You are here Info Buku

Resensi Buku

Kiat Menuju Keluarga Bahagia

Surel Cetak PDF
Resensi Buku 30 Cara dalam 30 Hari Menyelamatkan Keluarga Anda karya Rebbeca Hagelin
Koran Sindo | Minggu, 24 Januari 2016 | Lusiana Dewi

Dalam membangun bahtera rumah tangga, setiap orang pasti menginginkan keluarga yang bahagia. Kebahagiaan keluarga bahkan menjadi prioritas bagi banyak orang. Mereka enggan mempunyai keluarga yang di dalamnya hanya ada saling benci atau malah hancur.

Dengan demikian, setiap kali ada masalah, baik itu sumbernya internal maupun eksternal, pasti berusaha untuk dibenahi dan diselamatkan dari kehancuran. Menyelamatkan keluarga dari kehancuran merupakan hal yang ingin dilakukan oleh setiap orang.

Rebecca Halin dalam bukunya, 30 Cara dalam 30 Hari Menyelamatkan Keluarga Anda, mengurai tips-tips untuk menyelamatkan keluarga. Dari 30 cara tersebut, Hagelin memulainya dengan etape pertama; bertekad menghadapi pertarungan sehari-hari. Di dalam kehidupan, ada banyak sekali pertarungan untuk melawan ihwal negatif yang tidak kita inginkan. Terkadang masalah kesehatan, pengaruh budaya, dan sebagainya menjadi batu sandungan dalam membangun keluarga yang bahagia.

Terutama dalam pengasuhan anak. Pengaruh budaya dari luar (keluarga) yang cenderung negatif begitu memprihatinkan. Memerangi budaya modern setiap hari bukan hal yang mudah. Keluarga masa kini lebih sibuk dari sebelumnya dan ketika seseorang sudah letih dan tidak berdaya lagi, mudah sekali untuk menyerah dan mengesampingkan nilai-nilai kita (hal. 15).

Dengan demikian, perang pun harus dikobarkan untuk melawan ihwal yang tidak kita inginkan. Jika kalah, lain waktu harus menang. Jika menang, harus menjadi benteng pertahanan bagi perang kita selanjutnya. Sebuah keluarga minimal terdiri atas sebuah pasangan (suami-istri). Jika pasangan tersebut mempunyai anak, anak pun menjadi anggota keluarga juga.

Anak adalah idaman dari setiap pasangan. Anak adalah curahan kasih sayang. Kendati demikian, mengasuh anak juga bukan perkara yang mudah. Hagelin pernah melakukan perjalanan ke berbagai negeri untuk berbicara dengan organisasi kemasyarakatan, keagamaan, dan pengasuhan anak tentang kenikmatan serta tantangan di dalam mengasuh. Hagelin bertemu banyak orang tua yang hampir semuanya merasa putus asa, yang sudah bosan dan letih karena harus selalu berjuang menghadapi perasan, pikiran, dan jiwa anak-anak mereka (hal 27).

Persoalan inilah yang merupakan etape kedua dari 30 cara yang ditawarkan oleh Hagelin: memimpikan masa kecil yang diidamkan untuk anak-anak, dan sosok dewasa yang diinginkan tumbuh dalam diri anakanak tersebut. Memelihara anak agar tumbuh menjadi orang baik yang diinginkan oleh orang tua adalah hal yang penting dan mendesak dilakukan secara rutin.

Bukan berarti mengekang anak, melainkan mengarahkan anak pada suatu kebaikan. Etape-etape selanjutnya selain kepengasuhan anak, Hagelin menawarkan kenyamanan dalam keluarga. Di antara etape yang diuraikan adalah membuat rumah nyaman, hangat, dan menyenangkan. Tentu hal itu dimaknai secara fisik dan dalam bentuk penghayatan kehidupan. Secara fisik, rumah yang nyaman adalah bentuk rumah yang sesuai dengan kenyamanan dan kadar kesehatan.

Nyaman tidak harus mewah, tetapi memenuhi beberapa pokok yang primer sebagai kebutuhan keluarga. Sementara itu, secara penghayatan, rumah yang nyaman adalah jika para penghuninya saling menghargai dan berbaik hati. Karena itu, suasana hening terkadang dibutuhkan untuk meredupkan berbagai huru-hara yang bisa memicu keributan yang tidak perlu.

Pada saat-saat hening dalam kehidupan itulah Tuhan menyatakan diri-Nya kepada kitadengancara yangpaling intim. Menjadikan saat hening setiap hari sebagai bagian dari rumah kita bisa memberikan manfaat, baik bagi kesehatan jasmani maupun rohani setiap orang (hal 284). Bisa juga bahwa hening tersebut dimaknai sebagai ibadah kepada Tuhan. Ibadah adalah saat hening, yang saat tersebut manusia sebagai makhluk yang papa melakukan komunikasi dengan Tuhannya.

Kita semua pun paham bahwa Tuhan senantiasa mengajarkan kebajikan. Saat hening (baca: ibadah) itulah hati kita merasakan aliran kebaikan dari Tuhan untuk kita praktikkan dan tebarkan dalam keluarga dan sesama. Sebanyak 30 cara versi Hagelin tersebut berisi tips-tips yang ringan, tetapi banyak dilalaikan. Karena itu, etape yang terakhir dari 30 cara yang diuraikan Hagelin tersebut berupa saran untuk membuat daftar kita sendiri.

Daftar yang dimaksudkan adalah bahwa tidak selamanya 30 cara ini mencakup permasalahan semua keluarga. Terkadang, ada persoalan dan problem lain yang menimpa. Dengan demikian, kita pun hendaknya membuat daftar sendiri untuk mengatasinya. Setiap keluarga akan mengalami berbagai tantangan juga kesempatan yang unik.

Mungkin kita pernah tergoda untuk tidak memedulikan beberapa bidang permasalahan dan kesempatan yang paling sulit dalam keluarga kita. Karena itu, hendaknya masing-masing dari keluarga tidaklah boleh menyerah (hal 422).

Buah Pala, Kolonialisme, dan Korporasi Transnasional

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan karya Giles Milton

Koran Kompas | Minggu, 10 Januari 2016 | Siti Maimunah

 

Mengapa rempah-rempah sejenis pala, buah yang tampak kering, keriput, dan tidak jauh lebih besar daripada sebutir kacang, menjadi rebutan bangsa Eropa?

Pala (Myristica fragrans) adalah buah yang membuat bangsa Spanyol, Inggris, Portugis, dan Belanda menghabiskan waktu puluhan tahun, melarung armada-armada terkuat, mengorbankan ribuan pelaut terbaik, serta pendanaan yang tak terbatas, untuk mencapai pulau-pulau gudang rempah di timur jauh: Maluku, Banda, Neira, Ai, dan yang paling diimpikan, Pulau Run.

Padahal, Pulau Run tidak istimewa. Run sebuah pulau karang kecil di bagian luar gugusan kepulauan Banda dengan pelabuhannya yang kecil dikelilingi batu karang di bawah laut dan telah menghancurkan banyak kapal yang mencoba mendarat di sana. Tetapi, tebing dan gunung-gunungnya begitu kusut dengan pepohonan pala dan tiap tahun menghasilkan sepertiga juta pon rempah-rempah!

Gugusan pulau ”gudang rempah” itu diburu karena memproduksi komoditas pasar, seperti pala, kayu manis, cengkeh, lada, dan bunga lawang. Buah pala rempah yang paling dicari. Ia dipercaya bisa menyembuhkan wabah sampar, disentri, hingga berak darah— penyebab kematian paling ditakuti kala itu. Pala melahirkan berbagai pengetahuan medis dan diet, bahkan klaim-klaim tentang khasiatnya sebagai zat perangsang berahi. Harga pala melambung dan hanya orang kaya yang mampu membelinya.

Perburuan rempah

Buku yang judul aslinya Nathaniel’s Nutmeg ini menceritakan sejarah kolonialisme melalui perburuan dan perang antarbangsa demi monopoli perdagangan pala di kepulauan Nusantara. Permintaan pasar dan harga yang tinggi kala itu membuat kerajaan-kerajaan Eropa bernafsu mendapatkan rempah-rempah langsung dari tempat tumbuhnya. Wilayah yang tak mereka ketahui dengan rute sangat berbahaya karena iklimnya yang berbeda serta jarak tempuhnya menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun. Itu pun jika mereka kembali dengan selamat.

Hal terbaik dari buku ini adalah cara Giles Milton menuturkan dan meramu jurnal, catatan harian, dan surat-surat para petualang dari masa perburuan rempah-rempah. Kita diajak mengenal peristiwa dan peran yang dilakukan tiap-tiap petualang dan latar saat kejadian itu berlangsung. Termasuk gaya hidup bangsawan kerajaan Eropa hingga Asia yang tidak jauh dari koleksi barang mewah, pesta-pesta, dan alkohol.

Tentu saja tutur utama buku ini dimiliki para saudagar dan petualang Inggris dan Belanda yang berkompetisi memburu rempah, dengan sifatnya yang keras, pemarah, eksentrik, hingga pembangkang. Inilah kelemahan buku ini. Milton hanya menceritakan kehebatan dan kegigihan perburuan rempah dari kacamata bangsa Eropa. Perampokan kekayaan bangsa-bangsa kepulauan di Nusantara menjadi heroik dan berharga. Kesan yang berbeda terhadap cara pandang Eropa pada penduduk asli yang dianggap primitif, barbar, dan licik. Misalnya, dalam persinggahannya di Table Bay Afrika Selatan (1601), orang Inggris menggambarkan penduduk asli sebagai orang barbar liar yang mudah dieksploitasi. Mereka juga menggambarkan kota Banten dikenal karena perempuan-perempuannya yang murahan dan lemahnya moral serta aura kecabulan yang menggantung di atas kota itu. Orang Belanda menggambarkan penduduk asli Banda sebagai begitu licik dan kurang ajar sehingga nyaris tak bisa dipercaya, sekaligus menggelikan karena menawarkan palanya dengan harga sangat rendah.

Buku ini juga miskin cerita perempuan, seolah mengamini kolonialisme yang berwajah laki-laki, maskulin, patriarki. Tentu ada sosok perempuan yang disebut Ratu Elizabeth. Perempuan paling berkuasa di Inggris yang memiliki 3.000 koleksi gaun terkenal, mewakili kehidupan bangsawan yang bergelimang kemewahan. Akan tetapi, ini juga kekuatan buku Milton. Jika di bangku SD kita membaca heroisme pahlawan Nusantara mengusir penjajah, kali ini heroisme versi sang penjajah.

Intrik, kekerasan, penyiksaan, dan perang mewarnai hubungan antara Inggris, Belanda, dan penduduk asli. Pulau Banda salah satu saksi peristiwa biadab, pembantaian 44 orang Banda dalam kurungan bambu, hingga pemindahan sedikitnya 900 orang Banda ke Jawa untuk dijual sebagai budak, yang seperempatnya mati di perjalanan. Mungkin inilah awal bangsa Indonesia mengenal kekerasan sebagai cara penaklukan, termasuk metode penyiksaan yang dipaparkan dengan gambar, saat orang Inggris menyiksa orang China ataupun orang Belanda menyiksa orang Inggris.

Hal berharga setelah membaca buku ini bukan perasaan bangga sebagai bangsa pemilik Pulau Run, yang pernah ditukar dengan Manhattan, salah satu kota utama di Amerika Serikat, seperti tertera dalam sampul buku ini. Lebih penting memaknai buku ini dalam memahami posisi penting Indonesia di masa lalu sebagai wilayah penghasil komoditas global, yaitu rempah-rempah—yang menjadi pintu akumulasi kapital bangsa Eropa.

Kongsi Inggris-Belanda

Perburuan rempah-rempah menjadi penanda penting menguatnya relasi pemerintahan dan pebisnis Eropa, serta tonggak lahirnya korporasi modern transnasional: kongsi dagang Inggris, The East India Company (1599), pesaingnya kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada 1602. The East India Company hampir bangkrut lebih setengah abad kemudian, tapi diselamatkan oleh suntikan dana menjadi korporasi modern, permanen dengan saham gabungan. Ini mengingatkan kejadian yang dipraktikkan korporasi masa kini.

Perseteruan bangsa Eropa atas pulau-pulau rempah, yang melibatkan Pulau Run, melahirkan perjanjian damai antara Inggris-Belanda: Pakta Westminster pada 1654, yang memasukkan tuntutan biaya restorasi Pulau Run. Namun, perjanjian ini belum mengakhiri siksaan terhadap Run. Pada 1664, Pulau Run kembali mengalami penghancuran besar-besaran, rumpun pala ditebang dan tumbuhan dibakar hingga ke akar-akarnya oleh Belanda. Run menjadi karang tandus dan tidak ramah. Inilah yang menjadi alasan Inggris menuntut pertukaran Pulau Run dengan Manhattan. Namun, akhirnya, di balik semua dinamika pertukaran tersebut, yang paling menderita adalah penduduk Pulau Run. Inilah makna pertukaran itu.

Begini Caranya Menyeimbangkan Hidup untuk Bahagia

Surel Cetak PDF

Resensi buku Hidup Seimbang Hidup Bahagia karya AkhirudinDC

Wasathon.com | Selasa, 5 Januari 2016 | Lusiana Dewi

 

Kebahagiaan adalah sebuah status yang ingin dicapai oleh setiap manusia. Kebahagiaan banyak dijadikan tujuan hidup. Tidak ada manusia yang mau hidup dalam kesengsaraan meskipun kesengsaraan itu pasti dialami untuk mencapai kebahagiaan. Bukankah pepatah mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian?"

Pepatah yang bijak itu menyiratkan bahwa bersenang-senang (baca: kebahagiaan) itu harus dilakukan dengan penuh keprihatinan, usaha serta doa, keteguhan, dan kesungguhan tekad untuk mencapai kebahagiaan. Tidak jarang bahwa jalan tersebut membuat seseorang harus bersakit-sakit (sengsara) terlebih dahulu. Entah bagaimana kebahagiaan itu mewujud—karena kebahagiaan adalah subjektif—banyak orang menginginkan hidup bahagia.

Hanya saja, dalam hidup ini dibutuhkan keseimbangan. Hidup yang seimbang adalah hidup yang bahagia. Hal itulah yang disimpulkan oleh Akhirudin DC, MA dalam bukunya yang berjudul “Hidup Seimbang Hidup Bahagia”. Buku tersebut merupakan serangkaian motivasi untuk meraih kebahagiaan dengan menyeimbangkan kehidupan.

Hidup seimbang berarti hidup dengan menjaga dua bentuk keseimbangan, yakni keseimbangan internal dan eksternal. Keseimbangan internal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak dari diri sendiri. Diri kita memiliki empat dimensi; fisik, semosional, mental, dan spiritual. Masing-masing dimensi perlu dilayani haknya agar diri seimbang. (hlm. 17).

Sementara itu, keseimbangan eksternal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak orang-orang di sekitar kita. Kita sudah mengetahui bahwa setiap orang pasti memiliki beberapa peran yang berbeda dalam hidupnya. Orang yang hidupnya seimbang melayani semua peran dalam hidupnya dengan baik. Artinya, ia memenuhi semua hak dari setiap peran hidupnya. (hlm. 17 – 18).

Dengan demikian, keseimbangan dalam hidup adalah memenuhi hak diri sendiri. Akan tetapi, tidak melalaikan bahwa diri sendiri tersebut juga hidup bersosial dengan orang-orang di sekitar. Artinya, egoisme tidak boleh diutamakan. Kita berhak memenuhi kepentingan dan kebutuhan diri sendiri, tetapi tidaklah harus mengorbankan orang lain untuk memenuhi tersebut karena pada dasarnya hal itu tidak seimbang.

Secara umum, keseimbangan dapat kita pahami sebagai posisi tegak di tengah antara dua hal, yang kedua hal tersebut sama atau hampir sama sehingga tidak cenderung ke salah satu di antara kedua hal tersebut. Seimbang juga berarti sebanding, sepadan, atau kesamaan. (hlm. 19).

Oleh karenanya, keseimbangan tidak melulu pada satu hal yang disukai. Lebih dari itu, keseimbangan itu berdiri tegak di tengah untuk mengakomodasi segalanya melalui tengah-tengah. Hanya saja, banyak dari manusia yang hanya cenderung untuk memenuhi hak individunya sendiri (egosentris), padahal kebahagiaan itu tidak didapatkan dari kesendirian. Kebahagiaan bisa datang dari orang lain yang ada di sekitar kita.

Tentu saja bahwa keseimbangan tersebut menjadi kunci dari kebahagiaan hidup lantaran pemenuhan kebutuhan antara dua hal atau lebih itu selaras. Bisa saja seseorang itu sukses secara individual, tetapi tidak bahagia secara sosial karena tidak mempunyai lawan bicara (teman) untuk menumpahkan segala curahan hati.

Kehidupan individu di dalam hubungan sosial memang tidak perlu kehilangan identitasnya. Sebab, kehidupan sosial adalah realitas sama riilnya dengan kehidupan individu itu sendiri. Individualitas itu dalam perkembangan selanjutnya akan mencapai kesadaran sosial. Setiap manuia akan sadar perlunya hidup bersama segera setelah masa kanak-kanak yang egosentris berakhir. Hal tersebut menunjukkan tentang keseimbangan hidup seseorang dalam masyarakat. (hlm. 69 – 70).

Dengan begitu, selaraslah prinsip hidup seimbang itu dengan apa yang pernah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, bahwa sebaik-baik sesuatu adalah di tengah-tengah. Maksudnya, untuk segala sesuatu itu kita tidak perlu berlebihan. Namun demikian, kekurangan juga harus kita hindari. Kesimpulannya, tidak berlebihan dan tidak kekurangan itu menjadi landasan keseimbangan.

Ibarat masakan, setiap bumbu itu harus proporsional. Bukankah memberikan garam secara berlebihan malah akan berakhir keasinan dan masakan menjadi tidak enak? Pun begitu juga dengan merica atau cabai yang ditaburkan secara berlebihan. Maka masakan akan menjadi terlalu pedas. Jika kurang garam pun masakan terasa tidak nikmat. Begitu juga jika merica atau cabai itu hanya dibubuhkan sedikit, maka masakan tersebut terasa kurang menendang.

Sikap seimbang memiliki beberapa makna yang sejalan dengan sikap pertengahan, tawazun, dan beberapa istilah senada lainnya. Konsep keseimbangan adalah paham yang menetapkan sikap tidak berlebihan dan tidak kekurangan dalam segala aspek kehidupan manusia di alam semesta ini yang merupakan sikap yang terbaik, karena ia dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya (proporsional). (hlm. 153).

Akhirnya, dengan membaca buku setebal 176 halaman ini, para pembaca diajak untuk meletakkan segala sesuatu dalam aspek kehidupan secara seimbang. Posisi yang seimbang tersebut merupakan kunci kebahagiaan. Banyak hal di dunia ini diciptakan secara berpasangan. Ada kehidupan dunia, maka ada kehidupan akhirat. Ada kehidupan secara individu, maka ada pula kehidupan secara sosial. Jika ingin bahagia, maka yang berpasangan itu harus disikapi secara seimbang.

 

Belajar Kesalahan dari Hidup Itu Penting

Surel Cetak PDF

Resensi buku Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati karya Asih Karina

Koran Jakarta | Kamis, 31 Desember 2015 | Zahrotul Ummah

 

Perjalanan hidup yang paling indah adalah ketika bisa menikmati masa-masa pernikahan secara bersama-sama. Selain itu bisa merasakan kenikmatan ketika merawat dan membesarkan anak yang telah dinanti selama pernikahan berlangsung. Namun, ketika angan dan harapan itu bertolak belakang. Maka sakit dan luka kehidupanlah yang akan dirasakan.

Novel yang berjudul Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati ini menceritakan tentang kehidupan Asih Karina. Seorang gadis desa di wilayah Kepanjen-Kabupaten Malang bagian selatan yang memimpikan sebuah pernikahan yang indah, tetapi impian itu justru hilang setelah suaminya mengkhianati dirinya. Sosok orang ketiga memicu perpisahan mereka yang tidak lain adalah mantan istri suaminya, Kadek. Latar belakang yang diceritakan bahwa Karin, sapaan hangat Asih Karina adalah anak dari keluarga broken home yang ditinggal oleh ayahnya dan tinggal bersama seorang ibu yang begitu sangat menyayangi dirinya.

Karin berjuang dan melakukan berbagai macam cara agar suaminya bisa kembali kepadanya. Bahkan keluarga dari sang suami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan pernikahan mereka. Suaminya meninggalkan dirinya saat dia sedang mengandung anak, dari buah cinta bersamanya. Saat itulah Karin merasa dirinya begitu dibenci dan diabaikan oleh suaminya sendiri.

Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Malam menjelang pernikahan mereka, dengan isak tangis Karin menelpon Ardhan yang merasa dirinya terlalu lelah dan merasa ragu dengan langkah yang akan ditempuhnya. Di antara gemuruh hujan itu, Ardhan membuatnya yakin bahwa dialah orangnya yang akan membuat hidup Karin menjadi seperti seorang ratu di dunia ini.

Ungkapan yang masih diingat Karin adalah ucapan manis dari suaminya dulu.“Jangan takut, aku nggak akan jadi suami biasa, aku pengin Sayang bahagia. Aku mau jadi suami baik setiap hari. Biar semua orang tahu kalao Sampeyan sangat disayangi suaminya.”(hal 28)

Perkataan Ardhan yang membuat hati Karin menjadi yakin untuk tetap menikah dengannya. Tetapi, janji tinggallah janji yang tidak akan bisa dituntut karena tidak hitam diatas putih. Semua perkataan Ardhan yang begitu dicintai oleh Karin seolah mengambang di udara, hampa dan kosong. Sejak malam itu, hari-hari Karin dimulai dengan penantian yang sangat panjang dan membuat orang lelah serta jenuh untuk melakukannya.

Ungkapan hati Karin yang tersakiti oleh cambukan sikap dan kata-kata yang keluar dari mulut Ardhan, membua sakit dan pilu hingga Karin ingin mengakhiri hidupnya. Tetapi Karin menepis keinginannya itu karena Karin masih memikirkan ibunya. Karin tidak bisa membayangkan bagaimana cerita hidup selanjutnya jika dia berani bunuh diri. Ditemukan ibunya menggantung di atap kamar mandi, bagaimana perasaan ibunya ? (hal 42)

Begitu perih dan pedih kehidupan pernikahan yang dijalani Karin, hingga dia mengandung buah cintanya bersama suaminya, Ardhan Hasyim. Usia 5 bulan pernikahan adalah masa dimana sepasang suami istri baru mengarungi samudra pernikahan. Saat inilah suami istri akan membagi rasa kasih sayang serta cintanya untuk pasangan mereka. Tetapi tidak untuk Karin, yang harus berjuang seorang diri menahan sakit yang mendalam dan tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Dunia  serasa tidak adil, ketika Karin dan ibunya memeriksakan kandungannya. Seharusnya dalam keadaan hamil seperti ini, Karin harus merasakan kemanjaan-kamanjaan seorang istri yang sedang mengandung. Apalagi ini pertamakali yang dirasakannya.

Beban itu semakin berat dan rasa takut selalu menghantuinya. Kemungkinan Karinalah orang yang merebut suami perempuan itu. Rasa perpisahannya lima tahun yang lalu, bukanlah akhir dari cerita mereka. Karena itulah Tuhan menimpakan sakit yang sama pada Karin di saat dirinya tengah mengandung benih suaminya, yang juga pernah menjadi suami perempuan itu.

Perasaan yang sangat menyakitkan bagi Karin, hingga dirinya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, harus menipu semua orang. Keluarganya tidak tahu tentang pernikahan adat di Bali bersama Kadek, wanita yang dinikahi suaminya lima tahun silam. Tanpa ada yang tahu, bahwa dia telah memiliki seorang anak, buah cinta dari Kadek dan Ardhan, suami Karin. (hal 183)

Banyak lika-liku kehidupan dan masalah yang ditimbulkan oleh Kadek, mantan istri suaminya. Karin harus berhadapan dengan wanita yang berhati dingin dan penuh dengan rasa iri. Iri karena Ardhan menikah dengan Karin yang terlihat sangat bahagia saat foto bersama di Bali. Kini hanya berusaha untuk tegar dan berusaha sekuat tenaga untuk merawat janin yang sedang dikandungnya. Ketegaran Karin semakin kuat setelah lahir anak perempuannya yang diberi nama, Ebony yang berarti kuat.

Novel yang terangkat dari kisah nyata, seorang gadis yang bernama Asih Karina. Penggunaan alur yang bolak-balik dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh semua pembaca. Seolah-olah penulis ingin  menyeret pembaca untuk melihat langsung kejadian yang dialami.

Kisah ini mengajarkan kepada pembaca untuk lebih berfikir panjang. Bahwa kehilangan seseorang yang begitu dicintai bukan berarti hidup kita berakhir begitu saja. Namun, dengan permasalahan yang ada mampu kita hadapai dengan tagar dan sabar. Sehingga secara tidak langsung kita selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Belajar dari kesalahan adalah guru terpenting dalam kehidupan.

Persoalan dan Gagasan Pendidikan Nasional

Surel Cetak PDF

Resensi buku Calak Edu 3 karya Ahmad baedowi

Malang Pos | Minggu, 27 Desember 2015 | Muhammad Khambali


Buku Calak Edu 3 ini menguraikan berbagai persoalan sekaligus gagasan untuk pendidikan nasional di Indonesia. Ahmad Baedowi dalam tulisan esai mengenai pendidikannya tidak hanya berisi kritik, namun juga menawarkan solusi alternatif guna perbaikan dunia pendidikan.

Menurut Ahmad Baedowi potret pendidikan kita adalah sebuah paradoks. Ketika hasil PISA mengatakan para siswa di Indonesia termasuk dalam kategori siswa paling bahagia. Sementara hasil pemeringkatan PISA menunjukkan para siswa Indonesia berada pada level terendah dalam penguasaan matematika, sains, dan literasi.

Sebuah ironi, ketidaktahuan menjadi sebuah kebahagiaan. Maka jangan-jangan selama ini pendidikan nasional tidak melakukan pekerjaan pendidikan (education), tetapi lebih memilih mengurusi aspek edu-tainment, Yang penting bagaimana membuat anak-anak bahagia, meskipun mereka bodoh (hlm 39).

Secara psikologis, jelas sekali ada paradoks yang besar antara capaian akademik yang rendah dan rasa bahagia ini. Ada yang salah dengan sistem persekolahan. Orientasi pendidikan yang selama ini berfokus pada hasil membuat proses belajar tak lagi penting. Siswa bersenang-senang di sekolah, tetapi tidak sungguh belajar.

Rendahnya hasrat belajar berbanding lurus dengan rendahnya tradisi literasi di sekolah. Setali tiga uang dengan minimnya budaya membaca. Bagi Ahmad Baedowi hal itu disebabkan oleh kebijakan Ujian Nasional. Tradisi membaca tak tumbuh karena dalam proses belajar mengajar di sekolah, anak-anak lebih banyak diajarkan untuk menghafal, terutama menghafal jenis soal yang akan keluar dalam Ujian Nasional (hlm 68). Kebiasaan menghafal, membuat membaca menjadi aktivitas yang membosankan.

Ahmad Baedowi menyesali generasi pembaca tak tumbuh dengan baik karena belenggu kebijakan pendidikan memang sengaja tak menciptakan kecintaan terhadap membaca. Orientasi terhadap hasil berupa kelulusan dan ijazah semata melahirkan frustrasi belajar. Menciptakan minimnya minat baca dalam mengarungi fantasi belajar yang menyenangkan.

Gejala-gejala rendahnya budaya membaca dan hasrat belajar juga banyak disebabkan oleh politik pendidikan yang hanya berorientasi kepada dunia kerja. Dalam pandangan demokrasi liberal dan kapitalisme, pendidikan selalu diarahkan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai human capital. Pendidikan nasional terjerumus ideologi yang memandang para siswa semata human capital milik industri dan negara, dan karenanya sekolah harus dikelola dengan cara-cara produksi (hlm 92-94).

Selanjutnya buku ini membahas mengenai politik pendidikan nasional. Pendidikan tak terlepas dengan politik, dan politik adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Politik pendidikan kita semestinya mengacu pada nilai identitas bangsa ini. Salah satunya adalah mengenai politik bahasa.

Bahasa menjadi kata kunci teramat penting yang tidak bisa dilepaskan dari politik bahasa dan kebijakan sebuah bangsa. Pentingnya bahasa sebagai alat pemersatu, bukan pemecah-belah keragaman, adalah distingsi yang harus terus dipelihara sebagai sebuah kebijakan negara yang tidak bisa ditawar, termasuk di sekolah (hlm 130).

Bagi para murid di pedesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah. Hal ini yang menjadikan politik bahasa menjadi sangat penting. Ahmad Baedowi melihat pentingnya menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di TK sampai tahun-tahun awal di SD. Dan juga menyarankan adanya otonomi pendidikan agar pemerintah daerah mendesain sendiri buku-buku berbahasa lokal (hlm 131).

Ahmad Baedowi mengutarakan bahwa mengurusi pendidikan adalah proses yang tiada akhir (hlm 224). Ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan kritis, Ahmad Baedowi mempersoalkan berbagai paradoks yang terjadi dalam dunia pendidikan nasional. Komarudin Hidayat memberikan apresiasi terhadap buku Calak Edu 3 ini sebagai bagian dari proses belajar bersama untuk perbaikan pendidikan. Berharap menginspirasi para guru, kepala sekolah, dan praktisi pendidikan dalam membangun budaya dan lingkungan pendidikan yang positif dan lebih baik.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL