You are here Info Buku

Resensi Buku

Begini Caranya Menyeimbangkan Hidup untuk Bahagia

Surel Cetak PDF

Resensi buku Hidup Seimbang Hidup Bahagia karya AkhirudinDC

Wasathon.com | Selasa, 5 Januari 2016 | Lusiana Dewi

 

Kebahagiaan adalah sebuah status yang ingin dicapai oleh setiap manusia. Kebahagiaan banyak dijadikan tujuan hidup. Tidak ada manusia yang mau hidup dalam kesengsaraan meskipun kesengsaraan itu pasti dialami untuk mencapai kebahagiaan. Bukankah pepatah mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian?"

Pepatah yang bijak itu menyiratkan bahwa bersenang-senang (baca: kebahagiaan) itu harus dilakukan dengan penuh keprihatinan, usaha serta doa, keteguhan, dan kesungguhan tekad untuk mencapai kebahagiaan. Tidak jarang bahwa jalan tersebut membuat seseorang harus bersakit-sakit (sengsara) terlebih dahulu. Entah bagaimana kebahagiaan itu mewujud—karena kebahagiaan adalah subjektif—banyak orang menginginkan hidup bahagia.

Hanya saja, dalam hidup ini dibutuhkan keseimbangan. Hidup yang seimbang adalah hidup yang bahagia. Hal itulah yang disimpulkan oleh Akhirudin DC, MA dalam bukunya yang berjudul “Hidup Seimbang Hidup Bahagia”. Buku tersebut merupakan serangkaian motivasi untuk meraih kebahagiaan dengan menyeimbangkan kehidupan.

Hidup seimbang berarti hidup dengan menjaga dua bentuk keseimbangan, yakni keseimbangan internal dan eksternal. Keseimbangan internal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak dari diri sendiri. Diri kita memiliki empat dimensi; fisik, semosional, mental, dan spiritual. Masing-masing dimensi perlu dilayani haknya agar diri seimbang. (hlm. 17).

Sementara itu, keseimbangan eksternal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak orang-orang di sekitar kita. Kita sudah mengetahui bahwa setiap orang pasti memiliki beberapa peran yang berbeda dalam hidupnya. Orang yang hidupnya seimbang melayani semua peran dalam hidupnya dengan baik. Artinya, ia memenuhi semua hak dari setiap peran hidupnya. (hlm. 17 – 18).

Dengan demikian, keseimbangan dalam hidup adalah memenuhi hak diri sendiri. Akan tetapi, tidak melalaikan bahwa diri sendiri tersebut juga hidup bersosial dengan orang-orang di sekitar. Artinya, egoisme tidak boleh diutamakan. Kita berhak memenuhi kepentingan dan kebutuhan diri sendiri, tetapi tidaklah harus mengorbankan orang lain untuk memenuhi tersebut karena pada dasarnya hal itu tidak seimbang.

Secara umum, keseimbangan dapat kita pahami sebagai posisi tegak di tengah antara dua hal, yang kedua hal tersebut sama atau hampir sama sehingga tidak cenderung ke salah satu di antara kedua hal tersebut. Seimbang juga berarti sebanding, sepadan, atau kesamaan. (hlm. 19).

Oleh karenanya, keseimbangan tidak melulu pada satu hal yang disukai. Lebih dari itu, keseimbangan itu berdiri tegak di tengah untuk mengakomodasi segalanya melalui tengah-tengah. Hanya saja, banyak dari manusia yang hanya cenderung untuk memenuhi hak individunya sendiri (egosentris), padahal kebahagiaan itu tidak didapatkan dari kesendirian. Kebahagiaan bisa datang dari orang lain yang ada di sekitar kita.

Tentu saja bahwa keseimbangan tersebut menjadi kunci dari kebahagiaan hidup lantaran pemenuhan kebutuhan antara dua hal atau lebih itu selaras. Bisa saja seseorang itu sukses secara individual, tetapi tidak bahagia secara sosial karena tidak mempunyai lawan bicara (teman) untuk menumpahkan segala curahan hati.

Kehidupan individu di dalam hubungan sosial memang tidak perlu kehilangan identitasnya. Sebab, kehidupan sosial adalah realitas sama riilnya dengan kehidupan individu itu sendiri. Individualitas itu dalam perkembangan selanjutnya akan mencapai kesadaran sosial. Setiap manuia akan sadar perlunya hidup bersama segera setelah masa kanak-kanak yang egosentris berakhir. Hal tersebut menunjukkan tentang keseimbangan hidup seseorang dalam masyarakat. (hlm. 69 – 70).

Dengan begitu, selaraslah prinsip hidup seimbang itu dengan apa yang pernah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, bahwa sebaik-baik sesuatu adalah di tengah-tengah. Maksudnya, untuk segala sesuatu itu kita tidak perlu berlebihan. Namun demikian, kekurangan juga harus kita hindari. Kesimpulannya, tidak berlebihan dan tidak kekurangan itu menjadi landasan keseimbangan.

Ibarat masakan, setiap bumbu itu harus proporsional. Bukankah memberikan garam secara berlebihan malah akan berakhir keasinan dan masakan menjadi tidak enak? Pun begitu juga dengan merica atau cabai yang ditaburkan secara berlebihan. Maka masakan akan menjadi terlalu pedas. Jika kurang garam pun masakan terasa tidak nikmat. Begitu juga jika merica atau cabai itu hanya dibubuhkan sedikit, maka masakan tersebut terasa kurang menendang.

Sikap seimbang memiliki beberapa makna yang sejalan dengan sikap pertengahan, tawazun, dan beberapa istilah senada lainnya. Konsep keseimbangan adalah paham yang menetapkan sikap tidak berlebihan dan tidak kekurangan dalam segala aspek kehidupan manusia di alam semesta ini yang merupakan sikap yang terbaik, karena ia dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya (proporsional). (hlm. 153).

Akhirnya, dengan membaca buku setebal 176 halaman ini, para pembaca diajak untuk meletakkan segala sesuatu dalam aspek kehidupan secara seimbang. Posisi yang seimbang tersebut merupakan kunci kebahagiaan. Banyak hal di dunia ini diciptakan secara berpasangan. Ada kehidupan dunia, maka ada kehidupan akhirat. Ada kehidupan secara individu, maka ada pula kehidupan secara sosial. Jika ingin bahagia, maka yang berpasangan itu harus disikapi secara seimbang.

 

Belajar Kesalahan dari Hidup Itu Penting

Surel Cetak PDF

Resensi buku Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati karya Asih Karina

Koran Jakarta | Kamis, 31 Desember 2015 | Zahrotul Ummah

 

Perjalanan hidup yang paling indah adalah ketika bisa menikmati masa-masa pernikahan secara bersama-sama. Selain itu bisa merasakan kenikmatan ketika merawat dan membesarkan anak yang telah dinanti selama pernikahan berlangsung. Namun, ketika angan dan harapan itu bertolak belakang. Maka sakit dan luka kehidupanlah yang akan dirasakan.

Novel yang berjudul Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati ini menceritakan tentang kehidupan Asih Karina. Seorang gadis desa di wilayah Kepanjen-Kabupaten Malang bagian selatan yang memimpikan sebuah pernikahan yang indah, tetapi impian itu justru hilang setelah suaminya mengkhianati dirinya. Sosok orang ketiga memicu perpisahan mereka yang tidak lain adalah mantan istri suaminya, Kadek. Latar belakang yang diceritakan bahwa Karin, sapaan hangat Asih Karina adalah anak dari keluarga broken home yang ditinggal oleh ayahnya dan tinggal bersama seorang ibu yang begitu sangat menyayangi dirinya.

Karin berjuang dan melakukan berbagai macam cara agar suaminya bisa kembali kepadanya. Bahkan keluarga dari sang suami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan pernikahan mereka. Suaminya meninggalkan dirinya saat dia sedang mengandung anak, dari buah cinta bersamanya. Saat itulah Karin merasa dirinya begitu dibenci dan diabaikan oleh suaminya sendiri.

Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Malam menjelang pernikahan mereka, dengan isak tangis Karin menelpon Ardhan yang merasa dirinya terlalu lelah dan merasa ragu dengan langkah yang akan ditempuhnya. Di antara gemuruh hujan itu, Ardhan membuatnya yakin bahwa dialah orangnya yang akan membuat hidup Karin menjadi seperti seorang ratu di dunia ini.

Ungkapan yang masih diingat Karin adalah ucapan manis dari suaminya dulu.“Jangan takut, aku nggak akan jadi suami biasa, aku pengin Sayang bahagia. Aku mau jadi suami baik setiap hari. Biar semua orang tahu kalao Sampeyan sangat disayangi suaminya.”(hal 28)

Perkataan Ardhan yang membuat hati Karin menjadi yakin untuk tetap menikah dengannya. Tetapi, janji tinggallah janji yang tidak akan bisa dituntut karena tidak hitam diatas putih. Semua perkataan Ardhan yang begitu dicintai oleh Karin seolah mengambang di udara, hampa dan kosong. Sejak malam itu, hari-hari Karin dimulai dengan penantian yang sangat panjang dan membuat orang lelah serta jenuh untuk melakukannya.

Ungkapan hati Karin yang tersakiti oleh cambukan sikap dan kata-kata yang keluar dari mulut Ardhan, membua sakit dan pilu hingga Karin ingin mengakhiri hidupnya. Tetapi Karin menepis keinginannya itu karena Karin masih memikirkan ibunya. Karin tidak bisa membayangkan bagaimana cerita hidup selanjutnya jika dia berani bunuh diri. Ditemukan ibunya menggantung di atap kamar mandi, bagaimana perasaan ibunya ? (hal 42)

Begitu perih dan pedih kehidupan pernikahan yang dijalani Karin, hingga dia mengandung buah cintanya bersama suaminya, Ardhan Hasyim. Usia 5 bulan pernikahan adalah masa dimana sepasang suami istri baru mengarungi samudra pernikahan. Saat inilah suami istri akan membagi rasa kasih sayang serta cintanya untuk pasangan mereka. Tetapi tidak untuk Karin, yang harus berjuang seorang diri menahan sakit yang mendalam dan tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Dunia  serasa tidak adil, ketika Karin dan ibunya memeriksakan kandungannya. Seharusnya dalam keadaan hamil seperti ini, Karin harus merasakan kemanjaan-kamanjaan seorang istri yang sedang mengandung. Apalagi ini pertamakali yang dirasakannya.

Beban itu semakin berat dan rasa takut selalu menghantuinya. Kemungkinan Karinalah orang yang merebut suami perempuan itu. Rasa perpisahannya lima tahun yang lalu, bukanlah akhir dari cerita mereka. Karena itulah Tuhan menimpakan sakit yang sama pada Karin di saat dirinya tengah mengandung benih suaminya, yang juga pernah menjadi suami perempuan itu.

Perasaan yang sangat menyakitkan bagi Karin, hingga dirinya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, harus menipu semua orang. Keluarganya tidak tahu tentang pernikahan adat di Bali bersama Kadek, wanita yang dinikahi suaminya lima tahun silam. Tanpa ada yang tahu, bahwa dia telah memiliki seorang anak, buah cinta dari Kadek dan Ardhan, suami Karin. (hal 183)

Banyak lika-liku kehidupan dan masalah yang ditimbulkan oleh Kadek, mantan istri suaminya. Karin harus berhadapan dengan wanita yang berhati dingin dan penuh dengan rasa iri. Iri karena Ardhan menikah dengan Karin yang terlihat sangat bahagia saat foto bersama di Bali. Kini hanya berusaha untuk tegar dan berusaha sekuat tenaga untuk merawat janin yang sedang dikandungnya. Ketegaran Karin semakin kuat setelah lahir anak perempuannya yang diberi nama, Ebony yang berarti kuat.

Novel yang terangkat dari kisah nyata, seorang gadis yang bernama Asih Karina. Penggunaan alur yang bolak-balik dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh semua pembaca. Seolah-olah penulis ingin  menyeret pembaca untuk melihat langsung kejadian yang dialami.

Kisah ini mengajarkan kepada pembaca untuk lebih berfikir panjang. Bahwa kehilangan seseorang yang begitu dicintai bukan berarti hidup kita berakhir begitu saja. Namun, dengan permasalahan yang ada mampu kita hadapai dengan tagar dan sabar. Sehingga secara tidak langsung kita selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Belajar dari kesalahan adalah guru terpenting dalam kehidupan.

Persoalan dan Gagasan Pendidikan Nasional

Surel Cetak PDF

Resensi buku Calak Edu 3 karya Ahmad baedowi

Malang Pos | Minggu, 27 Desember 2015 | Muhammad Khambali


Buku Calak Edu 3 ini menguraikan berbagai persoalan sekaligus gagasan untuk pendidikan nasional di Indonesia. Ahmad Baedowi dalam tulisan esai mengenai pendidikannya tidak hanya berisi kritik, namun juga menawarkan solusi alternatif guna perbaikan dunia pendidikan.

Menurut Ahmad Baedowi potret pendidikan kita adalah sebuah paradoks. Ketika hasil PISA mengatakan para siswa di Indonesia termasuk dalam kategori siswa paling bahagia. Sementara hasil pemeringkatan PISA menunjukkan para siswa Indonesia berada pada level terendah dalam penguasaan matematika, sains, dan literasi.

Sebuah ironi, ketidaktahuan menjadi sebuah kebahagiaan. Maka jangan-jangan selama ini pendidikan nasional tidak melakukan pekerjaan pendidikan (education), tetapi lebih memilih mengurusi aspek edu-tainment, Yang penting bagaimana membuat anak-anak bahagia, meskipun mereka bodoh (hlm 39).

Secara psikologis, jelas sekali ada paradoks yang besar antara capaian akademik yang rendah dan rasa bahagia ini. Ada yang salah dengan sistem persekolahan. Orientasi pendidikan yang selama ini berfokus pada hasil membuat proses belajar tak lagi penting. Siswa bersenang-senang di sekolah, tetapi tidak sungguh belajar.

Rendahnya hasrat belajar berbanding lurus dengan rendahnya tradisi literasi di sekolah. Setali tiga uang dengan minimnya budaya membaca. Bagi Ahmad Baedowi hal itu disebabkan oleh kebijakan Ujian Nasional. Tradisi membaca tak tumbuh karena dalam proses belajar mengajar di sekolah, anak-anak lebih banyak diajarkan untuk menghafal, terutama menghafal jenis soal yang akan keluar dalam Ujian Nasional (hlm 68). Kebiasaan menghafal, membuat membaca menjadi aktivitas yang membosankan.

Ahmad Baedowi menyesali generasi pembaca tak tumbuh dengan baik karena belenggu kebijakan pendidikan memang sengaja tak menciptakan kecintaan terhadap membaca. Orientasi terhadap hasil berupa kelulusan dan ijazah semata melahirkan frustrasi belajar. Menciptakan minimnya minat baca dalam mengarungi fantasi belajar yang menyenangkan.

Gejala-gejala rendahnya budaya membaca dan hasrat belajar juga banyak disebabkan oleh politik pendidikan yang hanya berorientasi kepada dunia kerja. Dalam pandangan demokrasi liberal dan kapitalisme, pendidikan selalu diarahkan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai human capital. Pendidikan nasional terjerumus ideologi yang memandang para siswa semata human capital milik industri dan negara, dan karenanya sekolah harus dikelola dengan cara-cara produksi (hlm 92-94).

Selanjutnya buku ini membahas mengenai politik pendidikan nasional. Pendidikan tak terlepas dengan politik, dan politik adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Politik pendidikan kita semestinya mengacu pada nilai identitas bangsa ini. Salah satunya adalah mengenai politik bahasa.

Bahasa menjadi kata kunci teramat penting yang tidak bisa dilepaskan dari politik bahasa dan kebijakan sebuah bangsa. Pentingnya bahasa sebagai alat pemersatu, bukan pemecah-belah keragaman, adalah distingsi yang harus terus dipelihara sebagai sebuah kebijakan negara yang tidak bisa ditawar, termasuk di sekolah (hlm 130).

Bagi para murid di pedesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah. Hal ini yang menjadikan politik bahasa menjadi sangat penting. Ahmad Baedowi melihat pentingnya menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di TK sampai tahun-tahun awal di SD. Dan juga menyarankan adanya otonomi pendidikan agar pemerintah daerah mendesain sendiri buku-buku berbahasa lokal (hlm 131).

Ahmad Baedowi mengutarakan bahwa mengurusi pendidikan adalah proses yang tiada akhir (hlm 224). Ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan kritis, Ahmad Baedowi mempersoalkan berbagai paradoks yang terjadi dalam dunia pendidikan nasional. Komarudin Hidayat memberikan apresiasi terhadap buku Calak Edu 3 ini sebagai bagian dari proses belajar bersama untuk perbaikan pendidikan. Berharap menginspirasi para guru, kepala sekolah, dan praktisi pendidikan dalam membangun budaya dan lingkungan pendidikan yang positif dan lebih baik.

Kisah Penakhlukan Setelah Delapan Abad

Surel Cetak PDF

Resensi buku 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim karya Roger Crowley

Radar Surabaya | Minggu, 13 Desember 2015 | Al Mahfud

 

Kota Konstantinopel, (sekarang Istanbul) menyimpan sejarah besar penakhlukan pasukan Islam atas kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Kota ini menjadi kota Kristen selama 400 tahun dan memiliki kelebihan alamiah dari segi geografis. Pada abad ke-5, tembok-tembok tanah dibangun dan membuat kota yang tumbuh di atas perbukitan ini nyaris tak bisa diserang jika hanya mengandalkan kekuatan ketapel tempur waktu itu. Tembok sepanjang 12 mil melindungi kota ini.

Merunut sejarahnya, Byzantium atau Konstantinopel berulangkali mendapat serangan bangsa pengembara Turki. Dan serangan umat muslim pada 1453 M merupakan puncak dari sejarah panjang penyerangan yang dikisahkan Roger Crowley dalam buku ini. Peristiwa tersebut menjadi titik tumpu Abad Tengah yang kemudian beritanya menyebar ke seluruh penjuru dunia Muslim dan Kristen.

Pada tahun 630, pasukan Muslim tiba di Byzantium. Mereka mengepung banyak kota dan akhirnya Damaskus jatuh, disusul Yerusalem. Pada 641, Mesir menyerah, dan Armedia pada 653. Dalam jangka dua puluh tahun, kerajaan Persia runtuh dan beralih masuk Islam. Namun, Konstantinopel yang menjadi dambaan selama berabad-abad belum ditakhlukkan. Pada 669, Khalifah Muawiyah melepaskan pasukan amfibi besar untuk menyerang Konstantinopel. Namun, Muawiyah akhirnya terpaksa menyepakati genjatan senjata tanpa syarat selama 40 tahun pada 679 karena pasukan Arab diserang mendadak dan dihancurkan di Pantai Asia.

Roger mengisahkan penyerangan demi penyerangan antara armada Muslim dengan Byzantium dengan teliti dan cermat, terutama dalam memandang sumber sejarah yang ada. Misalnya, pada episode kekalahan besar yang dialami pasukan Muawiyah tahun 679 tersebut. Menurutnya, penulis sejarah mengetengahkan episode ini sebagai bukti bahwa “kekaisaran Romawi dilindungi Tuhan”. Namun, bagi Roger, hal itu lebih karena kekaisaran Romawi waktu itu dijaga teknologi baru: pengembangan bom api Yunani (hlm 13).

Sang Penakhluk

Momentum kemenangan pasukan Muslim baru terjadi beratus-ratus tahun kemudian. Tepatnya pada 1453, dalam pimpinan Sultan Mehmet II. Roger menggambarkan momen ketika Sultan Mehmet memasuki kota Konstantinopel dengan segala kebesaran dan kemenangan, yang kemudian menyebabkan ia dikenang dalam bahasa Turki dengan gelar Al-Fatih (Sang Penakhluk). “Sultan masuk melalui gerbang Charisian dengan menunggang kuda, diiringi para wazir, ulama, panglima perang, prajurit, yang semuanya berjalan kaki. Bendera Islam yang berwarna hijau dan bendera kesultanan yang berwarna merah dikibarkan ketika arak-arakan itu berderap memasuki lengkung gerbang”.

Menurut Roger, setelah potret-potret Kemal Ataturk, momen tersebut bisa dikatakan sebagai citra paling banyak dikenang yang terekam dalam puisi dan lukisan-lukisan sejarah Turki. Referensi yang kaya dan ketekunan mencermati data-data dari sumber sejarah yang beragam menjadikan kisah yang dihadirkan Roger dalam buku ini menjadi begitu memikat. Narasi sejarah menjadi hidup dan karakter setiap tokoh di dalamnya digambarkan dengan kuat. Maka tak berlebihan jika Noel Malcom (Sunday Telegraph) menyebut apa yang disuguhkan buku ini sebagai salah satu cerita paling menarik dalam sejarah dunia.

Kisah Kekayaan Nusantara

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run karya Giles Milton

Koran Sindo | 06 Desember 2015 | Lusiana Dewi


Kolonialisme yang dialami oleh Indonesia pada era dahulu memang tidak lepas dari sumber daya alamnya yang aduhai.
Bangsa-bangsa kolonial melirik potensi alam Indonesia yang bagai surga dunia lantaran kekayaan alam yang luar biasa. Salah satu daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa kolonial adalah rempahrempah yang tidak ada duanya. Nusantara adalah gudang rempah-rempah yang menggiurkan, bahkan ketika itu jauh lebih mahal dari emas. Salah satu tempat yang kaya akan rempah-rempah, terutama pala, di Nusantara adalah Pulau Run.
Karena itu, pulau ini menjadi magnet yang sangat memikat bangsa-bangsa penjajah untuk merebut ”tanah surga” tersebut. Hal itulah yang dikisahkan secara naratif oleh Giles Milton dalam buku yang dalam edisi bahasa Indonesianya bertajuk Pulau Run ini. Pulau Run terbentang di perairan yang tenang di Hindia Belanda, sebuah titik karang yang terpencil dan retak yang terpisah dari kumpulan daratan terdekat, Australia, dengan jarak lebih dari enam ratus mil di lautan.
Pada masa kini, itu merupakan tempat yang begitu tak penting sehingga bahkan tidak bisa masuk dalam peta; The Times Atlas of The World abai untuk mencatat keberadaannya dan para kartografer Atlas of South East Asia terbitan Macmillan telah menguranginya menjadi hanya sebuah catatan kaki. Tak ada yang peduli, Run barangkali telah tenggelam di bawah perairan tropis Hindia (hlm. 3).
Meski kondisi sekarang sebegitu terabaikan, pada zaman dulu Run adalah magnet rempah- rempah yang banyak diincar oleh orang-orang Barat. Bukan tanpa alasan pula rempahrempah, khususnya pala, banyak dicari. Selain harganya mahal lantaran susah didapatkan dan menjadi komoditas yang rahasia di pasaran dunia, para dokter juga merekomendasikan pala dan jenis rempah-rempah lain untuk kesehatan dan mempunyai serentetan manfaat.
Para doktor fisika terkemuka di London makin sering membuat klaim-klaim yang keterlaluan tentang kemanjuran pala, menganggap rempah tersebut bisa menyembuhkan segalanya mulai dari wabah sampar hingga berak darah. Bukan hanya penyakitpenyakit pengancam nyawa yang dikabarkan bisa disembuhkan pala.
Minat yang meningkat dalam nilai pengobatan pada tanaman tersebut telah menyebabkan meledaknya jumlah buku-buku diet dan herbal, dan semua mengklaim bahwa pala serta rempah-rempah lain bermanfaat dalam melawan penyakit-penyakit sepele (halaman 24-25). Wajar saja jika Pulau Run yang di atasnya ditumbuhi hutan pala menjadi rebutan beberapa bangsa: Portugis, Belanda, Spanyol, dan Inggris. Hanya, beberapa pulau yang kini membentuk Kepulauan Maluku itu telah dikuasai oleh Belanda, khususnya Banda.
Tersisalah Pulau Run yang belum terjangkau Belanda karena selain masyarakat lokal di Pulau Run yang gemar mengoleksi kepala manusia, rute ke pulau tersebut juga disulitkan oleh tebing, bebatuan, dan kondisi alam lainnya yang menyulitkan kapal berlabuh. Adalah Nathaniel Courthope, seorang komandan yang dalam buku ini dijadikan sebagai tokoh utama dalam perebutan Pulau Run. Dia komandan utusan dari Inggris yang perjalanannya menentukan sejarah besar Pulau Run.
Dia ditunjuk sebagai komandan pada Oktober 1616 oleh John Jourdain yang telah lama mengenali kemampuan Courthope dan kini mengirim temannya pada sebuah misi yang sangat penting. Courthope berlayar dengan kapal-kapalnya ke Makassar untuk membeli beras dan perbekalan, kemudian langsung pergi ke Run, di mana diperkirakan orang-orang pribumi mengharapkannya dan akan siap menerimanya.
Penting bahwa ia harus berhasil menguasai pulau itu karena dari enam pulau utama Banda, hanya Run yang masih berada di luar cengkeraman Belanda (halaman 355). Dengan segenap keyakinan dan sikap antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi, Courthope tiba di Run. Benar saja, hanya menguasai Pulau Run suplai pala dunia berada di genggaman tangan.
Tidak berlebihan karena pala memang dibutuhkan oleh orang-orang di dunia, baik mereka yang tinggal di Barat, Arab, maupun Konstantinopel– jauh sebelum kejatuhannya di tangan Sultan Mehmet II (1453). Ternyata, reaksi Belanda yang menguasai wilayah Banda kecuali Run sungguh kejam. Belanda membantai orang-orang Inggris di Banda dengan begitu keji dan kejamnya.
Terutama di Ambon, Belanda banyak menumpahkan darah orang-orang Inggris. Inggris pun tersulut. Mereka kemudian menyerang Manhattan yang dikuasai Belanda dan berhasil merebutnya. Manhattan merupakan daratan subur, ketika itu diduduki oleh Belanda namun berhasil dikuasai Inggris dengan segera setelah Belanda membantai orang-orang Inggris di Banda.
Kesepakatan besar pun terjadi. Akhirnya, Pulau Run yang kecil itu ditukar dengan Manhattan (kini membentuk New York) yang bertanah subur, berharga, dan menjadi banyak destinasi orang-orang Eropa. Dengan demikian, tidak berlebihan jika Andrew Roberts (The Wall Street Journal) mengungkapkan sebuah catatan (endorsement) pada buku ini bahwa New York akan memakai bahasa Belanda hingga hari ini, bukan bahasa Inggris, jika peristiwa dalam buku ini tidak terjadi.
Hal itu pun mengubah jalannya sejarah yang menyertakan kesepakatan besar untuk masa kini dan masa depan yang terbentuk oleh sejarah. Buku setebal 512 halaman ini mengajak para pembaca untuk melihat sejarah lebih dalam, terutama wilayah Run yang diperebutkan oleh dunia.
Hal itu mengindikasikan bahwa Nusantara adalah wilayah subur dan sangat kaya lantaran berlimpah sumber daya alamnya. Akan menjadi hal yang lucu jika rakyat Indonesia di masa kini tidak menyadari kekayaannya sehingga membiarkan orangorang asing menjamahnya.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL