You are here Info Buku

Resensi Buku

Sepenggal Cerita dari Perang Salib

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib karya Paul Moses

Jurnas.com | Senin, 07 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

Bertahun-tahun lamanya, kisah ini samar-samar terdengar. Pada 1219 ketika berkecamuk Perang Salib V, St. Fransiskus dari Asisi memutuskan untuk menemui Sultan Malik al-Kamil, pemimpin pasukan muslim. Dia menawarkan perdamaian seraya meminta Sultan memeluk agama Kristen.

Perundingan pun tidak berhasil. Tetapi, pertemuan itu justru mendorong ide revolusioner di kalangan umat Kristen. St. Fransiskus malah meminta para pengikutnya untuk hidup damai dengan umat Islam. Hal ini bertentangan dengan keyakinan umat Kristen saat itu kalau ingin mengubah keyakinan umat Muslim harus melalui pertempuran.

Paul Moses menguak dan mengungkapkan diplomasi St. Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil itu melalui bukunya ini, “Santo dan Sultan, Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib”.

Moses yang seorang jurnalis dan profesor di beberapa universitas di Amerika Serikat itu, juga mengungkapkan kisah kehidupan St. Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil. Tidak ketinggalan intrik politik dan gairah keagamaan pada abad tersebut. Tentunya ini menjadi literatur yang penting untuk mengetahui, memahami, dan mempelajari upaya untuk menjalin perdamaian antara Dunia Barat dengan Dunia Islam.

Mengubah Dunia Lewat Pendidikan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Jurnas.com | Jum'at, 04 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

Pada 1998, John Wood berlibur di Pegunungan Himalaya. Dia berjumpa dengan seorang guru yang mengundang ke sekolahnya. Sekolah itu kekurangan buku. Lantas Wood mengirimkan email ke beberapa rekan-rekannya untuk meminta bantuan buku.

Setahun kemudian, Wood yang masih berusia 35 tahun itu memutuskan berhenti dari Microsoft, padahal dia memiliki jabatan bergengsi di perusahaan piranti lunak tersebut. Keputusan Wood itu berbuah manis.

Wood mendirikan Room to Read. Lewat gerakannya ini, dia banyak mendapatkan penghargaan di seluruh dunia. Namun yang terpenting dia telah mendirikan lebih dari 12 ribu perpustakaan, menerbitkan 10 juta buku, mendirikan 1500 sekolah, serta mendukung 13 ribu anak perempuan menyelesaikan sekolahnya, plus 7 juta anak miskin merasakan manfaat buku dan pendidikan.

Organisasi nirlaba ini memang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan gender, dan minat baca bagi anak-anak di seluruh dunia. Wood yakin kalau perubahan dunia dimulai dari anak-anak yang terdidik dan melek aksara.

Wood memang luar biasa. Gerakannya sungguh spektakuler. Apa yang dilakukannya juga menggugah para konglomerat yang juga filantropi dan pejabat pemerintah untuk mengikuti semua yang digagasnya.

Pemikiran Visioner Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Jurnas.com | Kamis, 3 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

 

Siapa menyangka kalau Thomas Jefferson membeli kitab suci Al Quran. Hal itu terjadi pada 1765, tepatnya sebelas tahun sebelum Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Hal ini ditengarai sebagai awal dari minat Jefferson untuk mempelajari Islam.

Usai itu, Jefferson terus mencari sederetan buku yang mengulas banyak hal mulai dari bahasa, sejarah, dan perkembangan Timur Tengah. Namun hal itu tidak mudah bagi Jefferson untuk mempelajari Islam. Semua itu dianggap menghina keimanannya sebagai pemeluk Protestan.

Pada 1776 itu, Jefferson sudah membayangkan kalau umat Islam sudah menjadi warga negara Amerika Serikat. Saat ini sendiri kaum Muslim mencapai sekitar 0,6 persen dari total sekitar 318 juta orang penduduk AS, kira-kira 1,8 juta orang.

Denise A. Spellberg mengisahkan kalau para founding father AS malah sudah tertarik dengan ide perihal toleransi untuk membuat landasan praktis pemerintahan. Padahal saat itu, keberadaan kaum Muslim juga tidak diketahui.

Buku Kontroversi Al Quran Thomas Jefferson ini menjadi penting lantaran kecurigaan Dunia Barat terhadap Dunia Islam masih terus ada, sementara jumlah warga Muslim AS justru berkembang. Karya ini bisa menjadi literatur yang pas guna menjalin lagi hubungan kedua belah pihak lantaran Spellberg mengungkap gagasan yang benar-benar tidak biasa dan revolusioner dari para pendiri negara AS.

Tur Keliling Kota Kairo

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kairo: Kota Kemenangan karya Max Rodenbeck

Jurnas.com | Senin, 7 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

Kairo adalah kota yang berusia lebih dari lima ribu tahun. “Kemenangan” atau Al Qahirah menjadi sebutan para penakluk Arab. Kota ini memang punya sejarah panjang lantaran pernah menjadi pusat kekuasan para Fir’aun dan para Sultan. Kota ini juga menjadi hadiah bagi para penakluk hebat seperti Iskandar Agung, Shalahuddin al-Ayyubi, hingga Napoleon Bonaparte.

Penceritaan kota Kairo pun dilukiskan dengan indah oleh Max Rodenbeck. Dia menyuguhkan perpaduan tidak biasa dan unik antara cerita perjalanan, riwayat sejarah, dan kisah epik.

Rodenbeck memang punya pengetahuan mendalam soal Kairo. Tidak heran dia mengisahkannya dengan cerdas, penuh humor, dan penuh kecintaan. Jurnalis senior ini dibesarkan di Kairo ketika ayahnya melanjutkan pendidikan di kota ini pada era 1960-an.

Maka Rodenbeck pun membawa pembacanya seperti tengah mengikuti tur mengelilingi kota. Pastinya tur yang tidak biasa melainkan yang luar biasa lewat penyuguhan Kairo lewat sejarah panjangnya dan juga segala macam kontradiksinya. Mulai dari gang sempit, pasar rakyat, sarang ganja, pemukiman kumuh hingga ke soal politik.

Jefferson, al-Quran, dan Islam

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Koran Sindo | Minggu 15 Juni 2014 | Hendri F Isnaeni, redaktur majalah Historia

 

Pada Januari 2007, Keith Ellison, muslim pertama yang menjadi anggota Kongres Amerika Serikat, mengikrarkan sumpah jabatan di atas Alquran milik Thomas Jefferson.

Alquran tersebut tersimpan di perpustakaan Kongres. Pada saat inilah, Denise A Spellberg, ahli sejarah Islam, berpikir untuk membuat buku yang tidak hanya tentang kepemilikan Jefferson terhadap kitab suci Islam itu, tetapi mengapa Jefferson dan yang lainnya menyertakan umat Islam ke dalam cita-cita negara yang baru lahir. Baru pada 2011, Denise dapat membaca dan meneliti Alquran milik Jefferson itu.

Jefferson membeli Alquran, dua jilid, terjemahan George Sale, pada 1765 di Virginia Gazette , koran lokal di Williamsburg sekaligus penjual buku satu-satunya di Virginia. Nahasnya, lima tahun kemudian, rumah ibunya di Shadwell terbakar. Jefferson tidak menyebutkan apakah Alqurannya terbakar atau terselamatkan. Bagaimana dengan Alquran bertanda tangan Jefferson yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Kongres? Ada dua kemungkinan, Alquran tersebut asli entah selamat dari kebakaran atau salinan dari edisi yang sama.

Jika Jefferson membeli Alquran dua kali, akan menjadi bukti luar biasa dari hasratnya untuk memahami Islam dalam pengertiannya sendiri, dengan melihat langsung dari sumbernya yang paling suci. Kenyataannya, pembelian Alquran hanya menandai awal dari pembelajarannya tentang Islam. Setelah kebakaran itu, dia segera membenahi lagi perpustakaannya, dan berusaha mendapatkan banyak edisi tentang Timur Tengah, sejarah, danperjalanan.

Menurut Denise, meskipun Jefferson memiliki Alquran, tidak ada indikasi dia meneliti teks tersebut ayat demi ayat, sebagaimana yang akan dilakukannya terhadap Perjanjian Baru. Dia membuat dua edisi Injil pilihan yang dia terima sebagai kebenaran dengan menghilangkan bagian-bagian yang tidak layak, sebuah versi yang dikenal setelah kematiannya sebagai Injil Jefferson. Tidak adanya catatan Jefferson terhadap Alquran itu membuat kita berspekulasi bahwa pandangan Sale telah memukaunya.

Sale memberikan ”Wacana Pendahuluan” dalam Alquran terjemahannya tentang sejarah Islam, praktik ibadah, dan hukum Islam. Informasi yang cukup akurat ini kemungkinan besar memengaruhi pemikiran Jefferson tentang Islam. Selain itu, karya John Locke, A Letter Concerning Toleration (1689) juga mendorong minatnya dalam hak-hak sipil umat Islam. Pada Oktober 1776, Jefferson memikirkan pertanyaan yang lebih universal: ”Mengapa menganiaya karena perbedaan dalam pendapat agama?

”Menurut Denise, banyak orang di Eropa telah berjuang dan menderita dalam ketiadaan sebuah jawaban, membuat sebuah minoritas penting di Inggris abad ke-17 dan Amerika Utara untuk memikirkan toleransi terhadap umat muslim. Namun, tidak ada seorang pun hingga Thomas Jefferson yang pernah memberanikan diri untuk membuktikan secara hukum gagasan muslim sebagai warga negara Amerika Serikat.

Dalam pemikirannya tentang kewarganegaraan Amerika, Jefferson menganut gagasan lebih luas dan, pada saat itu, tidak biasa, yang dipinjam dari John Locke pada 1776: ”Tidak ada penganut Pagan maupun Mahameden (muslim) maupun Yahudi yang harus dikecualikan dari hak-hak sipil Persemakmuran sebab agamanya.” Di sinilah dalam catatan Jefferson upaya pertama dalam negara baru tersebut untuk memikirkan ”hak-hak sipil Muslim maupun Yahudi.” Selain fokus pada pandangan Jefferson, buku ini juga menganalisis perspektif John Adams dan James Madison terhadap Islamdanmuslim.

Selain founding fathers tersebut, buku ini juga membahas mereka yang andil dalam menyuarakan hak-hak muslim, yaitu para pemrotes Presbiterian dan Baptis yang menentang penetapan agama resmi di Virginia; pengacara Anglikan James Iredell dan Samuel Johnston di Carolina Utara yang menuntut hak-hak muslim dalam konvensi ratifikasi konstitusi negara bagian mereka; dan John Leland, pengkhotbah Baptis Evangelis sekaligus sekutu Jefferson dan Madison di Virginia, yang mengagitasi di Connecticut dan Massachusetts untuk mendukungkesetaraanmuslim, Konstitusi, Amandemen Pertama, danakhirnyaagamaresmiditingkat negara bagian.

Namun, menurut Denise, mereka melakukannya bukan demi kepentingan umat muslim sungguhan, karena pada saat itu tidak ada yang diketahui tinggal di Amerika. Jefferson dan yang lainnya membela hakhak muslim demi ”Muslim Imajiner,” muslim di masa depan. Yahudi dan Katolik akan berjuang hingga abad ke-20 untuk mendapatkan secara praktik kesetaraan hak yang dijaminkan kepada mereka, meskipun tidak akan sepenuhnya menghapus prasangka terhadap kedua kelompok tersebut.

Sayangnya, hanya muslim yang sampai sekarang tetap menjadi objek dari wacana penghinaan dan marjinalisasi sipil; muslim masih dianggap di banyak wilayah sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya khas Amerika.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL