You are here Info Buku

Resensi Buku

Ketika Tak Tabu Lagi Dibicarakan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Seks & Hijab karya Shereen El Feki

Jurnal Nasional | Minggu, 8 Juni 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

Jangan kaget dan takjub jika membaca buku ini. Seks pra nikah yang tabu, hubungan intim suami istri, artikel seks dan film porno, perdebatan pendidikan seks dan aborsi, orangtua tunggal tanpa menikah, munculnya seks komersial, seks sesama jenis, transeksual, dan lainnya diungkapkan dalam buku ini.

Apa yang salah dengan dunia Arab yang punya tradisi Islam yang lekat. Namun semua itu memang terjadi. Shereen El Feki mengungkapkannya secara detil tentang kehidupan seksual masyarakat Arab yang terkait erat dalam agama dan tradisi, politik dan ekonomi, serta lainnya. Dia melakukan riset panjang dan juga investigasi mendalam.

Ini memang catatan personal dan juga sudut pandang pribadi El Feki soal seksual dan masyarakat Arab, kebetulan dia juga keturunan Arab. Masalah seksual memang hal yang tabu diperbincangkan, meski begitu ada sebuah kajian yang mengungkapkan hal ini. By the way, sejumlah masalah seksual yang ada sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu seperti seks pra nikah, seks komersial, seks sesama jenis, dan transeksual. Hanya saja sekali lagi hal itu tabu dibicarakan.

Judul: Seks & Hijab, Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah

Penulis: Shereen El Feki

Penerjemah: Adi Toha

Penyunting: Indi Aunullah

Penerbit: Pustaka Alvabet

Cetakan: 1, Oktober 2013

Tebal: 444 halaman

Gagasan Toleransi Thomas Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Suara Merdeka | Selasa, 10 Juni 2014 | Muhammad Bagus Irawan

 

Agama adalah urusan keyakinan hati nurani yang dimiliki setiap orang. Keyakinan beragama menjadi hak setiap manusia untuk menjalankan ajaran-ajarannya. Hak ini menjadi asasi, karena apa yang di sini merupakan hak terhadap seseorang, adalah kewajiban terhadap sang Pencipta.” Begitulah petikan dari rancangan Undang-Undang Kebebasan Beragama yang ditulis Thomas Jefferson.

Selanjutnya di lain kesempatan, Jefferson memaparkan: “Setiap manusia harus memberikan pertanggungjawaban dirinya sendiri dihadapan Tuhan. Oleh karena itu, seharusnya manusia memiliki kebebasan dengan cara terbaiknya untuk melayani Tuhan. Jika pemerintah bisa bertanggung jawab kepada individu dalam penilaian tersebut, biarkan mereka dikendalikan oleh hal itu dalam hal agama, namun jika tidak, biarkan mereka bebas.” Dan riwayat tulisan yang berisi gagasan toleransi terakhirnya adalah: “Kasihilah tetanggamu—manusia seperti dirimu sendiri—dan negaramu, lebih dari mengasihi dirimu sendiri.” tulis Jefferson sebelum kematiannya.

Buku bertajuk Kontroversi Al-Qur’an Thomas Jefferson ini mendedahkan pada khalayak bagaimana pikiran dan gagasan Thomas Jefferson memandang Islam. Bagaimana seorang Jefferson salah seorang pendiri Amerika Serikat, bisa mempunyai al-Qur’an? Lebih-lebih mampu menerjemahkan gagasan toleransi yang dikandungnya? Buku ilmiah karangan Denise A. Spellberg ini ditulis dengan pendekatan historis, dan berupaya mengajak pembaca kembali menelusuri momen-momen di awal pendirian Amerika Serikat.

Islam di Amerika, barangkali memperoleh stigma negatif sebagai teroris, namun tahukah bila pendiri Amerika berusaha membentuk sebuah negeri yang ramah semua gama? Meski pendiri Amerika sebagian besarnya adalah penganut Kristen protestan, namun ada segelintir pemimpin yang punya pemikiran plural. Tak dimungkiri, banyak orang sekarang akan merasa kaget gagasan tersebut muncul pada masa itu, namun telah banyak bukti menguatkan hal ini., sebagaimana ditulis Denise pada pendahuluan. Pada 1776, Jefferson menulis di antara catatan pribadinya: “Tidak seorang pun dari kalangan Pagan maupun Muslim atau warga Yahudi boleh dikecualikan dari hak-hak sipil persemakmuran karena agamanya.” Catatan itu ditulisnya beberapa bulan setelah ia menulis Deklarasi Kemerdekaan, ketika ia kembali ke Virginia untuk menyusun undang-undang baru bagi Amerika.

Ide John Locke

Jefferson mengadopsi preseden hak-hak sipil bagi Muslim dari traktat yang ditulis filsuf Inggris John Locke pada 1689, ‘A Letter Concerning Toleration’. Ide-ide Locke tentang toleransi terhadap Muslim dan Yahudi memicu serangan terhadapnya. Seorang kritikus mengecamnya karena memiliki "iman seorang Turki", dan dia pun dituduh menyimpan Al-Quran yang oleh para pengecamnya disebut sebagai "Injil Muhammad". Selama berabad-abad, praktik memfitnah orang dengan cara menghubungkannya dengan Islam sangat umum dilakukan penganut Kristiani di Eropa. Dan praktik ini pun menyeberangi Samudera Atlantik sampai ke daratan Amerika. Jefferson, karena pandangannya yang luas tentang kebebasan beragama dan kesetaraan politik, mengalami serangan berulang kali sebagai "kafir"—kata yang pada masanya berarti bukan sekadar tidak beriman, melainkan juga seorang Muslim.

Dalam catatan Denise, Jefferson mungkin tertarik membeli al-Quran bukan atas dasar ingin mengetahui Islam, melainkan sebagai kitab hukum, karena pada saat itu ia juga memesan banyak karya bahasa Inggris terkait yurisprudensi. Pastinya dia cukup surprise membaca definisi penerjemah yang menyebut Nabi (Muhammad) sebagai pemberi ketentuan hukum bagi orang-orang Arab. Meski Sale menyebut Islam sebagai agama palsu, dia juga memuji Nabi sebagai “pribadi yang indah, punya kecerdasan yang mendalam, perilaku yang menyenangkan, mengasihi orang miskin, sopan kepada setiap orang, kukuh di hadapan musuh, dan di atas segalanya, memiliki penghormatan yang sangat tinggi atas nama Allah”. Sale juga menolak mendefinisikan Islam disebarkan oleh pedang saja dengan mengingatkan pembacanya bahwa orang Yahudi dan Kristen juga berperang atas nama agama mereka.

Para pengkritik menuduh Sale terlalu adil menggambarkan Islam, sehingga pengusaha misionaris Anglikan yang mempekerjakannya pun menolak hasil terjemahannya itu. Sale pun dianggap sebagai sebagai "setengah Muslim" oleh sejarawan Inggris Edward Gibbon pada 1788. Setali tiga uang dengan Jefferson, nasib Sale pun pada akhirnya berujung pada fitnah yang serupa bagi Jefferson. Pandangan toleransi kala itu memang diperuntukkan menentang gagasan konsep Negara Kristen yang akan mengungkung kebebasan Amerika. Hal itu diungkapkan Jefferson secara dramatik dalam autobiografinya, bahwa upaya lawan-lawannya untuk mengubah redaksional dengan menambahkan Yesus Kristus di bagian pembukaan undang-undang tidak berhasil. Dan kegagalan tersebut menjadikan Jefferson semakin yakin untuk menegaskan maksudnya agar penerapan statuta itu berlaku universal. Dengan ini dia memaksudkan kebebasan beragama dan persamaan hak politik bukan hanya eksklusif bagi umat Kristiani saja tapi juga umat lainnya.

Kendati demikian, meskipun Jefferson gigih memperjuangkan kesamaan hak sipil Muslim, dalam anggapan penulis, dia tak pernah tahu bahwa Muslim pertama Amerika—para budak dari Afrika Barat—tidak memperoleh kebebasan yang dikiranya berlaku universal. Pendiri negara Amerika itu bahkan mungkin saja memiliki budak Muslim, meski tak ada bukti pasti tentang hal itu. Namun tak diragukan lagi, bahwa Jefferson sejak awal membayangkan Muslim sebagai sesama tetangga di masa depan negaranya, sebuah ramalan yang sudah dapat dipastikan kebenarannya saat ini.

Thomas Jefferson, al-Quran, dan Kebebasan Beragama

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

icrp-online.org | Minggu, 8 Juni 2014 | Mohammad Monib (Direktur Eksekutif ICRP)

 

Minggu kemaren, saya datang ke Wahid Institute di Taman Amir Hamzah Matraman. Ada rapat konslidasi RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. ICRP dan LBH memang sedang memantau dan mengawal RUU kontraversial yang mandeg dan tidak kunjung disahkan. Menunggu waktu datangnya peserta lain, saya masuk ke tokoh buku di sana. Mataku terantuk ke rak New Arrival, yang memuat buku-buku yang baru terbit. Mataku ditarik kuat oleh sebuah buku. Kontraversi al-Qur’an Thomas Jefferson. “Pasti menarik buku ini”, bisik akalku. Sinopsis buku itu saya baca, pengantar dari penulisnya saya ladap, dan saya membelinya.

Thomas Jefferson adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-3. Sebagai alumni fakultas hukum, ia memahami mendalam urusan ketata-negaraan dan perundang-undangan. Jefferson berkontribusi besar  dalam pembuatan konstitusi (UUD) Amerika Serikat. Dikisahkan dalam buku ini, bahwa ia sempat mengalami pergulatan intelektual dan gejolak jiwa berkaitan nasib, hak dan kewajiban para imigran non-Protestan yang kelak menjadi warga Negara Paman Sam. Bisa kaum Yahudi dan umat Islam.Jefferson berimajinasi masa depan mereka kelak. Tapi bagaimana sistem dan nilai-nila dasarnya? Dalam perjalanan waktu, Jefferson berkenalan dengan al-Qur’an. Sejak itulah ia tertarik dan mendalami prinsip-prinsip ajaran Islam. Salah satu ucapannya adalah: “”Tak seorang pun dari kalangan Pagan, Muslim, ataupun Yahudi boleh dikucilkan dari hak-hak sipil Persemakmuran karena agamanya”. Bagaimana ia mengenal prinsip maha penting itu?

Adalah Geoge Sale (1696-1736), seorang pengacara dan penganut Kristen Anglikan. Dialah penerjemah al-Qur’an pertama di benua Amerika. “Mohamet merupakan legislator kaum Arab”, begitu komentarnya dalam pengantarnya. Al-Qur’an secara umum abad itu diposisikan sebagai Lex Saracenorum”: Hukum orang Saracen (sebutan bagi orang-orang Arab muslim). Menariknya, terjemahan ini dipakai dari abad ke-12-18. Terjemahan Sale inilah yang dibeli oleh Jefferson lewat sebuah penerbit Koran di sana. Pembeli lain adalah Voltaire. Siapakah tokoh dunia ini?Ia adalah François-Marie Arouet (lahir 21 November 1694 – meninggal 30 Mei 1778 pada umur 83 tahun), lebih dikenal dengan nama penanya Voltaire. Ia merupakan filusuf dan penulis Perancis pada Era Pencerahan. Voltaire dikenal tulisan filsafatnya yang tajam, dukungan terhadap hak-hak manusia, dan kebebasan sipil, termasuk kebebasan beragama dan hak mendapatkan pengadilan yang patut. Ia adalah pendukung vokal terhadap reformasi sosial walaupun Perancis saat itu menerapkan aturan sensor ketat dan ancaman hukuman yang keras bagi pelanggarnya. Sekalipun demikian ia memiliki peran dalam proganda negatif tentang Islam.

Tokoh pemikir lain yang dikisahkan dalam buku ini adalah Jhon Locke. Setelah berkali-kali membela hak-hak keagamaan dan politik umat Islam, tahun 1696, ia dituduh sebagai penganut Islam. Locke pun dituduh melakukan bid’ah. Pemikir politik dan kenegaraan ini bahkan dituduh sebagai sebagai Kristen sesat, anti-trinitas dan penganut monoteisme Islam. Hal lain yang menarik adalah tentang teks filsafat berbahasa Arab bernama “Hayy ibn Yaqzan”. Karya ini ditulis Ibnu Tufail. Sewaktu di Gontor saya sudah membaca ulasannya. Karya ini kontraversi di Barat. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris dilakukan Edward Pococke. Seorang  dosen bahasa Ibrani dan Arab di Oxford pada 1652. Dosen ini pula yang mengenalkan pemikiran Arab Islam ke Jhon Locke. Ternyata terjemahan itu menghebohkan dan mempengaruhi pemikir Eropa umumnya. Tahun 1719, buku ini menginspirasi Daniel Defoe untuk membuat novel berjudul Robinson Crusoe. Kisah Tarzan yang popular itu berasal darinya. Karya intelektual filosofis ini pula yang menginspirasi Jhon Locke menulis Essay on Human Understanding. Itulah sebagian cuplikan hal-hal menarik dari buku Kontraversi al-Qur’an Thomas Jefferson.

AGAMA ITU HIDANGAN BEBAS

Isu kebebasan beragama dan berkeyakinan masih mahal dan istimewa di negeri ini. Sebagian besar umat Islam tidak memahaminya. Padahal surat dan ayat berbicara prinsip itu mereka baca tiap hari. Hanya saja, karena yang meniupkan keras ke seluruh penjuru dunia Negara-negara Barat, umat Islam menyangkanya sebagai cara dan metode Barat merusak Islam. Ormas-ormas radikal dan majelis ta’lim menolak dan menuduh para pegiat atau aktivis kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai musuh Islam. Atau perusak dan penoda ajaran Islam. Kita masih ingat serangan FPI terhadap Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan beberapa tahun berlalu.

Agama sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an merupakan hidangan Ilahi. Ia merupakan panduan dan pembimbing orientasi hidup baik, jujur, amanah, beramal dan membela nilai-nilai kemanusiaan. Agama mengabarkan hal-hal ukhrawi, alam pasca kehidupan di dunia. Informasi dan berita  dari “langit”. Agama pada dasarnya serupa dengan udara. Ia kebutuhan utama jiwa. Tanpa agama jiwa manusia seakan mati. Tentu agama yang saya maksud adalah nilai-nilai iman, keluhuran, keharmonisan, perangkat ritual kepada sumber hidup dan pengabdian kepada kemanusiaan. Sekalipun maha penting, agama oleh Tuhan diposisikan sebagai free something. Boleh diyakini atau diabaikan. Bahasa al-Qur’annya:faman sya’a falyu’min waman sya’a falyakfur Take it or leave it. Boleh anda menyendoknya atau membuangnya. Islam memang menghendaki keagamaan kita berbasis pilihan sadar, bebas dan penuh pemahaman. Prasyarat ini bila dipenuhi akan mengantarkan kualitas mukhlisina lahu al-diin. Penghambaan dan ketundukan secara sukara rela penuh kesadaran jiwa. Inilah prinsip dasar beragama yang dipancangkan Islam.

Tetapi, hal itu tidak terbangun di negeri ini. Bila kita meneriakkan kebebasan beragama dan berkeyakinan,  kesetaraan hak dakwah dan beribadah, membela tempat ibadah umat non-msulim, kita dilabel antek Amerika, Yahudi atau antek Kristen. Bila kita bela minoritas dan hak-hak konstitusional mereka, kita dimusuhi, dikafirkan dan dimurtadkan. Persis yang dialami pahit-getirnya  oleh Jhon Locke dan Thomas Jefferson di awal pembentukan Negara Amerika Serikat.

Ajaib dan tragisnya, saat umat non-muslim berjuang kuat menegakkan prinsip-prinsip luhur aaran al-Qur’an dan tidak ingin mengulangi nalar primitif itu, umat Islam di Indonesia, justru bersemangat menegakkannya. Umat Islam justru bergairah melakukan aksi-aksi kasar dan radikal  sebagai Quraish jahiliyah Makkah lakukan terhadap Rasulullah dan minoritas Islam saat itu.Maha benar, betapa al-Qur;an itu telah menginspirasi tokoh-tokoh dunia dalam menata relasi-relasi kemanusiaan, penegakan keadilan dan kesetaraan universal dan sikap non-diskriminasi. Saat bersamaan umat Islam justru berupaya merobohkan ajaran Ilahi itu. Umat Islam justru alergi, menyempitkan rahmat dan membuang hidangan sedap dan warisan luhur Nabi. Al-Qur’an memang hanya terbuka cahaya intelektualnya bagi yang bernalar dan menfungsikan kekuatan akal.

Menyelamatkan Masa Depan Anak lewat Pendidikan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Koran Jakarta | Kamis, 5 Juni 2014 | Nur Faridah

 

Setiap anak terlahir dalam keluarga dan situasi lingkungan yang berbeda-beda. Betapa beruntungnya jika seorang anak lahir dalam keluarga yang secara ekonomi termasuk kategori mampu dan dalam situasi lingkungan yang sangat mendukung perkembangan pendidikannya. Namun, tidak semua anak beruntung seperti itu. Di banyak belahan dunia, ada begitu banyak anak yang lahir dalam keluarga dan situasi lingkungan yang sebaliknya.

Banyak anak lahir dalam keluarga tidak mampu secara ekonomi dan akses pendidikan sangat terbatas. Mereka sebenarnya sangat ingin mengenyam pendidikan dengan fasilitas memadai, tetapi tak berdaya. Mereka seperti terlahir di “tempat yang salah”. Masa depan mereka menjadi suram. Tidak jarang mereka kemudian menjadi objek kejahatan dan eksploitasi, terutama anak-anak perempuan.

Ketimpangan seperti itulah yang menggerakkan seorang John Wood, mantan pejabat Microsoft, yang memilih keluar dari perusahaan raksasa itu untuk mendirikan Room to Read pada 1999. Ini adalah organisasi nirlaba yang mempromosikan pendidikan, kesetaraan jender, dan minat baca anak-anak di seluruh dunia. Organisasi tersebut menggalang dana dari negara-negara kaya untuk membangun sekolah-sekolah dan perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah terpencil di berbagai negara.

Wood membayangkan Amerika Serikat menghabiskan 900 miliar dollar dalam peperangan di Afganistan dan Irak selama lebih dari satu dekade. Jika 10 persen saja didedikasikan untuk membangun sekolah-sekolah, perubahannya pasti radikal. Dengan 9 miliar dollar, kelompok yang bergerak cepat seperti Room to Read dapat bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk membangun 272.000 sekolah. Ini akan menghasilkan lebih dari satu juta ruang kelas baru. Dengan 25 anak per kelas, baru memberi dampak pada 25 juta siswa (hal 4).

Buku ini sejatinya merupakan catatan perjalanan Wood bersama Room to Read yang ditulisnya sendiri, yang penuh dengan lika-liku, demi merealisasikan tujuan organisasinya. Di sini dikisahkan perjuangan tim Room to Read yang sangat inspiratif di Nepal, Kamboja, Laos, Vietnam, India, Sri Lanka, Bangladesh, Zambia, dan Afrika Selatan. Room to Read tak hanya mendirikan sekolah dan perpustakaan, tetapi juga memonitor program dengan saksama dan menindaklanjutinya demi kesuksesan siswa berkelanjutan (hal 21).

Selama sebelas tahun terakhir, Wood bersama Room to Read telah mendirikan lebih dari 12 ribu perpustakaan, menerbitkan lebih dari 10 juta buku, membangun lebih dari 1.500 sekolah, dan mendukung lebih dari 13 ribu anak perempuan menyelesaikan sekolah menengah.

Tak heran, dia mendapat sejumlah penghargaan, termasuk pengakuan sebagai Young Global Leader oleh World Economic Forum. Majalah Time bahkan menyebutnya sebagai salah seorang “Pahlawan Asia”, sementara The Public Broadcasting Corporation mencatat namanya sebagai salah satu “Pemimpin Besar Amerika”.

Buku ini memberi banyak pelajaran berharga seperti semangat membangun budaya literasi di kalangan anak-anak, terutama perempuan, agar lebih mencintai buku dan menempuh pendidikan secara layak. Dengan itu, setidaknya masa depan mereka bisa menjadi lebih baik. Mereka juga akan dapat berkontribusi penting dan berharga bagi negara. Dengan memberi kesempatan mengenyam pendidikan dan mencintai buku berarti masa depan mereka terselamatkan dari kesuraman.

Para Juru Damai Perang Salib

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan karya Paul Moses

Koran Sindo | Minggu, 25 Mei 2014 | Noval Maliki

 

Perang Salib merupakan peristiwa monumental yang menandai sisi gelap para pemeluk agama dalam sejarah. Perang Salib merupakan peristiwa monumental yang menandai sisi gelap para pemeluk agama dalam sejarah.

Sejak pertama kali dikobarkan oleh Paus Urban II pada tahun 1095 dengan misi merebut Yerusalem dari tangan kaum muslim, tak terhitung nyawa manusia melayang dan kepala terpenggal dengan darah menggenangi bumi dari kedua belah pihak. Tidaklah mengherankan, meski terjadi satu mileu yang lalu namun keganasan dan kengerian serta api peperangan masih memercik hingga kini pada sebagian orang.

Tidak jarang sentimen Perang Salib dikobarkan demi menguak luka lama, dengan menggunakan jargon dan idiom yang digunakan pada masa itu. Akan tetapi, Perang Salib rupanya tidak melulu kisah pertumpahan darah atas nama Tuhan. Di dalamnya juga terdapat kisah mengagumkan dari pribadi-pribadi luar biasa dari kedua belah pihak. Sebuah kisah tentang perdamaian, yang telah diceritakan dari jutaan bibir selama hampir delapan ratus tahun dan tetap bergema dalam berbagai suasana, termasuk ketika umat Kristen dan Islam saling curiga.

Sebuah kisah, sebagaimana yang dihadirkan dalam Santo dan Sultan ini, tentang bagaimana para juru damai berusaha dengan caranya sendiri untuk memutus siklus kekerasan yang terjadi. Puncak peristiwa yang dihadirkan adalah pertemuan antara Fransiskus dari Asisi dengan Sultan Al-Kamil yang kemudian menghasilkan sebuah upaya damai di antara pihak yang bertikai. Sebelum dikenal sebagai salah satu santo terbesar, Fransiskus dari Assisi pada awalnya adalah seorang anak muda pemuja kekesatriaan bernama Francesco dengan nama baptis Giovanni, anak seorang saudagar kaya dari Assisi.

Menjadi tawanan Perugia akibat kalah berperang ketika membela Assisi pada tahun 1203, mengakibatkan terjadinya perubahan baik secara fisik maupun mental pada dirinya. Selain malaria yang dia derita, trauma akibat kecamuk perang menyebabkan psikologinya terganggu. Fransiskus selalu merasa hampa dan tertekan. Maka dimulailah proses pertobatannya. Dia mulai membenci dirinya dan menghina halhal yang dulu dia cintai dan kagumi. Dia akhirnya mengisi kehampaan tersebut dengan Tuhan dan secara bertahap mengalami kebangkitan spiritual (halaman 22).

Untuk menjauhkan diri dari kehidupan keprajuritan, Fransiskus berbalik menentang nilainilai yang dianut ayah dan teman- temannya, yaitu kekayaan dan kehormatan. Sebuah sikap yang bukan hanya berisiko direndahkan secara sosial, namun juga menerima kekerasan fisik. Bahkan ia juga harus berhadapan dengan Paus Innosensius III yang tengah semangat mengobarkan Perang Salib Kelima. Adapun Malik al-Kamil Nasrudin Muhammad lahir pada 19 Agustus 1180, kira-kira satu setengah tahun sebelum kelahiran Fransiskus. Keponakan seorang panglima paling terkenal dalam Perang Salib, Salahuddin Yusuf bin Ayyub atau biasa dikenal dunia Barat dengan sebutan Saladin.

Pada masa-masa awalnya, Malik al- Kamil dididik dalam hal kekuasaan. Salah satu pelajaran besar baginya datang setelah Perang Salib Ketiga diluncurkan pada 1189. Menurut salah satu kronik Perang Salib, pada 29 Maret 1192 Al-Kamil, yang masih belia dan dididik dalam ketaatan yang teguh pada hukum Islam, menjalani sebuah ritual di bawah pemimpin Tentara Salib, Richard, yang oleh sejarawan disebut sebagai “sakramen kedelapan”. Pengalaman ini tak pelak menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi pada diri Al-Kamil terhadap orang-orang Kristen.

Sehingga tak mengherankan jika Al-Kamil digambarkan sebagai pejabat yang selalu memperhatikan keinginan mayoritas umat Kristen (halaman 92). Tanggal pasti kedatangan Fransiskus di Mesir tidak diketahui, tetapi dia kemungkinan turun dari kapal tentara salib tak lama setelah pertempuran 31 Juli. Di tengah sengitnya pertempuran antara pasukan muslim pimpinan Al-Kamil dan tentara salib pimpinan Kardinal Pelagius sebagai wakil Paus dan John dari Brienne.

Respons Fransiskus terhadap para penghasut perang pada zamannya adalah dengan berusaha mengembalikan gereja ke akarakarnya sebagaimana pada zaman rasul, ketika sikap antikekerasan masih menjadi aturan dan sesuatu yang boleh diabaikan. Kisah nyata Fransiskus, Sang Sultan, dan percakapan damai yang terjadi antara keduanya pun berlangsung.

Meski demikian, sejarah kemudian mengubur kisah tersebut karena peristiwa ini tidak sesuai dengan tujuan para paus yang terus menggalang dukungan bagi serangkaian serangan Perang Salib. Dengan metode jurnalistik dari kerja penelusuran sebagaimana yang telah dilakukan para ahli Alkitab dalam menemukan Yesus yang historis dalam Injil, Paul Moses, penulis buku ini, melihat setiap peristiwa sesuai dengan konteks zamannya.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL