You are here Info Buku

Resensi Buku

Sejuta Surat Cinta

Surel Cetak PDF

Resensi buku Sejuta Surat Cinta karya Jodi Ann Bickley

atriadanbuku.blogspot.com | Kamis, 30 Juli 2015 | Atria Dewi Sartika

 

Buku ini bukanlah sebuah novel. Jika itu yang Readers harapkan. Rasanya lebih tepat menyebutnya sebagai sebuah memoar. Cerita kehidupan Jodi Ann Bickley yang membuatnya memulai project One Million Lovely Letters.
Project yang dilakukan oleh Jodi ini berhasil menyentuh banyak orang dan menginspirasi berbagai kegiatan yang hampir sama. Itu sebabnya dirasa perlu memperkenalkan sosok Jodi lebih dalam lagi.
Dan ternyata kisah kehidupan Jodi sejak awal tidak mudah.
Kehidupan keluarganya tidaklah sama dengan yang umum kita miliki, khususnya di Indonesia. Yang umum di keluarga kita adalah ayah, ibu dan anak. Namun dalam keluarga Jodi yang adalah adalah ibu, ayah yang pulang dan pergi seenaknya, adik, dan anak–anak sang ayah dari hubungannya dengan perempuan lain. Sosok ayah dalam hidupnya jelas bukanlah sosok panutan. Kehadiran sang ayah membuatnya belajar tentang sikap dan kehidupan yang tidak selayaknya ia miliki sebagai orang dewasa.
Namun di waktu yang sama Jodi belajar tentang keluasan dan ketulusan hati dari sang ibu. Ibu yang meski pun hidup pas-pasan (jika tidak bisa disebut kekurangan) masih terus berbagi dengan orang lain. Meski hanya berupa senyum, pelukan, atau sekadar tempat berlindungan dari panas atau hujan.
Selain itu, Jodi sendiri pun pernah berperang melawan bulimia. Penyakit yang sempat mengacaukan hidupnya. Dan kini sekali lagi, penyakit kembali menjungkir balikkan hidupnya. Gigitan serangga jelas hal simple namun ternyata bisa berdampak besar. Ia divonis mengidap infeksi otak akut akibat gigitan serangga. Setelah itu, hidup Jodi berkutat di pengobatan dan pemulihan. Ia tidak lagi memiliki kehidupan yang umum dijalani oleh orang lain. Kehidupan yang disebut kehidupan normal. Berkali – kali ia dirundung duka, kesepian, putus asa dan depresi. Namun berkali – kali keluar dari kondisi itu.
Hingga suatu hari ia memutuskan untuk memulai project One Million Lovely Letters. Ini karena ia tidak ingin orang lain merasakan yang seperti ia rasakan tanpa dukungan orang lain. Membuat mereka terus terkungkung dalam semua perasaan sedih higga depresi tersebut. Dan ternyata project itu pun ikut menghidupkan kembali semangat Jodi. Ia sendiri pun selalu merasa dikuatkan untuk setiap surat yang ia terima dan ia tuliskan.
Sejumlah surat–surat yang masuk dalam email Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya ikut ditampilkan dalam buku ini. Ada pula yang ditulis bersama update-an kabar dari penulis surat tersebut.
Membaca buku ini menumbuhkan perasaan positif bahwa di dunia ini masih banyak orang – orang baik yang siap berbagi dengan orang lain.

Tsunami Aceh Lahirkan Metode Sekolah yang Efektif

Surel Cetak PDF

Diskusi Buku Manajemen Sekolah Efektif karya Ahmad Baedowi, Dkk.

JENDELA BUKU, Media Indonesia | Minggu, 5 Juli 2015 | Rizky Noor Alam dan Suryani Wandari Putri Pertiwi

 

Sekolah yang belajar menjadi inti dari Sekolah Sukma Bangsa.

Pondisi pendidikan di Indonesia bisa dibilang masih carut-marut, baik dalam masalah kurikulum, ujian nasional, maupun masalah pengelolaan sekolah. Hal itu tentu menjadi perhatian berbagai pihak.

Namun, semua masalah itu bisa diselesaikan dengan manajemen terstruktur dan terbuka. Hal itu yang ditawarkan dan dilakukan Sekolah Sukma Bangsa di Aceh. Semua pengalaman mengelola Sekolah Sukma Bangsa selama 10 tahun terakhir dituangkan dalam buku berjudul Manajemen Sekolah Efektif karya Ahmad Baedowi yang diterbitkan Alvabet.

Buku setebal 490 halaman itu dibedah dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI) yang berlangsung di Ruang Rapat Besar Gedung Media Indonesia, Jakarta, Kamis (2/7), yang dihadiri puluhan peserta. Sekolah Sukma Bangsa merupakan sekolah yang didirikan pascatsunami Aceh pada 2004. Sekolah tersebut berhasil berdiri berkat dana yang terkumpul dari program Indonesia Menangis kala itu.

“Ini sebetulnya adalah rangkuman perjalanan Yayasan Sukma dalam mengelola sekolah Sukma Bangsa di Aceh. Buku ini isinya adalah hal-hal praktis yang kita pikirkan mengenai manajemen itu apa,” jelas Ahmad Baedowi yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Sukma Bangsa.

Menurut Baedowi, dalam mengelola sekolah, perlu ada kerja sama antara sesama guru, guru dan kepala sekolah serta orangtua siswa dan siswa tersebut. Baginya, dalam dunia pendidikan, tidak ada yang salah dan benar, yang ada ialah efektif atau tidak efektif. Jadi, kita perlu membangun manajemen yang efektif agar dapat mengelola sekolah dengan baik yang berimbas pada baiknya pula lulusan-lulusan sekolah tersebut.

“Efektif berdasarkan pengalaman kita itu harus dimulai dari memahami visi, jadi semua stakeholder sekolah harus memiliki visi yang sama, mau dibawa ke mana sekolah itu, bagaimana cara mencapainya, apa saja yang dibutuhkannya, dan pengalaman mencapai visi ini tidak mudah. Mungkin banyak sekolah punya visi tapi apakah semua stakeholder-nya bisa paham,” cetusnya.

Buku tersebut terbagi menjadi 8 bagian pembahasan. Bagian pertama membahas prinsip pengelolaan Sekolah Sukma Bangsa, bagian kedua membangun visi, misi, dan budaya sekolah, bagian ketiga ialah membangun sistem kerja, bagian keempat membahas membangun tim kerja, bagian kelima membahas membangun sistem pembiayaan, bagian keenam ialah membahas supervisesekolah, ketujuh ialah membangun kerja sama, dan bagian terakhir ialah mengenai evaluasi manajemen.

Baedowi juga menegaskan faktor lain yang menentukan, yaitu transparansi. Sekolah Sukama Bangsa memang mempunyai prinsip untuk mengajarkan siswa dengan kejujuran, bahkan dalam mengelola Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). “Kalau sekolah mengajarkan ketidakjujuran, kalau mendesain RAPBS penuh keter sembunyian, artinya anak-anak diajarkan untuk tidak jujur,” jelas Baedowi.

RAPBS

Pusat dari sekolah, menurut buku itu, berada pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Menurut Baedowi, jika RAPBS dapat disusun secara bersama-sama dan memiliki rencana yang jelas, sekolah akan memiliki kondisi yang sehat dan efektif dalam mentransfer ilmu ke para siswa.

“Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apa semua sekolah memiliki cara yang sama dalam merumuskan RAPBS? Dan mengimplementasikannya dengan baik?” ungkapnya.

Dengan RAPBS yang jelas, setiap guru dapat memiliki anggaran yang digunakan untuk mengembangkan siswa di kelasnya dengan kreativitas yang dimiliki sang guru.

Salah satu sistem di Sekolah Sukma Bangsa ialah bracket system. Bracket System tersebut memungkinkan setiap guru di Sekolah Sukma Bangsa mendapatkan anggaran untuk mengembangkan kemampuan inovasi pembelajaran di kelas (halaman 104)

“Guru-guru punya inisiatif dan kreativitas apa untuk mengembangkan kelasnya, dan rencana guru-guru itu juga harus dibuat dalam proposal yang jelas,” papar Baedowi.

Melalui sistem itu, Sekolah Sukma Bangsa mewajibkan RAPBS digunakan untuk laboratorium sosial, seperti pasar, rumah sakit, masjid, dan gereja. Mereka juga mendatangkan tokoh masyarakat, seperti tukang becak atau tukang sapu jalanan, untuk berbagi pengalaman kepada seluruh siswa. Dengan kegiatan tersebut, RAPBS akan terpakai dengan efektif.

“Sesungguhnya itu permasalahan sehari-hari yang seharusnya bisa dikelola oleh masing-masing sekolah tanpa intervensi secara nasional. saya yakin ini akan berjalan,” kata Boedowi.

Ahmad berharap, melalui buku itu, pengalaman dirinya dan rekan-rekannya dalam mengelola Sekolah Sukma Bangsa dapat diikuti sekolah lain, misalnya, dalam pengelolaan RAPBS yang efektif dan pengelolaan hubungan relasi baik di internal sekolah. Dengan metode penjelasan yang praktis dan sedikit teori, isi buku itu bisa dipahami dengan mudah.

 

Mereka Bicara

"Buku ini menarik. Di tengah-tengah banyak cerita menyedihkan tentang pendidikan Indonesia, cerita tentang Sekolah Sukma memberi warna lain. Buku ini layak dibaca para pendidik. Sayang, cara penulisannya agak kaku. Akan lebih menarik jika ditulis dengan gaya bercerita."

LutfiRetno Wahyudyanti, Bloger

"Inspiratif dan bisa menjadi pencerahan di dunia pendidikan. Semoga bisa dipasarkan lebih luas dan lebih banyak masyarakat pendidikan bisa mengambil hikmahnya."

Wikan Satriati, Editor

"Buku ini ialah buku yang sangat efektif untuk kalangan yang baru atau ingin terjun dalam dunia pendidikan, terutama dalam masalah pembangunan sekolah. Sekolah yang ‘berjiwa’ adalah sekolah yang kuat dengan visi dan misinya."

Christine Rianti, Guru

"Isi bukunya sangat bagus dapat menginspirasi, bagus diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Penjelasannya detail sehingga mudah dipahami."

Ali Rosadi, Karyawan Swasta

Mengupas Tema-tema Penting Pendidikan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Calak Edu 4, Esai-esai Pendidikan 2012-2014 karya Ahmad Baedowi

Koran Jakarta | Jumat, 12 Juni 2015 | Yaumis Salam


Tema pendidikan tak pernah habis dikupas. Berbagai argumen dari beragam sudut pandang dilontarkan dalam menyoroti masalah pendidikan. Buku Calak Edu 4 berisi kumpulan esai tentang pendidikan yang ditulis Ahmad Baedhowi dalam kurun waktu dua tahun. Pembaca diajak menyelami dunia pendidikan dengan beragam tema.

Buku terdiri dari empat bagian. Bagian pertama bertajuk manajemen sekolah, mengulas beberapa fokus terkait pengelolaan sekolah. Ini akan menentukan keefektifan regulasi atau penanganan tiap kasus di lingkungan sekolah.

Masih terkait dengan pengelolaan sekolah, terekam jelas dalam ingatan akan kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di Jakarta Internasional School. Melihat kasus tersebuat, diperlukan evaluasi atas eksistensi sekolah-sekolah internasional untuk memastikan sistem pendidikan sungguh berkualitas. Sekolah internasional pun harus tunduk pada aturan di Indonesia. Sekolah internasional harus disupervisi secara ketat dan berkelanjutan karena mayoritas siswa anak Indonesia juga (hlm 14).

Bagian kedua membahas strategi pembelajaran. Saat ini, masalah utama yang dihadapi para guru sulit menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta kreatif. Orientasi pendidikan lebih ke tes dan hasil ujian. Hal ini membuat pendidikan beku di tengah perkembangan ide dan kreativitas anak-anak negara lain.

Melihat kondisi tersebut, penting bagi guru memiliki kreativitas dan keberanian melawan budaya pendidikan yang tidak menghargai perbedaan. Meski sebuah kreativitas sering dianggap penyimpangan, jika terkait masalah budaya dan kemanusiaan secara keseluruhan, biasanya akan diterima (hlm 43). Keberanian berinovasi dalam pembelajaran penting dilakukan guru.

Bagian ketiga berbicara tentang kebijakan pendidikan yang tak bisa lepas dari pembicaraan tentang kurikulum. Dari pengalaman penulis buku ini saat melatih guru di bidang pengembangan kurikulum, didapati banyak kebingungan para guru dalam memahami maksud dan tujuan kurikulum. Padahal, peran guru dalam pengembangan kurikulum sangat penting dan menentukan berhasil tidaknya sebuah kebijakan atau sistem pendidikan. Maka, peningkatan kapasitas guru jauh lebih utama dari aspek apa pun di bidang pendidikan (hlm 164).

Bagian keempat, yang menjadi bab terakhir, membahas manajemen konflik berbasis sekolah. Kekerasan berupa tawuran pelajar yang sering marak menunjukkan sekolah menjadi rawan konflik.

Memang kadang konflik sulit dihindari, namun bisa dikelola. Konflik dikelola secara konstruktif dengan menciptakan mekanisme interpersonal problem solving dan membangun dialog. Itulah contoh kegiatan yang bisa diberdayakan agar konflik dapat tersalurkan ke arah yang positif sehingga tidak memicu kekerasan, apalagi sampai menimbulkan tindakan anarkistis (hlm 223).

Bacaan ini membuka mata lebar terbuka dalam mengerti kondisi dan persoalan pendidikan sekarang. Tiap- tiap tema diulas secara tajam, namun dengan bahasa ringan khas artikel populer. Jadi, buku mudah dipahami. Buku penting dibaca akademisi, guru, pakar pendidikan, dan masyarakat umum.

Cara Menyikapi Stres Anak

Surel Cetak PDF

Resensi buku Panduan Mengatasi Stres Bagi Remaja karya Nicola Morgan

Kilas Fakta | Senin, 08 Juni 2015 | R. Andi Irawan

 

Anak merupakan karunia dan amanah dari Allah yang wajib kita rawat dan didik agar menjadi manusia yang shalih. Namun, apa jadinya jika dalam proses mendidiknya orang tua mengalami kesulitan. Atau mengalami masalah yang sering dialami anak, terutama ketika telah memasuki masa remaja, yaitu stres. Orang tua seyogyanya mampu menyikapi kestresan anak dengan langkah-langkah yang bijak. Buku bertajuk Panduan Mengatasi Stres Bagi Remaja, buah karya Nicola Morgan ini berbagi tentang bagaimana cara mengatasi kestresan anak. Beberapa faktor yang biasanya menyebabkan stres adalah takut gagal ujian, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan gambaran kesempurnaan orang lain, tekanan untuk membuat teman-temannya terkesan, perubahan bentuk tubuh, takut akan masa depan, sulit mengatasi hal-hal yang menyedihkan dalam hidup, bahaya dan masalah sosial media, dan masalah hormon.

Stress biasanya menimbulkan dampak negatif, seperti mengalami kesulitan untuk mengendalikan emosi, mengambil resiko yang buruk, mengalami gangguan tidur, dan depresi. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan ketika seseorang mengalami stress di antaranya adalah melakukan meditasi atau menyendiri, olahraga, berada di alam terbuka, melakukan hobi, membaca buku, mengekspresikan isi hati dalam tulisan, mendengarkan musik, makan atau minum, mengkonsumsi obat-obatan herbal, tertawa, rileks dan mengendalikan pikiran, berfikir dan bersikap positif, serta tidur yang nyenyak. Buku ini bersifat komplementer dan amat penting bagi orang tua, pendidik, dan kalangan remaja.

Surat-surat Intim John Lennon

Surel Cetak PDF

Resensi buku Surat-surat John Lennon karya Hunter Davies

Koran Tempo | Senin, 01 Juni 2015 | EH Kartanegara


“John Lennon tidak pernah berbelit dalam menulis surat. Cukup sering suratnya disertai gambar acak, dan kau akan tahu bahwa dia sedang mengirim hatinya kepada seorang teman,” demikian Yoko Ono, istri John Lennon, menuliskan dalam Prakata buku yang dilengkapi dan diperindah dengan banyak foto, tulisan dan coretan tangan, serta nukilan puisi John Lennon ini.

Ya, membaca buku yang disusun kompak dan rapi dalam 23 bagian ini, pembaca tak hanya menikmati ekspresi hati dan pikiran, nukilan- nukilan biografi, potongan puisi, aforisme, kehangatan hubungan John dengan orang-orang dekat maupun penggemar yang bahkan tak dikenalnya. Lebih penting lagi adalah visi hidup John sebagai seorang pemusik yang—menurut banyak kritikus musik —"telah mengubah dunia". Lewat Imagine, misalnya, sebuah anthem perdamaian paling dirindukan orang di seluruh dunia—melebihi lagu kebangsaan mana pun—siapa yang tak ingat akan penulisnya; John Lennon?

Dari 285 surat yang berhasil dikumpulkan Hunter Davies dalam buku ini, terkuak salah satu keasyikan seumur hidup John: mengirim kartu pos dari perjalanannya. Kalau tidak menemukan kartu pos bergambar, tangan John mudah gatal untuk menggambarinya sendiri dengan berbagai coretan spontan yang ekspresif, intim, lucu, juga "jail". Di samping tanda tangannya yang sangat khas, dia paling sering menggambar wajahnya sendiri- -banyak juga gambar bugil dia merangkul Yoko Ono—yang, setelah dia meninggal, menjadi ikon khas John Lennon yang sangat terkenal di seantero dunia.

Hunter Davies —penulis resmi biografi The Beatles — menukil kegembiraan John saat mendapatkan selembar kartu pos bergambar mobil Rolls-Royce hitam yang catnya sudah diubah kuning warna-warni psikedelik. Kartu pos itu ia tulis sebagai penghormatan kepada Paman Norman (ayah tiri Liela, sepupu John) yang tinggal di Liverpool, Inggris, kampung halaman John dan The Beatles. Saat itu (1979) John tinggal di New York, AS.

Kisah kartu pos itu, demikian Hunter menuliskan, sejatinya merupakan isyarat kerinduan John pada kampung halaman dan nostalgia saat-saat manis bersama Beatles. Hunter tahu, John tak hanya sangat hafal luar-dalam mobil mewah yang cuma satu- satunya di dunia itu. Mobil jenis limusin Tur Phantom V dengan nomor registrasi FJB 111C itu dibeli pada 1965, ketika Beatles di puncak kejayaan.

Pada 1977, saat John dan Yoko terbelit pajak di AS, mobil itu diserahkan ke negara—melalui Museum Cooper-Hewitt di Smithsonian Institute—sebagai ganti pembayaran pajak US $ 250 ribu. Setahun kemudian, museum merilis kartu pos bergambar bekas mobil John itu. Pada 1985, lima tahun setelah John meninggal, Smithsonian melelang mobil itu di Sotheby's seharga US $ 2,3 juta, mobil paling mahal. .

Serba mahal, surat-surat dan barang-barang yang pernah disentuh John jadi benda-benda memorabilia berharga tinggi. Upaya Hunter mengumpulkan kembali ratusan surat John dari tangan pemiliknya di banyak negara bukan kerja mudah. Belum lagi soal izin mereproduksi dan kepentingan publikasi, harus ada izin ketat dari pemiliknya yang secara hukum dilindungi undang- undang hak cipta—sebagian besar ada di tangan Yoko Ono.

Liku-liku cerita menghimpun kembali ratusan surat John, tak pelak, menjadi kisah perburuan harta karun atau artefak yang menarik. Di balik selembar surat, kartu pos, atau sekadar secarik kertas berisi coretan tangan John, berumur puluhan tahun dan sudah berpindah-pindah tangan pemiliknya, tersimpan "rezeki" tambahan sambung-menyambung sebelum akhirnya berhenti di tangan pengelola sebuah museum.

Seorang penerima surat John pada awal dekade 1960-an, menurut Hunter, dengan susah-payah bertahun-tahun melacak kembali surat yang diam-diam telah dijual oleh ayahnya karena bisnisnya pailit itu. Surat itu ternyata dimiliki seorang kolektor yang tak bermaksud menjualnya kembali. Ada beberapa penggemar yang menyimpan surat-surat John dalam "kotak aman" di bank, membingkainya dalam almari kaca khusus yang digembok rapat-rapat. Lebih "gila" lagi, tak sedikit penggemar fanatik yang memperlakukan surat John layaknya azimat.

Memang, ada suatu risiko yang niscaya pada siapa pun yang oleh publik disanjung-puja sebagai idola. Terlebih bagi seorang John Lennon yang di kalangan tertentu dianggap "nabi musik pop". Di balai-balai lelang besar, barang-barang apa pun yang berbau John Lennon membuat mata banyak orang melotot saking mahalnya. Selembar surat tulisan tangan John bertanggal 23 Maret 1968, misalnya, dibeli seorang kolektor pada 1995 dengan harga £ 4.000.

Adapun isi pikiran John dan segala gagasan tentangperubahan menuju perdamaian dunia-baik lewat musik maupun tulisan-tulisannya-telah j auh melampaui apa yang sekadar materi. John Lennon, The Beatles, dan berbagai kelompok kaum muda yang menyebut diri “generasi bunga”, “hippie”, adalah bagian dari dunia yang diguncang kegelisahan karena ancaman perang, tekanan industrialisasi, kerakusan raksasa kapitalis. Dan kepicikan materialisme. Masih ingat semboyan Make Love, Not War, Give Peace a Chance, juga protes pada kesumpekan zaman yang melahirkan musik dan berbagai gerakan seni psikedelik era 1960-1970-an yang gemanya masih terdengar oleh generasi sekarang?

Dalam buku ini, gairah perdamain dunia itu masih nyaring digemakan lewat surat John untuk Beth (No. 71): "Perdamaian yang melampaui semua pemahaman" --sebuah renungan religius seraya menyebut-nyebut Yesus, Buddha, Muhammad, dan juga Tuhan. Seperti ditulis Hunter, surat-surat John adalah bentuk komunikasi intim dengan banyak orang; lewat kata-kata, bukan hanya dengan musik, yang akan terus bergaung ke masa depan.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL