Moses akan mengungkap informasi yang tidak banyak diketahui perihal diplomasi damai antara sang Santo dan sang Sultan. Paul Moses yang juga seorang jurnalis dengan gaya bahasa khas redaksi, mengatakan bahwa kisah kebenaran tentang pertemuan Fransiskus dengan Sultan dalam perang salib telah lama ditutup-tutupi dalam sejarah.

Hal ini disebabkan Biografi-biografi penting mengenai Fransiskus ditulis di bawah pengaruh para paus abad pertengahan. Para penulis biografi Fransiskus tidak bisa mencatatkan cerita yang sebenarnya yang terjadi di Damietta. Mereka menganggap bahwa Fransiskus bertentangan dengan perang salib yang menjalankan sebuah misi perdamaian.

Masalah utama yang dihadapi dalam upaya untuk memulihkan Fransiskus yang sesuai sejarah adalah bahwa dokumen-dokumen abad pertengahan ini, betapapun rinci dan informasinya tidak bisa dipercaya begitu saja sebagai nilai sejarah. Tujuan penulisan dokumen-dokumen tersebut hanya menggambarkan kesucian Fransiskus, bukan untuk memberikan sejarah nyata akan kehidupannya. Bagi Paul Moses, hal itu perlu adanya usaha untuk mendekati materi-materi tentang Fransiskus dengan cara-cara orang jurnalis investigasi, yaitu mencari agenda-agenda tertentu.

Di sinilah Paul Moses menelusuri kisah nyata Fransiskus dengan menyatukan bukti-bikti lain dari kehidupan awal sang Santo. Kebenaran tentang pengabdian Fransiskus terhadap perdamaian yang samar-samar terlihat dalam sebuah catatan awal kehidupan sang Santo yang disembunyikan dalam sebuah biografi yang ditulis oleh seorang teolog besar abad pertengahan.

Selama bertahun-tahun, cerita Fransiskus hanya samar-samar terdengar. Buku ini akan mengungkap informasi pertemuan sang Santo Fransiskus dengan sang Sultan al-Kamil yang tersembunyi dibalik perang salib dalam perjalanan santo menemui Sultan untuk menawarkan perdamaian anatara umat Kristen dan Islam.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL