You are here Info Buku

Resensi Buku

Menimbang Keseimbangan dalam Mencapai Kebahagiaan Hidup

Surel Cetak PDF

Resensi buku Hidup Seimbang Hidup Bahagia karya Akhirudin DC, MA

Koran Jakarta | Kamis, 12 November 2015 | Zahrotul Ummah

 

Buku  Hidup Seimbang Hidup Bahagia membuka  wacana baru menjalankan hidup dengan menekankan keseimbangan di antara:  pekerjaan, keluarga, dan duniawi. Pada bagian pertama, buku  membahas mengenai balance life= beautiful life. Keseimbangan dimulai dengan mencari tahu  yang paling penting dalam hidup. Seseorang tidak akan pernah merasa seimbang jika tidak memiliki visi atau tujuan  kehidupan yang seimbang (hal 9).

Hidup seimbang di sini tidak diartikan  menghabiskan waktu yang sama antara pekerjaan 50% dan untuk pribadi 50% (hal 11). Dalam bagian kedua, dijelaskan  the law of balance. Hidup seimbang melayani semua peran dalam hidup dengan baik (hal 18). Ketika sudah mampu memenuhi  keseimbangan internal dan eksternal,  seseorang tersebut sudah dikatakan berhasil   hidup seimbang.

Jika  hidup tidak seimbang, hasilnya hanya  kegelisahan. Perasaan  tidak lengkap dalam hidup. Seolah-olah ada yang terabaikan dalam hidup, serta merasa bersalah (hal 22). Ada beberapa keseimbangaan. Di antaranya, seimbang ilmu dan amal. Tidak boleh ada berat sebelah. Orang berilmu, namun tidak mengamalkan, ibarat  keledai yang di punggungnya penuh berbagai buku. Namun secara kenyataan tidak dapat mengambil manfaat darinya  (hal 25-29).

Ada juga keseimbangan dalam alam semesta. Ini  sebuah ketertarikan yang menyatu dari semua unsur membentuk ekosistem yang saling berpengaruh (hal 51). Pada dasarnya alam semesta  terbentuk atas unsur keseimbangan yang sangat akurat dan teliti. Ulah manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap  alam mengakibatkan keseimbangan berubah, bahkan tergeser. Kini, tugas manusia menemukan  keseimbangan seperti antara  hidup dan kerja (hal 80).

Dalam dunia kerja, jangan terlalu lama beristirahat di waktu produktif. Jangan sembarang meninggalkan pekerjaan di kantor. Jangan membicarakan masalah pekerjaan di meja makan (hal 87-89).  Pekerjaan harus menjadi bagian yang dicintai. Jangan selalu mengeluhkan  pekerjaan.

Selalu ingat bahwa uang bukan segalanya. Tetapi segalanya membutuhkan uang (hal 98). Peran keluarga, karir, kesehatan, dan persahabatan merupakan poin-poin penting dalam kehidupan manusia yang harus berjalan seimbang.

Buku Hidup Seimbang Hidup Bahagia mencakup perjalanan kehidupan khalayak pada umumnya.

Semoga setelah membaca buku ini, masyarakat mampu menjalankan hidup seimbang dalam keseharian. Banyak kisah hidup di dalamnya dari  orang yang pernah merasakan hidup bahagia karena  mengutamakan keseimbangan.

Menggambarkan Potret Pendidikan Indonesia Hari Ini

Surel Cetak PDF

Resensi buku Potret Pendidikan Kita karya Ahmad Baedhowi, dkk.

Koran Jakarta | Rabu, 21 Oktober 2015 | Muhammad Khambali

 

Barangkali pendidikan nasional  hari ini seperti benang kusut yang sulit  diurai untuk menemukan simpul perbaikan. Buku Potret Pendidikan Kita mengajak pembaca melihat sengkarut isu-isu dan persoalan pendidikan.

Buku dibuka dengan mengurai persoalan Ujian Nasional (UN) yang saat ini  memang sudah tak menjadi penentu tunggal kelulusan dan evaluasi. Namun karena belum dihapus, UN  masih meninggalkan polemik dan disorientasi tujuan pendidikan. Esai Adilkah UN, Adilkah Kita mencoba mengajukan sistem evaluasi yang menggunakan pendekatan peformance assessment (hal 33-35).

UN hanyalah salah satu instrumen evaluasi. Asesmen lebih luas dari sekadar evaluasi dibutuhkan untuk melihat sekaligus menguji kompetensi murid dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi masalah  sekitar mereka.

Performance assessment dapat dilakukan dengan memberi berbagai  tugas eksperimental, portofolio, dan menulis. Sementara UN memukul rata kemampuan setiap murid. Peformance asessment justru melihat bahwa setiap individu unik, sehingga perlu evaluasi pembelajaran secara pribadi  yang tidak hanya melihat kekurangan, tetapi juga kelebihan, potensi, dan minat siswa. Performance assessment memahami keberagaman (inklusif) setiap anak.

Pendidikan inklusif, selalu bersandarkan pada asas keunikan, keberagaman, dan keadilan dengan adanya akses yang sama untuk semua dalam pendidikan. Sayang,  cara pandang pendidikan  masih mengabaikan keberagaman.

Praksis pendidikan dengan kesadaran inklusif masih sebatas wacana besar, minim kemauan politik yang sungguh-sungguh. Esai Pendidikan Inklusi: Antara Cita dan Fakta menyoroti proses pelaksanaan pendidikan inklusi. Anak-anak  dengan kebutuhan khusus seperti autis, downsyndrome, dan tunanetra masih sulit  mendapat sekolah inklusi. Banyak sekolah reguler yang menolak mereka (hal 71-72).

Pada bab lain,  buku mengulas nasib perpustakaan  yang terbengkalai karena minim buku, fasilitas, dan pendanaan. Ini ditambah   minat baca para pelajar dan masyarakat yang rendah. Untuk mengatasinya bisa ditempuh model digitalisasi perpustakaan.

Kekerasan guru juga menjadi sorotan. Banyak kasus kekerasan atau bullying secara verbal, fisik, maupun simbolis yang dilakukan guru. Ada semacam mitos yang menganggap kekerasan bisa menjadikan seorang guru terlihat berwibawa. Seolah hanya dengan kekerasan, murid mau mendengarkan, takut, dan menaruh hormat (hal 170-173).

Tulisan-tulisan  buku ini menggambarkan  wajah pendidikan nasional terkait  politik pendidikan, budaya, dan konflik di sekolah. Ini termasuk juga  persoalan guru dan inspirasi pembelajaran. Sebagai sebuah tulisan bunga rampai, Potret Pendidikan Kita seperti almanak yang mencatat berbagai  isu menarik sekaligus masalah dalam pendidikan.

Mengurai Kompleksitas Problem Pendidikan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Potret Pendidikan Kita karya Ahmad Baedhowi, dkk.

Riau Pos | Minggu, 4 Oktober 2015 | Al-Mahfud

 

Tahun ajaran baru kembali tiba. Orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah. Dari yang sekolah swasta sampai yang negeri. Mulai dari sekolah biasa sampai sekolah paling favorit. Sekolah masih dipercaya menjadi penentu nasib. Mereka ingin nasib anak-anak lebih baik dengan memberi pendidikan yang layak lewat sekolah. Pendidikan yang didamba mampu membawa anak menuju kesuksesan dan masa depan yang cerah.

Sayangnya,  kualitas pendidikan kita rendah, bahkan jika dibandingkan negara-negara Asean. Hal ini, terlihat dari laporan UNESCO (EFA Report 2007) yang menurunkan posisi Indonesia dalam peringkat indeks pendidikan EFA Development Index (EDI) dari posisi 58 ke 62 dari 130 negara. Lagi, data indeks pembangunan manusia Indonesia (HDI) juga berada pada peringkat bawah dibanding negara ASEAN. Yakni pada urutan 102 (tahun 2002), 111 (2004), 110 (2005) dan sekarang 107. Semantara negara ASEAN lainnya, Sri Lanka (99), Filipina (90), Thailand (78), Malaysia (63).

Data tersebut cukup menjelaskan sistem pendidikan kita belum mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing unggul. Padahal, jelas bahwa modal utama menghadapi tuntutan zaman adalah pendidikan. Melalui buku yang ditulis Ahmad Bedhowi dan kawan-kawan ini, kita didedahkan seabrek data yang menjelaskan potret pendidikan saat ini yang belum menunjukkan kemajuan signifikan. Bahkan, berbagai masalah klasik masih menjadi persoalan yang belum tertangankan.

Masalah pendidikan begitu kompleks. Mulai dari sistem pendidikan yang masih terasa sentralistik di pusat, hingga berbagai masalah klasik; kompetensi guru rendah, prasarana belum memadai, hingga tindakan kekerasan yang marak terjadi di kalangan siswa. Di samping itu, dalam pelaksanaannya, pendidikan kita masih dibelenggu sistem pembelajaran yang kurang mengakomodasi keberagaman skill siswa. Model pembelajaran masih bersandar pada rote learning dan drilling yang menyebabkan siswa miskin kemampuan menganalisis masalah.

Berbagai permasalahan tersebut, dalam buku ini diurai dengan bekal pengalaman mengajar dan mengelola sekolah, terutama Sekolah Sukma Bangsa, yang dirintis oleh Yayasan Sukma untuk anak-anak Aceh pasca Tsunami. Pengalaman dijadikan modal menyampaikan pandangan yang kaya inspirasi. Pandangan dari para ahli, pengamat, psikolog pendidikan, sampai praktisi lapangan, seperti guru dan kepala sekolah, dituangkan lewat berbagai artikel menarik.

Karena para penulis berlatarbelakang berbeda, buku ini kaya sudut pandang dalam memandang persoalan pendidikan. Tema-tema tentang mutu pendidikan, menejemen sekolah efektif, pendidikan karakter, pengembangan kapasistas guru, sampai pada bagaimana menciptakan suasana sekolah yang nyaman dan damai (anti kekerasan), menjadikan ulasan menjadikan ulasan menjadi kompresensif dari tingkat konsep sampai praktis dan kaya sudut padang dalam mencari solusi terkait masalah pendidikan yang kompleks.

Misalnya, terkait pembelajaran yang monoton dan kering penyemaian sisi afektif dan psiokomotorik anak, pendekatan yang mementingkan imajinasi menjadi solusi yang bisa diajukan. Produk pendidikan yang hanya pintar menghafal tanpa kratifitas dan kemampuan memecahkan masalah, mengindikasikan lemahnya imajinasi anak. Untuk membentuk anak menjadi pribadi yang kreatif, imajinasi merupakan kunci.

Dalam hal ini, seorang guru dituntut mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas demi memantik kreatifitas dan menghidupkan ruang imajinasi anak. Konkretnya, hal itu dimulai dari menemukan konteks suatu materi sekaligus memuaskan keingintahuan siswa, dengan metode yang tepat, sampai akhirnya siswa mampu memecahkan masalah-masalah kesehariannya sendiri (hlm 226-227).  Pada titik ini, jelas terlihat kreatifitas guru dalam mendidik siswa menjadi pertaruhan; menjadi pendamping yang mengembangkannya atau jusru menjadi pengekang dan menutupinya (baca; imajinasi dan kreatifitas).

Dalam konteks kekerasan yang belakangan marak di lingkungan pendidikan, sekolah dituntut mampu menjadi wadah penyemaian nilai-nilai kasih sayang agar menjadi karakter yang melekat dalam diri siswa. Karakter itu hanya terbentuk jika kondisi sosial sekolah bernuansa kekeluargaan; menghargai perbedaan, sopan santun dan memaafkan. Dan semua itu harus ditunjukkan oleh guru terlebih dahulu, agar siswa meniru. Warga sekolah harus ada dalam suasana damai, saling mengasihi dan sadar peran masing-masing untuk menekan keegoisan dan konflik yang bisa memantik berbagai tindak kekerasan.

Pengalaman di lapangan yang diramu dengan teori-teori pendidikan, menjadikan tulisan-tulisan dalam buku ini penting untuk dibaca, baik oleh guru, pegambil kebijakan, bahkan masyarakat awam yang ingin memahami keadaan pendidikan kita, masalah, sekaligus pemecahannya. Masing-masing ulasan menawarkan pengalaman dan sudut pandang berbeda dalam menyikapi kompleksitas persoalan pendidikan kita. Apa yang dituangkan para penulis dalam buku ini dapat menjadi masukan dan inspirasi dalam upaya memajukan pendidikan kita saat ini.

Menelusuri Kejatuhan Konstantinopel

Surel Cetak PDF

Resensi buku 1453; Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel Ke Tangan Muslim karya Roger Crowley

Koran Tempo | Minggu, 4 Oktober 2015 | Lusiana Dewi


Kota Istanbul saat ini begitu megah memikat hati para pelancong. Bangunan-bangunan modern menghiasi di setiap sudutnya. Namun demikian, bangunan-bangunan klasik bersejarah masih juga tersisa di kota yang dulu bernama Konstantinopel tersebut. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah masa lalu tersebut menjadi saksi bisu sekaligus bukti bahwa kota Istanbul merupakan kota yang sarat akan sejarah besar.

Sejarah kota tersebut merentangi waktu hingga lebih dari seribu tahun. Peralihan kekuasaan, pertumpahan darah, spirit religiusitas, arus sekularisasi, dan kebanggaan bercampur-baur mewarnai sejarahnya. Seiring berjalannya waktu, kota tersebut tetap tidak diabaikan oleh Turki meskipun kini negara tersebut beribukota di Ankara.

Salah satu bagian yang sangat menarik dari sejarah Konstantinopel adalah kejatuhannya ke tangan umat Islam pada 1453. Menjadi kota yang memiliki pertahanan kuat dari umat Islam, kota tersebut berhasil menjadikan Byzantium tetap terlindungi meskipun harus jatuh juga setelah ratusan tahun bertahan.

Secara indah, sejarah kejatuhan kota Konstantinopel ke tangan umat Islam pada 1453 tersebut diceritakan oleh Roger Crowley dalam bukunya yang berjudul “1453; Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim”. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan bukti-bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan, Crowley menceritakan secara kronologis kejatuhan kota tersebut.

Konstantinopel merupakan ibukota dari kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium yang menganut Kristen. Lebih dari itu, Byzantium terus meluaskan kekuasaannya hingga mencapai kawasan-kawasan yang jauh dengan pusat kepemerintahannya berada di Konstantinopel. Kota tersebut memegang kendali wilayah-wilayah taklukan Byzantium. Meskipun Romawi Barat runtuh, Romawi Timur atau Byzantium tetap bertahan dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Pada 629, Heraclius yang merupakan kaisar Byzantium ke-28, berziarah ke kota Yerusalem. Saat itu, dia berada di era keesaman hidupnya. Dia telah mengalahkan kerajaan Persia dalam serangkaian kemenangan dan merebut kembali benda paling suci dalam kekristenan, Salib Suci, yang berhasil dia kembalikan ke Gereja Makam Suci.

Dia pun menerima surat dari Nabi Muhammad Saw yang berisi ajakan untuk memeluk Islam. Hanya saja, Heraclius sama sekali tidak mengenal penulis surat tersebut. Konon, dia segera menyeledikinya dan tidak menganggap enteng isi surat itu. Surat itu justru dirobek. Tanggapan Nabi Muhammad Saw terhadap perlakuan itu keras: “Katakan kepadanya, agama dan kekuasaanku akan menjangkau daerah yang tidak pernah dicapai Qisra.” (hlm. 4-5).

Perkataan Nabi Muhammad Saw tersebut mengindikasikan bahwa suatu saat Konstantinopel akan jatuh ke tangan umat Islam. Ketika masa itu datang, umat Islam dipimpin oleh pemimpin yang luar biasa, berani, cerdas, dan saleh. Hal itulah yang diramalkan oleh sang Nabi Saw.

Ramalan itulah yang memicu para pemimpin Islam—pasca-Nabi Muhammad Saw wafat—untuk melakukan penaklukan Konstantinopel yang merupakan benteng terkuat umat Kristen saat itu. Dimulai dari Umar bin Khatthab, dia memerintahkan penaklukkan ke berbagai wilayah. Hanya saja, sebelum sampai Konstantinopel, usia Umar wafat.

Usaha demi usaha pun dilakukan oleh umat Islam untuk menaklukkan Konstantinopel. Para pemimpin dari masa ke masa berusaha menjadi orang yang diramalkan oleh nabi mereka. Begitu pula yang dilakukan oleh Muawiyah dari Dinasti Umayyah. Hanya saja, Muawiyah mengalami kegagalan sehingga Konstantinopel masih tidak terjangkau.

Padahal, umat Islam kala itu melakukan pergerakan yang sangat cepat dan mengejutkan dunia. Pasca-Nabi Muhammad Saw wafat, kawasan demi kawasan pun takluk secara sangat cepat sehingga agama samawi terbaru tersebut berkembang dengan begitu luar biasa.

Damaskus jatuh, lalu Yerusalem. Mesir menyerah pada 641, Armenia pada 653. Dalam jangka dua puluh tahun, Kerajaan Persia runtuh dan beralih masuk Islam. Proses penaklukan yang cepat ini sangat mengejutkan, sedangkan kemampuan adaptasi umat Islam-Arab sangat luar biasa. (hlm. 11).

Penaklukan demi penaklukan oleh umat Islam tersebut begitu cepat sehingga dunia terkejut, bahwa agama yang lahir di padang pasir tersebut berkembang sangat pesat. Tidak ada sebelumnya yang bisa sepesat umat Islam dalam berbagai penaklukkan yang jangkauannya sangat luas tersebut.

Hanya saja, Konstantinopel belum kunjung takluk. Padahal, jika merunut pada usaha, awal umat Islam hendak menaklukkan Konstantinopel adalah pada tahun 629, ketika Nabi Muhammad Saw mengirim surat ajakan memeluk Islam kepada Heraclius. Setelah itu, usaha demi usaha dilakukan oleh umat Islam untuk menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal.

Hingga pada Mei 1453, Sultan Mehmet II berhasil merebut kota tersebut secara gemilang. Dengan begitu, Sultan Mehmet II itulah yang diramalkan sebagai seorang pemimpin yang luar biasa, berani, cerdas, dan saleh.

Ketika itu, Sultan Mehmet II bersyukur dan mengucapkan selamat kepada ribuan pahlawan muslimnya. Peristiwa itu menjadi momen ikonik yang menyebabkan dia selalu dikenang dalam bahasa Turki dengan gelar Al-Fatih (Sang Penakluk). Saat itu Sultan Mehmet II baru berusia 21 tahun. (hlm. 302).

Jika menilik waktu, usaha umat Islam merebut kota tersebut itu merentangi waktu yang sangat lama. Dari tahun 629, cita-cita tersebut baru terealisasi pada 1453. Rentang waktu tersebut lebih lama daripada rentang waktu jatuhnya Konstantinopel hingga sekarang.

Membaca buku setebal 408 ini, para pembaca diajak untuk menelusuri memoar kejatuhan Konstantinopel sekaligus menziarahi sejarah kota tersebut. Roger Crowley tidak malas dalam mengungkap data dan memilih serta memilah di antara dokumen yang terserak. Buku ini layak menjadi referensi penting bagi siapa saja yang mencintai kajian sejarah.

Alternatif Referensi Buat para Pendidik

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pengembangan Kapasitas Guru karya Khoiruddin Bashori, Dkk.

Koran Jakarta | Jumat, 2 Oktober 2015 | Yaumis Salam


Buku Pengembangan Kapasitas Guru bisa menjadi rujukan  calon-calon guru yang akan mengajar. Bahkan dia  dapat menjadi referensi terbaru pendidik  dalam mengembangkan  diri.

Buku  memuat pengalaman dan petualangan  mengajar anak didik  di Sekolah Sukma Bangsa Aceh. Ada 12 bab yang dibahas dalam buku  yang  bertujuan memajukan maupun mengembangkan kapasitas guru dalam pembelajaran. Di antaranya  mengembangkan pengetahuan dan pemahaman profesionalitas, memperluas bekal kependidikan, serta membantu guru  mempersiapkan diri menghadapi perubahan (hal 10).

Banyak  inspirasi untuk  membangunkan potensi dan kemampuan  guru dalam mengajar. Hal kecil yang senantiasa dilakukan dalam keseharian seperti menulis, ibarat petualangan untuk menemukan makna baru. Guru yang memiliki kebiasaan menulis akan lebih mudah melacak kemajuan murid-muridnya melalui catatan lapangan. Terdapat beberapa model penulisan yang dapat meningkatkan kapasitas profesional guru. Kebiasaan menulis seperti catatan lapangan, jurnal dialog, portofolio, artikel cetak/online, dan buku ajar sangat bermanfaat (hal 86).

Salah satu contoh dilakukan  Jamilah, guru Bimbingan Konseling Sekolah Sukma Bangsa. Awal-awalnya dia merasa, menulis itu tidak begitu penting. Padahal direktur pendidikan waktu itu mendorongnya  agar mau menulis artikel  kegiatan sekolah.

Lambat laun Jamilah merasakan teman-teman satu perjuangan di Sukma Bangsa ini telah memiliki kemampuan ganda sebagai pendidik  dan penulis. Karya tulis juga masuk ke media massa lokal maupun nasional. Waktu itu Jamilah merasa bahwa menulis menjadi sebuah keharusan (hal 85).

Bab enam  menjelaskan tentang menghidupkan kelompok-kelompok kritis. Ini seperti dialami Agus Maulana atau sering dipanggil Zhauge saat diberi tugas menjadi direktur sekolah Sukma Abangsa Aceh  pada periode 2009-2010. Zhauge berimprovisasi dalam mengelola sekolah. Sebagai mantan aktivis saat masih mahasiswa,  dia paham betul  cara  menggerakkan seseorang agar mencapai tujan tertentu. Memiliki pengalaman-pengalaman untuk menghidupkan kelompok-kelompok kritis merupakan kekayaan  strategis sebelum  melakukan langkah-langkah perubahan yang lebih masif (hal 100).

Sukma Bangsa  berbeda dengan sekolah lain. Di sini ada  kebiasaan melakukan pertukaran guru. Selama mengikuti program pertukan, para   guru yang berprestasi dan memiliki prospek mengajar yang baik berkesempatan meningkatkan kapasitas.

Contoh, guru fisika Fajriyah, sebelum mengikuti program pertukaran guru terkesan pendiam. Setelah mengikuti pertukaran guru di SMP Budi Mudia II Yogjakarta dan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe menjadi guru yang lebih terbuka dan mudah bergaul dengan teman sejawat baru (hal 158).

Buku dapat memotivasi  pembaca. Banyak kenangan dan pengalaman selama mengajar di  Sukma Bangsa Aceh tertuang di dalamnya. Banyak masalah guru terpecahkan sehingga pendidik  benar-benar produktif dan berkinerja lebih  baik.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL