You are here Info Buku

Resensi Buku

Pemikiran Visioner Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Jurnas.com | Kamis, 3 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

 

Siapa menyangka kalau Thomas Jefferson membeli kitab suci Al Quran. Hal itu terjadi pada 1765, tepatnya sebelas tahun sebelum Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Hal ini ditengarai sebagai awal dari minat Jefferson untuk mempelajari Islam.

Usai itu, Jefferson terus mencari sederetan buku yang mengulas banyak hal mulai dari bahasa, sejarah, dan perkembangan Timur Tengah. Namun hal itu tidak mudah bagi Jefferson untuk mempelajari Islam. Semua itu dianggap menghina keimanannya sebagai pemeluk Protestan.

Pada 1776 itu, Jefferson sudah membayangkan kalau umat Islam sudah menjadi warga negara Amerika Serikat. Saat ini sendiri kaum Muslim mencapai sekitar 0,6 persen dari total sekitar 318 juta orang penduduk AS, kira-kira 1,8 juta orang.

Denise A. Spellberg mengisahkan kalau para founding father AS malah sudah tertarik dengan ide perihal toleransi untuk membuat landasan praktis pemerintahan. Padahal saat itu, keberadaan kaum Muslim juga tidak diketahui.

Buku Kontroversi Al Quran Thomas Jefferson ini menjadi penting lantaran kecurigaan Dunia Barat terhadap Dunia Islam masih terus ada, sementara jumlah warga Muslim AS justru berkembang. Karya ini bisa menjadi literatur yang pas guna menjalin lagi hubungan kedua belah pihak lantaran Spellberg mengungkap gagasan yang benar-benar tidak biasa dan revolusioner dari para pendiri negara AS.

Tur Keliling Kota Kairo

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kairo: Kota Kemenangan karya Max Rodenbeck

Jurnas.com | Senin, 7 Juli 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

Kairo adalah kota yang berusia lebih dari lima ribu tahun. “Kemenangan” atau Al Qahirah menjadi sebutan para penakluk Arab. Kota ini memang punya sejarah panjang lantaran pernah menjadi pusat kekuasan para Fir’aun dan para Sultan. Kota ini juga menjadi hadiah bagi para penakluk hebat seperti Iskandar Agung, Shalahuddin al-Ayyubi, hingga Napoleon Bonaparte.

Penceritaan kota Kairo pun dilukiskan dengan indah oleh Max Rodenbeck. Dia menyuguhkan perpaduan tidak biasa dan unik antara cerita perjalanan, riwayat sejarah, dan kisah epik.

Rodenbeck memang punya pengetahuan mendalam soal Kairo. Tidak heran dia mengisahkannya dengan cerdas, penuh humor, dan penuh kecintaan. Jurnalis senior ini dibesarkan di Kairo ketika ayahnya melanjutkan pendidikan di kota ini pada era 1960-an.

Maka Rodenbeck pun membawa pembacanya seperti tengah mengikuti tur mengelilingi kota. Pastinya tur yang tidak biasa melainkan yang luar biasa lewat penyuguhan Kairo lewat sejarah panjangnya dan juga segala macam kontradiksinya. Mulai dari gang sempit, pasar rakyat, sarang ganja, pemukiman kumuh hingga ke soal politik.

Jefferson, al-Quran, dan Islam

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Koran Sindo | Minggu 15 Juni 2014 | Hendri F Isnaeni, redaktur majalah Historia

 

Pada Januari 2007, Keith Ellison, muslim pertama yang menjadi anggota Kongres Amerika Serikat, mengikrarkan sumpah jabatan di atas Alquran milik Thomas Jefferson.

Alquran tersebut tersimpan di perpustakaan Kongres. Pada saat inilah, Denise A Spellberg, ahli sejarah Islam, berpikir untuk membuat buku yang tidak hanya tentang kepemilikan Jefferson terhadap kitab suci Islam itu, tetapi mengapa Jefferson dan yang lainnya menyertakan umat Islam ke dalam cita-cita negara yang baru lahir. Baru pada 2011, Denise dapat membaca dan meneliti Alquran milik Jefferson itu.

Jefferson membeli Alquran, dua jilid, terjemahan George Sale, pada 1765 di Virginia Gazette , koran lokal di Williamsburg sekaligus penjual buku satu-satunya di Virginia. Nahasnya, lima tahun kemudian, rumah ibunya di Shadwell terbakar. Jefferson tidak menyebutkan apakah Alqurannya terbakar atau terselamatkan. Bagaimana dengan Alquran bertanda tangan Jefferson yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Kongres? Ada dua kemungkinan, Alquran tersebut asli entah selamat dari kebakaran atau salinan dari edisi yang sama.

Jika Jefferson membeli Alquran dua kali, akan menjadi bukti luar biasa dari hasratnya untuk memahami Islam dalam pengertiannya sendiri, dengan melihat langsung dari sumbernya yang paling suci. Kenyataannya, pembelian Alquran hanya menandai awal dari pembelajarannya tentang Islam. Setelah kebakaran itu, dia segera membenahi lagi perpustakaannya, dan berusaha mendapatkan banyak edisi tentang Timur Tengah, sejarah, danperjalanan.

Menurut Denise, meskipun Jefferson memiliki Alquran, tidak ada indikasi dia meneliti teks tersebut ayat demi ayat, sebagaimana yang akan dilakukannya terhadap Perjanjian Baru. Dia membuat dua edisi Injil pilihan yang dia terima sebagai kebenaran dengan menghilangkan bagian-bagian yang tidak layak, sebuah versi yang dikenal setelah kematiannya sebagai Injil Jefferson. Tidak adanya catatan Jefferson terhadap Alquran itu membuat kita berspekulasi bahwa pandangan Sale telah memukaunya.

Sale memberikan ”Wacana Pendahuluan” dalam Alquran terjemahannya tentang sejarah Islam, praktik ibadah, dan hukum Islam. Informasi yang cukup akurat ini kemungkinan besar memengaruhi pemikiran Jefferson tentang Islam. Selain itu, karya John Locke, A Letter Concerning Toleration (1689) juga mendorong minatnya dalam hak-hak sipil umat Islam. Pada Oktober 1776, Jefferson memikirkan pertanyaan yang lebih universal: ”Mengapa menganiaya karena perbedaan dalam pendapat agama?

”Menurut Denise, banyak orang di Eropa telah berjuang dan menderita dalam ketiadaan sebuah jawaban, membuat sebuah minoritas penting di Inggris abad ke-17 dan Amerika Utara untuk memikirkan toleransi terhadap umat muslim. Namun, tidak ada seorang pun hingga Thomas Jefferson yang pernah memberanikan diri untuk membuktikan secara hukum gagasan muslim sebagai warga negara Amerika Serikat.

Dalam pemikirannya tentang kewarganegaraan Amerika, Jefferson menganut gagasan lebih luas dan, pada saat itu, tidak biasa, yang dipinjam dari John Locke pada 1776: ”Tidak ada penganut Pagan maupun Mahameden (muslim) maupun Yahudi yang harus dikecualikan dari hak-hak sipil Persemakmuran sebab agamanya.” Di sinilah dalam catatan Jefferson upaya pertama dalam negara baru tersebut untuk memikirkan ”hak-hak sipil Muslim maupun Yahudi.” Selain fokus pada pandangan Jefferson, buku ini juga menganalisis perspektif John Adams dan James Madison terhadap Islamdanmuslim.

Selain founding fathers tersebut, buku ini juga membahas mereka yang andil dalam menyuarakan hak-hak muslim, yaitu para pemrotes Presbiterian dan Baptis yang menentang penetapan agama resmi di Virginia; pengacara Anglikan James Iredell dan Samuel Johnston di Carolina Utara yang menuntut hak-hak muslim dalam konvensi ratifikasi konstitusi negara bagian mereka; dan John Leland, pengkhotbah Baptis Evangelis sekaligus sekutu Jefferson dan Madison di Virginia, yang mengagitasi di Connecticut dan Massachusetts untuk mendukungkesetaraanmuslim, Konstitusi, Amandemen Pertama, danakhirnyaagamaresmiditingkat negara bagian.

Namun, menurut Denise, mereka melakukannya bukan demi kepentingan umat muslim sungguhan, karena pada saat itu tidak ada yang diketahui tinggal di Amerika. Jefferson dan yang lainnya membela hakhak muslim demi ”Muslim Imajiner,” muslim di masa depan. Yahudi dan Katolik akan berjuang hingga abad ke-20 untuk mendapatkan secara praktik kesetaraan hak yang dijaminkan kepada mereka, meskipun tidak akan sepenuhnya menghapus prasangka terhadap kedua kelompok tersebut.

Sayangnya, hanya muslim yang sampai sekarang tetap menjadi objek dari wacana penghinaan dan marjinalisasi sipil; muslim masih dianggap di banyak wilayah sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya khas Amerika.

Merangkai Lagi Sejarah Kitab Suci

Surel Cetak PDF

Resensi buku Rekonstruksi Sejarah al-Quran karya Taufik Adnan Amal

Jurnal Nasional | Minggu, 8 Juni 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun lebih. Dalam rentang waktu itu turunlah 6236 ayat yang terangkum dalam 114 surat, terbagi rata dalam 30 juz. Soal 6236 ayat masih bisa diperdebatkan apakah lafal basmallah dihitung atau tidak.

Sebagian besar umat Islam meyakini kalau susunan ayat dan surat seperti saat ini bersifat tawfiqi, tidak dapat diperdebatkan, sudah ditetapkan oleh Allah SWT atau ditetapkan Allah SWT melalui Rasulullah. Tidak ada riwayat yang mencatat bahwa satu ayat ditempatkan setelah ayat lain. Kalau ada, maka membutuhkan ribuan kisah tentang itu.

Ada semacam sejarah yang hilang soal penjelasan ini. Taufik Adnan Amal berupaya menjelaskannya lewat buku ini. Namun salah satu pakar tafsir al-Quran, M. Quraish Shihab memberikan kritik konstruktif kalau sang penulis banyak mengutip karya-karya orientalis seperti T. Noeldeke, Arthur Jeffrey, serta Richard Bell dan tidak diimbangi dengan karya dan ulasan pakar spesialis al-Quran dari kalangan Islam. Meski menjadi salah satu sisi keistimewaan, tetapi juga dapat menjadi sisi yang kontroversi.

Judul: Rekonstruksi Sejarah al-Quran

Penulis: Taufik Adnan Amal

Penyunting: Samsu Rizal Panggabean

Penerbit: Pustaka Alvabet

Cetakan: Pertama, Oktober 2013

Tebal: 484 halaman

Ketika Tak Tabu Lagi Dibicarakan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Seks & Hijab karya Shereen El Feki

Jurnal Nasional | Minggu, 8 Juni 2014 | Dodiek Adyttya Dwiwanto

 

Jangan kaget dan takjub jika membaca buku ini. Seks pra nikah yang tabu, hubungan intim suami istri, artikel seks dan film porno, perdebatan pendidikan seks dan aborsi, orangtua tunggal tanpa menikah, munculnya seks komersial, seks sesama jenis, transeksual, dan lainnya diungkapkan dalam buku ini.

Apa yang salah dengan dunia Arab yang punya tradisi Islam yang lekat. Namun semua itu memang terjadi. Shereen El Feki mengungkapkannya secara detil tentang kehidupan seksual masyarakat Arab yang terkait erat dalam agama dan tradisi, politik dan ekonomi, serta lainnya. Dia melakukan riset panjang dan juga investigasi mendalam.

Ini memang catatan personal dan juga sudut pandang pribadi El Feki soal seksual dan masyarakat Arab, kebetulan dia juga keturunan Arab. Masalah seksual memang hal yang tabu diperbincangkan, meski begitu ada sebuah kajian yang mengungkapkan hal ini. By the way, sejumlah masalah seksual yang ada sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu seperti seks pra nikah, seks komersial, seks sesama jenis, dan transeksual. Hanya saja sekali lagi hal itu tabu dibicarakan.

Judul: Seks & Hijab, Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah

Penulis: Shereen El Feki

Penerjemah: Adi Toha

Penyunting: Indi Aunullah

Penerbit: Pustaka Alvabet

Cetakan: 1, Oktober 2013

Tebal: 444 halaman

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL