You are here Info Buku

Resensi Buku

Thomas Jefferson, al-Quran, dan Kebebasan Beragama

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

icrp-online.org | Minggu, 8 Juni 2014 | Mohammad Monib (Direktur Eksekutif ICRP)

 

Minggu kemaren, saya datang ke Wahid Institute di Taman Amir Hamzah Matraman. Ada rapat konslidasi RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. ICRP dan LBH memang sedang memantau dan mengawal RUU kontraversial yang mandeg dan tidak kunjung disahkan. Menunggu waktu datangnya peserta lain, saya masuk ke tokoh buku di sana. Mataku terantuk ke rak New Arrival, yang memuat buku-buku yang baru terbit. Mataku ditarik kuat oleh sebuah buku. Kontraversi al-Qur’an Thomas Jefferson. “Pasti menarik buku ini”, bisik akalku. Sinopsis buku itu saya baca, pengantar dari penulisnya saya ladap, dan saya membelinya.

Thomas Jefferson adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-3. Sebagai alumni fakultas hukum, ia memahami mendalam urusan ketata-negaraan dan perundang-undangan. Jefferson berkontribusi besar  dalam pembuatan konstitusi (UUD) Amerika Serikat. Dikisahkan dalam buku ini, bahwa ia sempat mengalami pergulatan intelektual dan gejolak jiwa berkaitan nasib, hak dan kewajiban para imigran non-Protestan yang kelak menjadi warga Negara Paman Sam. Bisa kaum Yahudi dan umat Islam.Jefferson berimajinasi masa depan mereka kelak. Tapi bagaimana sistem dan nilai-nila dasarnya? Dalam perjalanan waktu, Jefferson berkenalan dengan al-Qur’an. Sejak itulah ia tertarik dan mendalami prinsip-prinsip ajaran Islam. Salah satu ucapannya adalah: “”Tak seorang pun dari kalangan Pagan, Muslim, ataupun Yahudi boleh dikucilkan dari hak-hak sipil Persemakmuran karena agamanya”. Bagaimana ia mengenal prinsip maha penting itu?

Adalah Geoge Sale (1696-1736), seorang pengacara dan penganut Kristen Anglikan. Dialah penerjemah al-Qur’an pertama di benua Amerika. “Mohamet merupakan legislator kaum Arab”, begitu komentarnya dalam pengantarnya. Al-Qur’an secara umum abad itu diposisikan sebagai Lex Saracenorum”: Hukum orang Saracen (sebutan bagi orang-orang Arab muslim). Menariknya, terjemahan ini dipakai dari abad ke-12-18. Terjemahan Sale inilah yang dibeli oleh Jefferson lewat sebuah penerbit Koran di sana. Pembeli lain adalah Voltaire. Siapakah tokoh dunia ini?Ia adalah François-Marie Arouet (lahir 21 November 1694 – meninggal 30 Mei 1778 pada umur 83 tahun), lebih dikenal dengan nama penanya Voltaire. Ia merupakan filusuf dan penulis Perancis pada Era Pencerahan. Voltaire dikenal tulisan filsafatnya yang tajam, dukungan terhadap hak-hak manusia, dan kebebasan sipil, termasuk kebebasan beragama dan hak mendapatkan pengadilan yang patut. Ia adalah pendukung vokal terhadap reformasi sosial walaupun Perancis saat itu menerapkan aturan sensor ketat dan ancaman hukuman yang keras bagi pelanggarnya. Sekalipun demikian ia memiliki peran dalam proganda negatif tentang Islam.

Tokoh pemikir lain yang dikisahkan dalam buku ini adalah Jhon Locke. Setelah berkali-kali membela hak-hak keagamaan dan politik umat Islam, tahun 1696, ia dituduh sebagai penganut Islam. Locke pun dituduh melakukan bid’ah. Pemikir politik dan kenegaraan ini bahkan dituduh sebagai sebagai Kristen sesat, anti-trinitas dan penganut monoteisme Islam. Hal lain yang menarik adalah tentang teks filsafat berbahasa Arab bernama “Hayy ibn Yaqzan”. Karya ini ditulis Ibnu Tufail. Sewaktu di Gontor saya sudah membaca ulasannya. Karya ini kontraversi di Barat. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris dilakukan Edward Pococke. Seorang  dosen bahasa Ibrani dan Arab di Oxford pada 1652. Dosen ini pula yang mengenalkan pemikiran Arab Islam ke Jhon Locke. Ternyata terjemahan itu menghebohkan dan mempengaruhi pemikir Eropa umumnya. Tahun 1719, buku ini menginspirasi Daniel Defoe untuk membuat novel berjudul Robinson Crusoe. Kisah Tarzan yang popular itu berasal darinya. Karya intelektual filosofis ini pula yang menginspirasi Jhon Locke menulis Essay on Human Understanding. Itulah sebagian cuplikan hal-hal menarik dari buku Kontraversi al-Qur’an Thomas Jefferson.

AGAMA ITU HIDANGAN BEBAS

Isu kebebasan beragama dan berkeyakinan masih mahal dan istimewa di negeri ini. Sebagian besar umat Islam tidak memahaminya. Padahal surat dan ayat berbicara prinsip itu mereka baca tiap hari. Hanya saja, karena yang meniupkan keras ke seluruh penjuru dunia Negara-negara Barat, umat Islam menyangkanya sebagai cara dan metode Barat merusak Islam. Ormas-ormas radikal dan majelis ta’lim menolak dan menuduh para pegiat atau aktivis kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai musuh Islam. Atau perusak dan penoda ajaran Islam. Kita masih ingat serangan FPI terhadap Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan beberapa tahun berlalu.

Agama sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an merupakan hidangan Ilahi. Ia merupakan panduan dan pembimbing orientasi hidup baik, jujur, amanah, beramal dan membela nilai-nilai kemanusiaan. Agama mengabarkan hal-hal ukhrawi, alam pasca kehidupan di dunia. Informasi dan berita  dari “langit”. Agama pada dasarnya serupa dengan udara. Ia kebutuhan utama jiwa. Tanpa agama jiwa manusia seakan mati. Tentu agama yang saya maksud adalah nilai-nilai iman, keluhuran, keharmonisan, perangkat ritual kepada sumber hidup dan pengabdian kepada kemanusiaan. Sekalipun maha penting, agama oleh Tuhan diposisikan sebagai free something. Boleh diyakini atau diabaikan. Bahasa al-Qur’annya:faman sya’a falyu’min waman sya’a falyakfur Take it or leave it. Boleh anda menyendoknya atau membuangnya. Islam memang menghendaki keagamaan kita berbasis pilihan sadar, bebas dan penuh pemahaman. Prasyarat ini bila dipenuhi akan mengantarkan kualitas mukhlisina lahu al-diin. Penghambaan dan ketundukan secara sukara rela penuh kesadaran jiwa. Inilah prinsip dasar beragama yang dipancangkan Islam.

Tetapi, hal itu tidak terbangun di negeri ini. Bila kita meneriakkan kebebasan beragama dan berkeyakinan,  kesetaraan hak dakwah dan beribadah, membela tempat ibadah umat non-msulim, kita dilabel antek Amerika, Yahudi atau antek Kristen. Bila kita bela minoritas dan hak-hak konstitusional mereka, kita dimusuhi, dikafirkan dan dimurtadkan. Persis yang dialami pahit-getirnya  oleh Jhon Locke dan Thomas Jefferson di awal pembentukan Negara Amerika Serikat.

Ajaib dan tragisnya, saat umat non-muslim berjuang kuat menegakkan prinsip-prinsip luhur aaran al-Qur’an dan tidak ingin mengulangi nalar primitif itu, umat Islam di Indonesia, justru bersemangat menegakkannya. Umat Islam justru bergairah melakukan aksi-aksi kasar dan radikal  sebagai Quraish jahiliyah Makkah lakukan terhadap Rasulullah dan minoritas Islam saat itu.Maha benar, betapa al-Qur;an itu telah menginspirasi tokoh-tokoh dunia dalam menata relasi-relasi kemanusiaan, penegakan keadilan dan kesetaraan universal dan sikap non-diskriminasi. Saat bersamaan umat Islam justru berupaya merobohkan ajaran Ilahi itu. Umat Islam justru alergi, menyempitkan rahmat dan membuang hidangan sedap dan warisan luhur Nabi. Al-Qur’an memang hanya terbuka cahaya intelektualnya bagi yang bernalar dan menfungsikan kekuatan akal.

Menyelamatkan Masa Depan Anak lewat Pendidikan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Koran Jakarta | Kamis, 5 Juni 2014 | Nur Faridah

 

Setiap anak terlahir dalam keluarga dan situasi lingkungan yang berbeda-beda. Betapa beruntungnya jika seorang anak lahir dalam keluarga yang secara ekonomi termasuk kategori mampu dan dalam situasi lingkungan yang sangat mendukung perkembangan pendidikannya. Namun, tidak semua anak beruntung seperti itu. Di banyak belahan dunia, ada begitu banyak anak yang lahir dalam keluarga dan situasi lingkungan yang sebaliknya.

Banyak anak lahir dalam keluarga tidak mampu secara ekonomi dan akses pendidikan sangat terbatas. Mereka sebenarnya sangat ingin mengenyam pendidikan dengan fasilitas memadai, tetapi tak berdaya. Mereka seperti terlahir di “tempat yang salah”. Masa depan mereka menjadi suram. Tidak jarang mereka kemudian menjadi objek kejahatan dan eksploitasi, terutama anak-anak perempuan.

Ketimpangan seperti itulah yang menggerakkan seorang John Wood, mantan pejabat Microsoft, yang memilih keluar dari perusahaan raksasa itu untuk mendirikan Room to Read pada 1999. Ini adalah organisasi nirlaba yang mempromosikan pendidikan, kesetaraan jender, dan minat baca anak-anak di seluruh dunia. Organisasi tersebut menggalang dana dari negara-negara kaya untuk membangun sekolah-sekolah dan perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah terpencil di berbagai negara.

Wood membayangkan Amerika Serikat menghabiskan 900 miliar dollar dalam peperangan di Afganistan dan Irak selama lebih dari satu dekade. Jika 10 persen saja didedikasikan untuk membangun sekolah-sekolah, perubahannya pasti radikal. Dengan 9 miliar dollar, kelompok yang bergerak cepat seperti Room to Read dapat bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk membangun 272.000 sekolah. Ini akan menghasilkan lebih dari satu juta ruang kelas baru. Dengan 25 anak per kelas, baru memberi dampak pada 25 juta siswa (hal 4).

Buku ini sejatinya merupakan catatan perjalanan Wood bersama Room to Read yang ditulisnya sendiri, yang penuh dengan lika-liku, demi merealisasikan tujuan organisasinya. Di sini dikisahkan perjuangan tim Room to Read yang sangat inspiratif di Nepal, Kamboja, Laos, Vietnam, India, Sri Lanka, Bangladesh, Zambia, dan Afrika Selatan. Room to Read tak hanya mendirikan sekolah dan perpustakaan, tetapi juga memonitor program dengan saksama dan menindaklanjutinya demi kesuksesan siswa berkelanjutan (hal 21).

Selama sebelas tahun terakhir, Wood bersama Room to Read telah mendirikan lebih dari 12 ribu perpustakaan, menerbitkan lebih dari 10 juta buku, membangun lebih dari 1.500 sekolah, dan mendukung lebih dari 13 ribu anak perempuan menyelesaikan sekolah menengah.

Tak heran, dia mendapat sejumlah penghargaan, termasuk pengakuan sebagai Young Global Leader oleh World Economic Forum. Majalah Time bahkan menyebutnya sebagai salah seorang “Pahlawan Asia”, sementara The Public Broadcasting Corporation mencatat namanya sebagai salah satu “Pemimpin Besar Amerika”.

Buku ini memberi banyak pelajaran berharga seperti semangat membangun budaya literasi di kalangan anak-anak, terutama perempuan, agar lebih mencintai buku dan menempuh pendidikan secara layak. Dengan itu, setidaknya masa depan mereka bisa menjadi lebih baik. Mereka juga akan dapat berkontribusi penting dan berharga bagi negara. Dengan memberi kesempatan mengenyam pendidikan dan mencintai buku berarti masa depan mereka terselamatkan dari kesuraman.

Para Juru Damai Perang Salib

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan karya Paul Moses

Koran Sindo | Minggu, 25 Mei 2014 | Noval Maliki

 

Perang Salib merupakan peristiwa monumental yang menandai sisi gelap para pemeluk agama dalam sejarah. Perang Salib merupakan peristiwa monumental yang menandai sisi gelap para pemeluk agama dalam sejarah.

Sejak pertama kali dikobarkan oleh Paus Urban II pada tahun 1095 dengan misi merebut Yerusalem dari tangan kaum muslim, tak terhitung nyawa manusia melayang dan kepala terpenggal dengan darah menggenangi bumi dari kedua belah pihak. Tidaklah mengherankan, meski terjadi satu mileu yang lalu namun keganasan dan kengerian serta api peperangan masih memercik hingga kini pada sebagian orang.

Tidak jarang sentimen Perang Salib dikobarkan demi menguak luka lama, dengan menggunakan jargon dan idiom yang digunakan pada masa itu. Akan tetapi, Perang Salib rupanya tidak melulu kisah pertumpahan darah atas nama Tuhan. Di dalamnya juga terdapat kisah mengagumkan dari pribadi-pribadi luar biasa dari kedua belah pihak. Sebuah kisah tentang perdamaian, yang telah diceritakan dari jutaan bibir selama hampir delapan ratus tahun dan tetap bergema dalam berbagai suasana, termasuk ketika umat Kristen dan Islam saling curiga.

Sebuah kisah, sebagaimana yang dihadirkan dalam Santo dan Sultan ini, tentang bagaimana para juru damai berusaha dengan caranya sendiri untuk memutus siklus kekerasan yang terjadi. Puncak peristiwa yang dihadirkan adalah pertemuan antara Fransiskus dari Asisi dengan Sultan Al-Kamil yang kemudian menghasilkan sebuah upaya damai di antara pihak yang bertikai. Sebelum dikenal sebagai salah satu santo terbesar, Fransiskus dari Assisi pada awalnya adalah seorang anak muda pemuja kekesatriaan bernama Francesco dengan nama baptis Giovanni, anak seorang saudagar kaya dari Assisi.

Menjadi tawanan Perugia akibat kalah berperang ketika membela Assisi pada tahun 1203, mengakibatkan terjadinya perubahan baik secara fisik maupun mental pada dirinya. Selain malaria yang dia derita, trauma akibat kecamuk perang menyebabkan psikologinya terganggu. Fransiskus selalu merasa hampa dan tertekan. Maka dimulailah proses pertobatannya. Dia mulai membenci dirinya dan menghina halhal yang dulu dia cintai dan kagumi. Dia akhirnya mengisi kehampaan tersebut dengan Tuhan dan secara bertahap mengalami kebangkitan spiritual (halaman 22).

Untuk menjauhkan diri dari kehidupan keprajuritan, Fransiskus berbalik menentang nilainilai yang dianut ayah dan teman- temannya, yaitu kekayaan dan kehormatan. Sebuah sikap yang bukan hanya berisiko direndahkan secara sosial, namun juga menerima kekerasan fisik. Bahkan ia juga harus berhadapan dengan Paus Innosensius III yang tengah semangat mengobarkan Perang Salib Kelima. Adapun Malik al-Kamil Nasrudin Muhammad lahir pada 19 Agustus 1180, kira-kira satu setengah tahun sebelum kelahiran Fransiskus. Keponakan seorang panglima paling terkenal dalam Perang Salib, Salahuddin Yusuf bin Ayyub atau biasa dikenal dunia Barat dengan sebutan Saladin.

Pada masa-masa awalnya, Malik al- Kamil dididik dalam hal kekuasaan. Salah satu pelajaran besar baginya datang setelah Perang Salib Ketiga diluncurkan pada 1189. Menurut salah satu kronik Perang Salib, pada 29 Maret 1192 Al-Kamil, yang masih belia dan dididik dalam ketaatan yang teguh pada hukum Islam, menjalani sebuah ritual di bawah pemimpin Tentara Salib, Richard, yang oleh sejarawan disebut sebagai “sakramen kedelapan”. Pengalaman ini tak pelak menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi pada diri Al-Kamil terhadap orang-orang Kristen.

Sehingga tak mengherankan jika Al-Kamil digambarkan sebagai pejabat yang selalu memperhatikan keinginan mayoritas umat Kristen (halaman 92). Tanggal pasti kedatangan Fransiskus di Mesir tidak diketahui, tetapi dia kemungkinan turun dari kapal tentara salib tak lama setelah pertempuran 31 Juli. Di tengah sengitnya pertempuran antara pasukan muslim pimpinan Al-Kamil dan tentara salib pimpinan Kardinal Pelagius sebagai wakil Paus dan John dari Brienne.

Respons Fransiskus terhadap para penghasut perang pada zamannya adalah dengan berusaha mengembalikan gereja ke akarakarnya sebagaimana pada zaman rasul, ketika sikap antikekerasan masih menjadi aturan dan sesuatu yang boleh diabaikan. Kisah nyata Fransiskus, Sang Sultan, dan percakapan damai yang terjadi antara keduanya pun berlangsung.

Meski demikian, sejarah kemudian mengubur kisah tersebut karena peristiwa ini tidak sesuai dengan tujuan para paus yang terus menggalang dukungan bagi serangkaian serangan Perang Salib. Dengan metode jurnalistik dari kerja penelusuran sebagaimana yang telah dilakukan para ahli Alkitab dalam menemukan Yesus yang historis dalam Injil, Paul Moses, penulis buku ini, melihat setiap peristiwa sesuai dengan konteks zamannya.

Traktat Toleransi ala Thomas Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Atjehtoday | Kamis, 22 Mei 2014 | Muhammad Bagus Irawan

 

Buku berjudul Kontroversi Al-Qur’an Thomas Jefferson ini memberikan sebuah sejarah baru yang menelikung historisitas pendirian Amerika Serikat. Buku ini akan menyajikan catatan historis, detik-detik dirumuskannya traktat toleransi dan kebebasan beragama, juga pergumulan pikiran, dan pro-kontra gagasan menjadikan negara ramah agama apapun, termasuk Islam, di masa depan yang mengundang banyak hujatan mayoritas penduduk Amerika yang Protestan.

Buku ini juga menjadi bukti bahwa para pendiri Amerika memiliki gagasan-gagasan out of the box, yang lepas dari kudeta pikiran sesat ala Eropa, terutama pandangan tentang agama Islam. Di tengah kekerasan antar sekte Kristen di Eropa, beberapa penganut Kristen pada abad 16, memilih Muslim sebagai uji kasus terhadap pemisahan batas-batas teoretis terkait batasan toleransi dalam kepercayaan. Islam pun tidak dianggap agama melainkan paham palsu dari golongan kafir.

Tak ayal, selama berabad-abad, praktik memfitnah orang dengan cara menghubungkannya dengan Islam sangat umum dilakukan penganut Kristiani di Eropa. Dalam keyakinannya, Islam adalah musuh besar dalam diskursus Perang Salib. Islam adalah agama perang, yang menegakkan pedang untuk meraih simpati umat. Islam tak segan mengucurkan darah siapapun yang menghalanginya dari tujuan kekuasaan seorang amir. Pandangan ini diwarisi turun temurun oleh umat kristen untuk mendiskreditkan Islam sebagai agama yang berbahaya.

Dan praktik ini pun menyeberangi Samudera Atlantik sampai ke daratan Amerika. Namun Thomas Jefferson, dan kawan-kawan perumus pendirian Amerika Serikat memiliki konsepsi yang berbeda dari itu. Mereka berusaha memasukkan Muslim sebagai bagian warga negara. Pilihan ini didasari akan betapa besarnya manfaat menjadikan Amerika sebagai negeri percontohan yang menerapkan sistem keadilan dan plural. Meskipun, mereka melakukannya bukan demi kepentingan umat Muslim nyata, masih Muslim imajiner. Karena belum diketahui adanya Muslim di Amerika pada zaman itu.

Namun, bagi Thomas Jefferson perwujudan traktat toleransi menjadi indikator penting kemajuan peradaban Amerika  di masa depan. Ia menyesalkan upaya-upaya lawan politiknya yang berusaha menerapkan konsepsi negara Tuhan berdasarkan hukum Yesus Kristus. Amerika Serikat, yang mayoritas warganya beragama Kristen Protestan mendukung upaya itu, namun oleh segelintir pemimpin berpengaruh Amerika, gagasan itu ditolak karena dianggap sebagai sistem kolot dan fanatis.

Maka itu, guna menerabas upaya itu, Thomas pun mengambil kedok perlindungan hak-hak Muslim sebagai warga negara Amerika yang harus dihormati. Muslim yang masih mendapat sentimen negatif rakyat, sejatinya memiliki pandangan toleransi yang tinggi, yang bisa dicontoh Amerika dalam menjalankan sistem negara demokrasi. Jefferson mengadopsi preseden hak-hak sipil bagi Muslim dari traktat yang ditulis filsuf Inggris John Locke pada 1689, ‘A Letter Concerning Toleration’. Ide-ide Locke tentang toleransi terhadap Muslim dan Yahudi memicu serangan terhadapnya.

Baginya, negara tidak bisa disatukan dengan agama. “Agama adalah urusan keyakinan hati nurani yang dimiliki setiap orang. Keyakinan beragama menjadi hak setiap manusia untuk menjalankan ajaran-ajarannya. Hak ini menjadi asasi, karena apa yang di sini merupakan hak terhadap seseorang, adalah kewajiban terhadap sang Pencipta.” Begitulah petikan dari rancangan Undang-Undang Kebebasan Beragama yang ditulis Thomas Jefferson.

Selanjutnya di lain kesempatan, Jefferson memaparkan: “Setiap manusia harus memberikan pertanggungjawaban dirinya sendiri dihadapan Tuhan. Oleh karena itu, seharusnya manusia memiliki kebebasan dengan cara terbaiknya untuk melayani Tuhan. Jika pemerintah bisa bertanggung jawab kepada individu dalam penilaian tersebut, biarkan mereka dikendalikan oleh hal itu dalam hal agama, namun jika tidak, biarkan mereka bebas.” Dan riwayat tulisan yang berisi gagasan toleransi terakhirnya adalah: “Kasihilah tetanggamu—manusia seperti dirimu sendiri—dan negaramu, lebih dari mengasihi dirimu sendiri.” tulis Jefferson sebelum kematiannya.

Buku karya Denise A. Spellberg ini layak dijadikan bahan diskusi dan permenungan memaknai arti toleransi dan sejauh mana al-Qur'an dikutip dalam perumusan perundangan di Amerika Serikat.

Berbagi Keceriaan dengan Mengembangkan Ruang Baca

Surel Cetak PDF

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Rimanews.com | Rabu, 14 Mei 2014 | Eva Rohilah

 

Keluar dari Microsoft, Membangun Ruang baca Hingga Tercipta 10.000 Perpustakaan di Berbagai Negara.

Ada pepatah yang mengatakan, jika Anda ingin sukses, maka keluarlah dari zona nyaman anda, maka buku yang berjudul Membangun Ruang Baca ini membuktikannya. Bagaimana tidak, saat si penulis John Wood saat itu berusia 35 tahun dan sedang berada di posisi puncak di perusahaan teknologi terkemuka Microsoft untuk cabang Asia, ia meninggalkan segala fasilitas seperti gaji tinggi, tunjangan tempat tinggal dan fasilitas yang diberikan perusahaannya untuk mengabdikan dirinya dalam memulai sebuah organisasi amal yang memperjuangkan literasi global dengan menciptakan perpustakaan bagi sekolah di beberapa negara seperti Nepal, Srilangka, Vietnam, Laos, India, Afrika Selatan, Kamboja, Bangladesh, Zambia, dan Tanzania.

Berawal dari Bahundanda

Buku yang sangat inspiratif ini terdiri dari 25 bab yang merupakan buku kedua John Wood. Buku pertamanya Leaving Microsoft to Change the World juga meraih sukses di pasaran. Buku ini judul aslinya adalah Creating Room to Read. Ketertarikannya terhadap buku tidak lepas dari peranan orangtuanya yang sejak kecil menanamkannya untuk gemar membaca buku, dalam sehari ia bias menghabiskan Sembilan buku di perpustakaan tak jauh dari rumahnya. Kebiasaan itu ia bawa hingga ia beranjak dewasa dan bekerja. Suatu hari, pada saat ia masih bekerja di Microsoft saat libur, ia melakukan perjalanan ke Nepal, tepatnya di perbukitan Annapurna di Himalaya. Di sana ia singgah di sebuah desa bernama Bahundanda.

Saat itu, ia diajak oleh Pasupathi, salah seorang pegawai sumberdaya daerah untuk Departemen Pendidikan Provinsi Lamjung. Pasupathi menjelaskan bahwa di Nepal, kami terlalu miskin untuk membiayai pendidikan, tetapi sampai kami mendapatkan pendidikan, kami akan selalu menjadi miskin. Pernyataan itu menggetarkan Wood sehingga ia tidak habis piker bagaimana ini bisa terjadi.

Pertanyaan itu, ia ajukan kepada Pak Rajeev, kepala sekolah Bahundanda yang telah menunjukkan kepadanya delapan ruang kelas di sekolahnya yang bobrok dan rusak. Dengan limapuluh siswa berdesak-desakan dalam satu ruang kelas kecil. Sekolah itu tidak punya meja, sehingga siswa-siswanya duduk di atas bangku panjang dan menyangga buku tulis di atas lutut. Yang paling mengejutkan Wood, adalah kondisi perpustakaan sekolahnya. Mengingat latar belakang ia sebagai pecinta perpustakaan seumur hidup, ia kegirangan ketika Pak Rajeev mengajaknya ke perpustakaan.

“Namun gambaran ideal yang saya bayangkan tidak bisa lebih keliru lagi. Selain tanda di atas pintu yang bertuliskan PERPUSTAKAAN, tidak ada hal sekecil apapun mengenai ruangan ini yang mencirikan perpustakaan. Tidak ada meja, kursi, penerangan untuk membaca, tidak ada Irak, dan yang paling penting tidak ada buku.

Kegetiran tentang kondisi pendidikan di Nepal inilah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam diri Wood dan menjungkirbalikkan kehidupannya. Ia menceritakan hal ini kepada keluarganya dan ia mendapat dukungan besar, ia menggalang dana di berbagai tempat dan mengumpulkan buku dari berbagai penerbit untuk kemudian ia bawa ke Nepal dan terciptalah sebuah organisasi amal Room to Read pada tahun 1999. Ia mengajak Erin Ganju, seorang perempuan yang sebelumnya bekerja di Unilever dan di Nepal ia dibantu oleh Dinesh Shresta.

Pada tahun 2005, Room to Read berkembang pesat dan telah mendirikan ribuan perpustakaan, bahkan tidak hanya perpustakaan yang dikembangkan tapi juga membangun sekolah dan meberikan dukungan jangka panjang bagi anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan mereka hingga menamatkan sekolah menengah.

Jatuh Bangun Menggalang Donasi

Kegigihan John Wood dan timnya dalam mengelola Room to Read tidak lepas dari kepintaran Wood dalam melakukan fundrising. Jatuh bangun dalam menggalang donasi ini ia tulis dalam beberapa bab tersendiri. Ia menerima donasi dari hanya beberapa dolar hingga jutaan dolar. Ia menceritakan secara mendetail bagaiamana ia mendapatkan donasi dari beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Belanda, hingga Australia. Bagi anda yang bergerak di LSM yang fokus untuk fundraising strategi Wood dalam buku ini patut anda tiru.

Saat ini dukungan terhadap Room to Read dari berbagai pihak baik personal maupun lembaga diantaranya ada dari Financial Times, The Newyork Times, UNESCO, CBS News, UNESCO, Skoll Foundation, Oprah Winfrey Show, Barron, dan Charity Navigator. Ia juga secara resmi membuat laporan keuangan lembaganya secara berkala di laman resminya dengan penuh tanggung jawab.

Namun, tidak hanya keberhasilannya saja dalam melakukan fundrising yang ia ceritakan pengalaman pahit ketika ia dibohongi oleh seorang pengusaha besar juga ia ceritakan dalam satu bab tersendiri yang ia tidak sebut namanya. Di bagian tengah buku ini juga memuat foto-foto keberhasilannya dalam melakukan fundrising hingga ke menara Burj di Dubai. Ia juga mengutip salah satu ayat Al-qur’an tentang keutamaan membaca.

Secara keseluruhan buku ini sangat inspriatif bagi siapa saja yang mempunyai mimpi ingin mengubah dunia. Saat menulis buku ini ia, ia juga mengunjungi Pulau Bali sebagai salah satu tempat untuk menulis kisahnya ini, dan menyukai makanan pedas pinggir jalan di Indonesia. Tidak ada salahnya, jika ada waktu luang dan mulai bosan dengan zona nyaman anda, bacalah buku ini, dengan buku kita akan membuka cakrawala dunia.

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL