You are here Info Buku

Resensi Buku

Belajar Tegas dengan Berkata "Tidak"

Surel Cetak PDF

Resensi buku The Power of No karya James Altucher dan Claudia Azula Altucher

Wasathon.com | Senin, 20 April 2015 | Al Mahfud

 

Tak banyak orang berani mengatakan “tidak”. Orang cenderung menerima apa yang ada di hadapannya, dan mencoba menyesuaikan diri. James dan Claudia lewat bukunya The Power of No menguak apa saja hal-hal positif yang didapat dengan berkata “tidak”.

Berkata “tidak” di sini bermakna berfikir dan bertindak kritis terhadap apa saja yang datang dan kita alami dalam kehidupan, untuk kemudian tak ragu mengatakan “tidak”. Tidak begitu saja larut dengan tawaran dan berbagai hal yang datang pada diri, tanpa bisa membuat pilihan secara mandiri. Dari sini, seseorang pelan-pelan akan memahami pengaruh eksistensinya bagi lingkungan sekitarnya.

Sebuah buku motivasi hanya akan menjadi motivasi belaka jika tidak dipraktikkan. Kata-kata sedahsyat apapun tak akan banyak merubah seseorang jika hanya didengarkan dan dipikirkan, tanpa kesadaran mempraktikkannya. Hal itu pula yang disadari James. Ia membuat panduan di awal pembahasan. Pembaca diberi peringatan yang berbunyi; (a) membaca buku ini adalah bagus, (b) memikirkanya setelah itu 100 kali lebih bagus, dan (c) mempraktikkan apa yang dikatakan 100.000 kali lebih bagus (hlm 15).

Berfikir kritis dalam menyikapi aturan itu penting. Kita hidup dalam berbagai aturan yang sudah ada, sedangkan tak banyak orang yang berani merubah aturan yang seakan-akan sudah “mapan” itu. Padahal, persoalan hidup terus berubah dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dalam lingkup pekerjaan misalnya, sebuah perusahaan akan sulit  mengalami kemajuan tanpa sikap kritis orang-orang di dalamnya dalam menyikapi aturan perusahaan itu sendiri.

Berkata “tidak” juga penting untuk melawan penindas. Orang-orang yang gemar membuat kita merasa bersalah, takut, dan gemar mengalihkan orang lain untuk melawan kita, adalah ciri-ciri penindas. Terhadap mereka, kita mesti tegas terhadap diri kita sendiri dengan tidak membiarakan diri larut dalam tekanan. Harus ada batasan jelas, mana yang hak dan mana yang merupakan kewajiban kita, agar kita tidak terbelenggu dalam kungkungan orang-orang bermental penindas (hlm 134-135).

Pelajaran bagi Pemimpin

Apa yang telah diulas dalam buku ini, pada intinya mengajarkan untuk tegas pada diri sendiri,--menghargai diri sendiri. The Powet of No berbicara tentang bagaimana membangun kekuatan diri dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Bagaimana menjadi pribadi yang kuat dan berpengaruh bagi lingkungan, bukan sebaliknya; hanyut begitu saja dalam lingkungan sekitar.

Hal ini cocok diaplikasikan dalam konteks kepemimpinan. Independensi seorang pemimpin penting demi menjaga kepercayaan orang-orang yang dipimpin. Sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan yang tidak memiliki ketegasan, tak akan berdiri tegak. Ia akan terus dirongrong berbagai masalah yang datang dari banyak pihak yang sarat dengan berbagai kepentingan. Ini jelas adalah risiko atas sebuah ketidaktegasan dalam menyikapi berbagai hal. Oleh karenanya, seorang pemimpin harus belajar dari kata “tidak” untuk memahami pentingnya sebuah ketegasan.

Hidup Bahagia, Mati Pun Bahagia

Surel Cetak PDF

Resensi buku 5 Rahasia Yang Harus Anda Temukan Sebelum Meninggal karya John Izzo

Kilas Fakta | Kamis, 2 April 2015 | Ratna Andi Irawan

Buku bertajuk 5 Rahasia Yang Harus Anda Temukan Sebelum Meninggal karya Dr. John Izzo ini juga memiliki semangat yang sama dengan buku di atas. Secara meyakinkan penulis memberikan 5 rahasia penting agar kita dapat hidup bahagia dan mati pun bahagia. Rahasia pertama, menjadi diri sendiri, jangan menjadi orang lain. Karena setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing yang telah ditentukan Tuhan.

Rahasia kedua, jangan menyesali apa yang sudah terjadi, berani melangkah, bukan lari dari apa yang kita takutkan, dan menyimpan kekecewaan ketika mengalami kegagalan. Rahasia ketiga, mencintai diri sendiri, orang-orang dekat, dan cinta di dalam setiap interaksi kita. Rahasia keempat, menikmati setiap waktu dan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Rahasia kelima, lebih banyak memberi dari pada menerima, tidak memikirkan diri sendiri, tapi bagaimana kita dapat memikirkan orang lain dan memberikan kemanfaatan sebanyak-banyaknya kepada mereka.

Buku ini sangat penting bagi siapapun yang ingin dipandu menuju kebahagiaan hidup di dunia dan ketika telah mati.

Menemukan Makna Hidup Sebelum Meninggal

Surel Cetak PDF

Resensi buku 5 Rahasia yang Harus Anda Temukan Sebelum Meninggal karya Dr John Izzo

Harian Analisa | Rabu 11 Maret 2015  | Al Mahfud

 

Telah sama-sama kita ketahui bahwa hidup hanyalah sementara. Bahkan, ada istilah bahwa hidup ini sekadar mampir ngombe (mampir minum). Ini begitu mengisyaratkan bahwa hidup begitu singkat, tak akan selamanya. Karena itu, orang harus benar-benar memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya ketika masih di dunia sebelum ajal menjemputnya. Umur yang tidak bisa ditebak, menjadikan kita sebisa mungkin memanfaatkan tahun demi tahun, bulan demi bulan, dan hari demi hari dengan baik. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apa saja hal-hal yang perlu kita ketahui dan kita lakukan ketika masih hidup di dunia?

Dr John Izzo lewat buku berjudul 5 Rahasia yang Harus Anda Temukan Sebelum Meninggal hadir menjawab hal tersebut. Tidak berlebihan ketika penulis memilih kata “rahasia” sebagai judul buku. Karena dari ulasan di dalamnya, terlihat bahwa apa yang dikatakan sebagai sesuatu yang rahasia itu benar-benar ada dan perlu diketahui.

Metode penulis dalam menggali keterangan atau data terkait hal-hal yang menjadi “rahasia” tersebut dengan melakukan wawancara dengan ratusan orang. Orang-orang tersebut tidak sembarang orang, melainkan orang-orang yang telah menghabiskan sebagian besar umurnya dan telah merasakan kebahagiaan dalam hidup. Metode ini amat logis, mengingat orang-orang yang sudah tua, sukses, dan bahagia, memiliki banyak pengalaman dan telah banyak makan asam garam kehidupan. Sehingga dari mereka, kita bisa belajar banyak hal, bahkan mengetahui hal-hal yang belum pernah kita dengar.

Untuk membuka pembahasan, sekaligus menjadi pembuka pertanyaan pada para narasumber, Dr John Izzo mengawalinya dengan sebuah pertanyaan mendasar; apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup? Dari jawaban yang didapat, disimpulkan bahwa hal yang paling diinginkan manusia adalah menemukan kebahagiaan dan menemukan makna kehidupan (hlm 18). Teori Freud yang menyatakan bahwa dorongan utama dalam diri manusia adalah mencari kesenangan dan menghindari kesedihan, ternyata tidak terbukti.

Makna hidup tak ubahnya oase di tengah padang pasir. Ia tidak nampak secara kasat mata, namun berdampak besar terhadap kehidupan seseorang. Dalam buku ini, dijelaskan bahwa yang disebut makna hidup adalah, perasaan bahwa kehidupan seseorang memiliki tujuan. Hidup penuh makna adalah hidup penuh dengan keterhubungan. Keterhubungan dengan orang-orang sekitar yang menunjukkan bahwa keberadaan, atau eksistensi kita di dunia memiliki makna bagi orang di sekitar kita (hlm 20).

Setelah mendapatkan jawab atas hal mendasar itu, Dr John Izzo baru mengungkapkan lima hal yang menjadi “rahasia” hidup sebagai hasil dari perjalanannya mewanwancarai ratusan orang. Pertama, kita harus jujur pada diri sendiri. Terdengar mudah, namun sulit dilakukan. Kebanyakan, orang lebih sering membandingkan diri dengan apa yang datang dari orang lain. Sejak kecil, kita sudah terbiasa menilai diri dengan membandingkan dengan orang di sekitar kita. Kita perlu belajar jujur dengan diri kita sendiri, menerima apa yang ada dalam diri tanpa perlu merasa pusing membandingkannya dengan orang lain (hlm 42).

Rahasia kedua, adalah jangan pernah menyimpan penyesalan. Tidak bisa tidak, rasa menyesal pernah datang dalam hidup setiap orang. Penyesalan bisa muncul karena kekecewaan yang datang di kemudian hari dan itu kerap membuat kita selalu dilanda kesedihan. Penyesalan bukan untuk disimpan, melainkan dilupakan, dan selanjutnya segera bangkit. Dengan begitu, hidup akan dijalani dengan penuh keberanian dan melangkah menuju apa yang kita inginkan (hlm 92).

Selain itu, rahasia ketiga adalah; menjadi cinta. Menjadi cinta bermakna bahwa kita harus hadir di dunia sebagai cinta, yang tak hanya menginginkan untuk selalu dicintai, namun juga menebarkan cinta pada orang-orang di sekeliling kita. Inilah yang dinamakan menjadi cinta. Menjadi cinta, dapat dilakukan dengan tiga cara; mencintai diri kita sendiri, mencintai orang lain, dan kita memilih untuk menjadi cinta di dalam setiap interaksi kita.

Kemudian rahasia keempat adalah menikmati waktu setiap saat. Menikmati waktu bukan berarti bersenang-senang belaka, namun menjalaninya sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dalam arti kita tidak boleh terlalu memikirkan masa lalu atau masa depan, tetapi menjalani setiap saat dengan rasa syukur dan tujuan (hlm 125-141). Terakhir, rahasia kelima adalah memberi lebih banyak daripada menerima.

Konsep memberi lebih banyak daripada menerima telah terbukti mampu menjadikan hidup menjadi lebih berarti dan bermakna. Ketika kematian datang menghampiri, kita tidak bisa membawa apapun untuk dibawa, namun bisa meninggalkan sesuatu yang berarti bagi orang yang kita tinggalkan. Dengan memberi lebih banyak, dengan sendirinya kita telah meninggalkan banyak hal bagi orang di sekitar kita. Secara keseluruhan, buku ini penting bagi setiap orang. Terlebih bagi orang yang sedang menghadapi kekeringan makna dalam menjalani hidup. Buku ini banyak memberi inspirasi untuk mulai menjalani hidup dengan cara-cara dan hal-hal yang berbeda, yang membuat hidup menjadi lebih bermakna[].

Jangan Takut Bilang "Tidak"

Surel Cetak PDF

Resensi buku The Power of No karya James Altucher dan Claudia Azula Altucher

Suara Merdeka | Selasa, 3 Maret 2015 | Lusiana Dewi

 

SERING sekali kita terpaksa mengatakan ”ya” untuk menjawab permintaan orang lain yang tidak bisa kita tolak. Meski permintaan tersebut tidak baik bagi kita. Kita terpaksa mengatakan ”ya” karena kita takut mengatakan ”tidak”. Harus diakui, untuk mengatakan ”tidak” sebagai bentuk penolakan memang tak mudah meskipun bertujuan baik.

Sepasang suami istri, James Altucher dan Claudia Azula Altucher, dalam buku berjudul The Power of No memberikan motivasi kepada setiap pembaca untuk mengatakan ”tidak” (no) untuk berbagai permintaan yang sesungguhnya tidak baik untuk dilakukan. Pasangan itu memaparkan kekuatan kata ”tidak” untuk kehidupan kita berikut sisi baiknya.

Ketika seorang sahabat meminta untuk melakukan sesuatu untuknya, padahal kita tahu hal itu langkah yang buruk, kita pun enggan menolaknya. Karena seorang sahabat, kita pun berkata ”ya”, dan tak kuasa mengatakan ”tidak”. Kita khawatir akan memburuknya hubungan persabatan dengannya jika bilang ”tidak”. Jika kita bilang ”ya”, justru sesuatu yang tidak baik akan kita lakukan dan sesuatu yang tidak baik pula akan menimpa kita.

Sebenarnya kata ”tidak” sangat mudah diucapkan. Dalam keadaan biasa, mudah saja mengatakan ”tidak” berkalikali. Tapi, jika ada seseorang yang meminta kepada kita dan kita tahu bahwa itu tidak baik, kita akan kesulitan untuk mengatakan ”tidak”. Atas dorongan iba, kita selalu bilang ”ya” dan mengabaikan hal lain yang sebenarnya lebih baik bagi kita. Sepertinya, relasi sosial lebih mengekang dan mengikat kita.

Setiap hari, banyak orang yang kita kenal memenuhi kebutuhan mereka. Bukan berarti mereka itu orang jahat atau egois.

Mereka melakukan karena memang hal itulah yang orang lakukan; mereka mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Kita pun mempunyai hak untuk mempunyai kepentingan kita sendiri. Ketika kita mengatakan ”ya” pada sesuatu yang tidak kita inginkan, hasilnya adalah: kita membenci apa yang kita lakukan, kita membenci orang yang meminta kita melakukannya, dan kita melukai diri sendiri. (hlm. 4).

Pilihan

Kita memiliki pilihan dan kita bisa memberikan saran kepada orang lain. Kita memang harus jujur, tidak melulu abai terhadap diri sendiri.

Jika kita bisa mempertahankan kondisi baik-baik saja terhadap diri sendiri dan bisa menolong orang lain, mengapa kita harus berkorban terhadap hal yang konyol? Kita mempunyai hak untuk jujur. Kita mempunyai hak tersebut terutama dengan diri kita sendiri dan untuk menghormati pemilihan waktu, ritme, dan sifat kita. (hlm. 137).

Di dalam realitas, telah kita temui banyak orang yang tidak mengatakan ”tidak” sehingga terjadi berbagai hal buruk. Lihat saja pada beberapa headline news di televisi atau koran. Contohnya kasus suap, terutama di sektor perpajakan. Hal itu dikarenakan para penyuap mempunyai kolega yang bekerja di kantor pajak. Dan si kolega tak mampu bilang ”tidak” ketika temannya menyuap agar dibebaskan dari beban pajak. Bukankah hal itu tidak baik?

Ada berbagai tips yang terkandung dalam buku ini agar bisa mengatakan ”tidak”. Sungguh, kata ”tidak” sulit untuk dikatakan, tetapi ketika telah dikatakan, kekuatannya sangat luar biasa dan menyimpan berbagai kebaikan.

Oleh karena itu, kita harus berani untuk mengatakan ”tidak” untuk hal-hal yang tidak baik dan mengatakan ”ya” untuk hal-hal sebaliknya.

Jalan Panjang Menabur Benih Literasi

Surel Cetak PDF

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Majalah Basis | Februari 2015 | Budiawan Dwi Santoso


Jika John Wood merasa beruntung bahwa 98 persen hari-harinya di Room to Read terasa menyenangkan, maka saya merasa beruntung, karena bisa membaca dan meresapi kisahnya lewat buku berjudul Mengembangkan Ruang Baca (2014). Mengapa begitu?

Sebab, dengan membaca buku ini, setidaknya pembaca (tidak hanya saya saja) dapat mengetahui kisah perjalanan hidup Wood untuk mengabdikan dirinya lewat jalan literasi. Ia memutuskan berhenti dari jabatannya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Microsoft, dan memilih jalan hidupnya untuk menabur benih literasi ke negara-negara ‘berkembang’, bermula dari penjelajahan ke sebuah desa terpencil di Himalaya, dan mendatangi sebuah sekolah di desa itu, yang ternyata sangat kekurangan buku bacaan. Pengalaman hidup yang pernah dituangkan dalam buku pertamanya berjudul Leaving Microsoft to Change the World (2006), yang memantik dirinya berhenti dari perusahaan besar milik Bill Gates itu.

Sebagai pembaca, barangkali kita akan sadar ketika membaca kisah John Wood itu. Sebab, ia berani memilih jalan hidup yang penuh ketidakpastian. Ia meninggalkan segala kemapanan, kenyamanan, dan ketenangan selama bekerja di perusahaan Microsoft. Ia optimis dengan hidupnya hanya untuk memajukan dan mencerdaskan anak-anak, meskipun, pada awalnya, harus memakai dana pribadinya. Pembaca pasti merasa tak berdaya sekaligus tergerak ketika menyusuri pengalamannya.

Pengalaman John Wood mendatangi, mendirikan, mengelola, dan mengembangkan ‘surga’ di Dunia Ketiga itu penuh ‘jalan terjal’. Dimana, ‘surga’ yang ia sebut mengutip dari perkataan pengarang terkenal dari Argentina, Jorge Luis Borges, begini: “Saya selalu membayangkan bahwa surga itu semacam perpustakaan.”

Dan, jalan terjal yang dilaluinya, yakni ia harus mendatangi dan ‘blusukan’ ke desa-desa terpencil dan terpinggirkan, di negara-negara berkembang, seperti  Kamboja, Burma, Maroko, Vietnam, India, Nepal, Sri Lanka, Laos, Tanzania, Zambia, dan Afrika Selatan. Dimana, ia menjumpai desa yang secara harfiah tidak punya fasilitas: tanpa sarana jalan, sekolah menengah, listrik, pasokan air, ataupun rumah sakit (hal. 340). Sampai-sampai, ketika ia mendatangi sekolah di negara-negara benua Afrika—yang dipenuhi korupsi, wabah penyakit, dan kemiskinan, ia melihat dan menjumpai sekolah tanpa buku-buku; tidak ada papan tulis; guru menggoreskan kata di atas tanah kering, menggunakan tongkat, saat dua ratus siswa berkumpul di sekeliling, menyipitkan mata saat mereka berusaha mengenali huruf-huruf yang kabur (hal. 159-160). Ini realitas yang mengiris hati bagi seseorang yang selama hidupnya lahir dan tinggal di negara maju, sehingga ia menyadari bahwa apa yang dilakukan, untuk menemukan ‘perpustakaan’ di tempat-tempat terpencil dan terpinggirkan saja, ‘seperti menemukan organisme hidup yang melayang-layang di luar angkasa’ (hal. 341).

Setelah mengetahui itu, dan untuk menindaklanjuti agar mereka, terutama anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, John Wood bersama tim relawannya mulai memikirkan, memerlukan, dan membentuk staf lokal, plus pelatihan, plus tindak lanjut. Dan, untuk semua itu, mereka memerlukan donatur, sekaligus kesadaran dan kesediaan orang-orang di negara-negara berkembang itu. Dimana, selain mereka mengampanyekan penggalangan dana pada orang-orang kaya, pejabat pemerintah, dan kaum filantropi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, Swiss, dan Singapura; mereka juga menyadarkan dan menggerakkan orang-orang, yang rata-rata lebih suka membeli makanan, minuman, rokok, dan kebanyakan hanya memiliki pendapatan kotor berkisar dua dolar per orang perhari, sehingga untuk membeli buku untuk anaknya saja susah.

Dalam buku ini, masalah-masalah yang dijumpai John Wood menjadi ‘pekerjaan rumah’ penting yang harus segera diselesaikan. Dan, setiap penyelesaiannya, terkadang menyembulkan permasalahan lagi. Seperti, ketika Wood bersama relawan di Room to Read telah mampu menggalang dana sehingga bisa membangun tiap-tiap perpustakaan, dan mengisinya dengan buku-buku bacaan, ternyata, masalah datang dari buku-buku bacaan, terutama masalah bahasa.

Di sinilah, Wood menyadari bahwa untuk menyemaikan benih literasi ke dalam diri anak-anak hingga mereka dapat menerimanya, maka penerjemahan buku bacaan ke dalam bahasa-bahasa yang digunakan anak-anak di pelbagai negara berkembang sangat diperlukan. Apalagi, bahasa yang dipakai mereka adalah bahasa-bahasa lokal; bahasa yang terpinggirkan; ‘bahasa yang terlupakan’. Selain, mencari penerjemah, Wood juga memerlukan pengarang-pengarang lokal. Dimana, pengarang inilah, yang nantinya bisa menjembatani dalam penyaluran pelbagai  kultur, terutama yang seiring dan sesuai dengan geografi, sosial, kultur, serta sejarah anak-anak tersebut.

Pencarian dan usahanya itu membuahkan hasil. Bahkan, ia merasa terkejut, senang, dan haru, ketika ada beberapa anak dari negara berkembang, desa terpinggirkan, tak terdidik, dan miskin—yang notabene merupakan hasil didikan dan kerja keras yang dilakukan Room to Read, bisa mencipta pelbagai cerita, salah satunya berjudul Ikan Cilik Pergi Sekolah, yang kemudian dibacakan John Wood pada publik pada Clinton Global Initiative 2007 di New York, dan diringkaskan olehnya, begini:

Ikan cilik sedang berenang di sisi kolam ketika ia melihat seekor kelinci muda melompat mendekat dengan senyum lebar di wajahnya.

“Halo, Pak Kelinci, kenapa kau terlihat begitu bahagia?”

“Aku baru saja pulang dari sekolah. Tempat yang menyenangkan sekali. Kami menyanyikan lagu, menari, bermain-main, membaca buku, tidur siang, dan makan nasi dan kari. Aku suka sekolah!”

Ikan cilik memutuskan bahwa kedengarannya itu tempat yang bagus. Malam itu juga, ia berenang mendekati ibunya dan menyatakan niatnya untuk pergi ke sekolah keesokan harinya.

“Kau tidak bisa,” jelas ibunya. Ikan Cilik itu mengerutkan kening, matanya lesu.

“Mengapa? Aku benar-benar ingin pergi.”

“Sekolah itu di darat. Dan kau ikan. Maaf. Hidup itu tidak adil, tetapi itulah kenyataannya.”

Ikan Cilik sedih. Dia tidak bisa tidur. Hidup terasa suram.

Keesokan harinya Ikan Cilik berenang ke tepi kolam dan menjelaskan kesulitannya pada kelinci. Kelinci menjelaskan bahwa dia sudah berbicara pada beberapa hewan lainnya untuk meminta bantuan mereka. Babi berpendapat, “tidak ada alasan untuk membantu ikan—ikan berbeda dengan kita. Mereka bukan bagian dari sekolah.”

Kelinci tidak punya satu pun teman yang membantunya. Hewan-hewan lain tidak peduli. Ikan Cilik tidak akan bisa pergi ke sekolah dalam waktu dekat.

Namun, setelah ‘berpose’ di tepi kolam yang tampaknya terinspirasi dari patung The Thinker karya Rodin, Kelinci mengalami momen pencerahan. Dia melompat pergi, lalu kembali beberapa waktu kemudian membawa akuarium yang telah dia beli. Dengan gerakan yang cepat dan hati-hati, dia menciduk Ikan Cilik dan membawanya dengan penuh kemenangan ke sekolah. Sesampainya di sana, Ikan Cilik diletakkan di samping papan tulis. Melihat kebahagiaan teman sekelas baru mereka, hewan-hewan lain pun bersorak sepenuh hati (hal.142-143).

Cerita yang disampaikan Wood, dan ditulis oleh seorang anak perempuan 15 tahun dari Sri Lanka bernama Pradeepa itu menggugah secara universal, termasuk seorang peraih Nobel Sastra, Toni Morrison, yang saat duduk dan mendengarkan pada acara tersebut, matanya berkaca-kaca, terharu.

Maka, dengan meminjam metafora anak kecil itu—yang menyiratkan kehidupan anak-anak (tak hanya di Sri Lanka) terbelit kemiskinan, ketimpangan gender, lebih-lebih diskriminasi, dan etnis sehingga mereka sulit mencecap pendidikan, saya merasa bahwa apa yang dilakukan John Wood bersama timnya; apa yang kemudian dicecap oleh anak-anak di pelbagai negara berkembang; adalah laku atau jalan hidup yang tak sia-sia. Laku mereka adalah laku yang tidak membiarkan hambatan-hambatan dalam kehidupan menjadi penghalang. Apalagi laku yang dihadirkan John Wood dalam buku ini adalah laku memberantas buta aksara dan memajukan dunia pendidikan. Dan, dari hal inilah, mengapa Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, berujar begini, “...apa yang akan terjadi jika ratusan orang mengikuti jejaknya,” yang barangkali, juga ditujukan pada publik pembaca buku ini.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL