You are here Info Buku

Resensi Buku

Ubah Dunia lewat Ruang Baca

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Mengembangkan Ruang Baca karya John  Wood

atjehtoday.com | Selasa, 19 Agustus 2014 |Muhammad Bagus Irawan

 

Ada masa ketika seseorang di puncak kariernya akan banting setir berkat secercah kepedulian atas sesama. Salah satunya adalah penulis buku bertajuk "Mengembangkan Ruang Baca" ini. Di usia produktifnya 30-an, ia telah dipromosikan menempati posisi mentereng di perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia.

Awalnya pada 1998, dia berlibur di Pegunungan Himalaya. Dia berjumpa dengan seorang guru yang mengundang ke sekolahnya. Sekolah itu kekurangan buku. Lantas ia mengirimkan email ke beberapa rekan-rekannya untuk meminta bantuan buku.

Dalam benaknya, memori tentang wilayah yang kekurangan buku ini menghantui hari-harinya. Tak ayal, setahun kemudian, ia memutuskan berhenti dari jabatannya yang mentereng. Berkat sisi nurani yang tersentuh, ia mengubah ambisi hidupnya untuk kegiatan sosial, ia mendirikan organisasi nirlaba yang mempromosikan pendidikan, kesetaraan gender, dan minat baca bagi anak-anak di seluruh dunia. Buah kepedulian itu dijalankan sejak 1999 hingga kini.

Kisah itu terangkum dalam buku ini, diterjemahkan dari kisah inspiratif mantan pejabat Microsoft melawan buta aksara di berbagai belahan dunia.  John Wood namanya, ia memiliki proyek besar, dalam bahasanya "big, hairy, audacious goal" bahwa inti dari pendidikan adalah menumbuhkan budaya literasi yang paling dasar. Yakni mendirikan ruang baca atau perpustakaan.

Proyek itu lantas dinamakan Room to Read, yang memiliki ikhtiar menempatkan pendidikan internasional dalam agenda dunia. John berkeyakinan bahwa guna mengentaskan kemiskinan di daerah tertinggal lebih efektif bila dijalankan lewat membuka seluas mungkin ruang baca. Perumpamaannya, literasi sama pentingnya dengan makanan, keamanan, pembatasan pertumbuhan penduduk, dan pengendalian lingkungan.

Bagaimanapun, bagi Wood, pendidikan adalah masalah yang memengaruhi semua hal lainnya. Implikasinya jelas, orang-orang terpelajar lebih bisa menghasilkan uang untuk keluar dari jerat kemiskinan. Orang tua terpelajar akan mendidik anaknya menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani. Para perempuan yang terdidik akan bisa memaksimalkan potensinya sehingga lepas dari kungkungan adat patriakhal. Begitulah implikasi sederhana dari visi dan misi utama yang dijalankan Wood dengan Room to Read-nya. Bahwa hanya dengan membuka lebar-lebar ruang literasi, perubahan dunia bisa dijalankan, hanya lewat anak-anak terdidik-lah dunia ketiga akan bisa lepas dari jerat-jerat kemiskinan yang selama berabad-abad membelenggunya.

Adapun tujuan jangka panjang yang hendak digapai Wood adalah, menepis stigma negatif anak-anak miskin ditakdirkan bodoh. Hingga bisa didapat spirit positif dan rasa optimistis, bahwa tidak ada anak yang dilahirkan di tempat, waktu, dari orang tua yang salah. Semua anak di dunia sejatinya terlahir dalam keadaan suci, mereka sama-sama memiliki potensi untuk menjadi pemimpin masa depan. Satu-satunya jalan untuk mewujudkannya adalah lewat pendidikan.

Belajar dari kisah Wood, tentunya pembaca bisa mencontoh sepak terjang dan kepeduliannya tersebut. Bahwa berbagi bisa lewat hal yang paling sederhana, dan dilakukan sesegera mungkin. Dari gerakan yang digagas John Wood, kita diajak untuk peduli dengan dunia literasi. Dari beragam kisah inspiratif yang terangkum dalam catatan Wood, bisa memacu kita semua turut andil memerjuangkan dan mengupayakan hadirnya ruang baca, demi terciptanya masa depan yang melek pengetahuan.

Tidak Ada Salahnya Jomblo

Surel Cetak PDF

Resensi buku The Single Woman karya Mandy Hale

Jurnas.com | Minggu, 13 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

Lajang? Jomblo? Single? Ini cap buruk buat perempuan meski dia tinggal di kota metropolitan. Perempuan dianggap sukses kalau memiliki pasangan entah itu pacar atau suami. Nah, kalau jomblo itu diklaim sebaliknya dan perempuan seperti itu pun mendapatkan stigma negatif.

Mandy Halle malah bisa membuktikan hal yang terbalik. Jomblo itu punya keistimewaan. Dia bisa memberikan inspirasi kepada perempuan yang masih lajang agar mau bersyukur dengan kondisi mereka dan tetap menjalani kehidupan ini. Lagi pula, Tuhan juga memberikan anugerah lain kepada setiap manusia termasuk yang jomblo sekali pun.

Perempuan yang aktif di media sosial dan juga aktif menulis di blog ini tidak sungkan berbagi kisah dan saran kepada perempuan lajang untuk dapat menjalani kehidupan sebagai pribadi yang penuh semangat, pede, sekaligus juga dekat dengan Sang Pencipta.

Hale berupaya membantu para perempuan lajang untuk tidak lagi cemas akan statusnya dan bisa mendapatkan kebahagian yang hakiki. Dia juga memberikan inspirasi kepada para pembacanya bagaimana merengkuh peruntungan, menjalin persahabatan, hingga mengenggam apa yang menjadi tujuan terbesar dalam hidup.

Sepenggal Cerita dari Perang Salib

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib karya Paul Moses

Jurnas.com | Senin, 07 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

Bertahun-tahun lamanya, kisah ini samar-samar terdengar. Pada 1219 ketika berkecamuk Perang Salib V, St. Fransiskus dari Asisi memutuskan untuk menemui Sultan Malik al-Kamil, pemimpin pasukan muslim. Dia menawarkan perdamaian seraya meminta Sultan memeluk agama Kristen.

Perundingan pun tidak berhasil. Tetapi, pertemuan itu justru mendorong ide revolusioner di kalangan umat Kristen. St. Fransiskus malah meminta para pengikutnya untuk hidup damai dengan umat Islam. Hal ini bertentangan dengan keyakinan umat Kristen saat itu kalau ingin mengubah keyakinan umat Muslim harus melalui pertempuran.

Paul Moses menguak dan mengungkapkan diplomasi St. Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil itu melalui bukunya ini, “Santo dan Sultan, Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib”.

Moses yang seorang jurnalis dan profesor di beberapa universitas di Amerika Serikat itu, juga mengungkapkan kisah kehidupan St. Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil. Tidak ketinggalan intrik politik dan gairah keagamaan pada abad tersebut. Tentunya ini menjadi literatur yang penting untuk mengetahui, memahami, dan mempelajari upaya untuk menjalin perdamaian antara Dunia Barat dengan Dunia Islam.

Mengubah Dunia Lewat Pendidikan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Jurnas.com | Jum'at, 04 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

Pada 1998, John Wood berlibur di Pegunungan Himalaya. Dia berjumpa dengan seorang guru yang mengundang ke sekolahnya. Sekolah itu kekurangan buku. Lantas Wood mengirimkan email ke beberapa rekan-rekannya untuk meminta bantuan buku.

Setahun kemudian, Wood yang masih berusia 35 tahun itu memutuskan berhenti dari Microsoft, padahal dia memiliki jabatan bergengsi di perusahaan piranti lunak tersebut. Keputusan Wood itu berbuah manis.

Wood mendirikan Room to Read. Lewat gerakannya ini, dia banyak mendapatkan penghargaan di seluruh dunia. Namun yang terpenting dia telah mendirikan lebih dari 12 ribu perpustakaan, menerbitkan 10 juta buku, mendirikan 1500 sekolah, serta mendukung 13 ribu anak perempuan menyelesaikan sekolahnya, plus 7 juta anak miskin merasakan manfaat buku dan pendidikan.

Organisasi nirlaba ini memang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan gender, dan minat baca bagi anak-anak di seluruh dunia. Wood yakin kalau perubahan dunia dimulai dari anak-anak yang terdidik dan melek aksara.

Wood memang luar biasa. Gerakannya sungguh spektakuler. Apa yang dilakukannya juga menggugah para konglomerat yang juga filantropi dan pejabat pemerintah untuk mengikuti semua yang digagasnya.

Pemikiran Visioner Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Jurnas.com | Kamis, 3 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

 

Siapa menyangka kalau Thomas Jefferson membeli kitab suci Al Quran. Hal itu terjadi pada 1765, tepatnya sebelas tahun sebelum Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Hal ini ditengarai sebagai awal dari minat Jefferson untuk mempelajari Islam.

Usai itu, Jefferson terus mencari sederetan buku yang mengulas banyak hal mulai dari bahasa, sejarah, dan perkembangan Timur Tengah. Namun hal itu tidak mudah bagi Jefferson untuk mempelajari Islam. Semua itu dianggap menghina keimanannya sebagai pemeluk Protestan.

Pada 1776 itu, Jefferson sudah membayangkan kalau umat Islam sudah menjadi warga negara Amerika Serikat. Saat ini sendiri kaum Muslim mencapai sekitar 0,6 persen dari total sekitar 318 juta orang penduduk AS, kira-kira 1,8 juta orang.

Denise A. Spellberg mengisahkan kalau para founding father AS malah sudah tertarik dengan ide perihal toleransi untuk membuat landasan praktis pemerintahan. Padahal saat itu, keberadaan kaum Muslim juga tidak diketahui.

Buku Kontroversi Al Quran Thomas Jefferson ini menjadi penting lantaran kecurigaan Dunia Barat terhadap Dunia Islam masih terus ada, sementara jumlah warga Muslim AS justru berkembang. Karya ini bisa menjadi literatur yang pas guna menjalin lagi hubungan kedua belah pihak lantaran Spellberg mengungkap gagasan yang benar-benar tidak biasa dan revolusioner dari para pendiri negara AS.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL