You are here Info Buku

Resensi Buku

Merentang Kota Kemenangan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kairo: Kota Kemenangan karta Max Rodenbeck

Koran Sindo | Minggu, 23 Februari 2014 | Hendri F. Isnaeni

 

Ibnu Batutah berangkat dari Tangier pada 725, ketika usianya 22 tahun, untuk menjelajahi dunia. Bertualang selama 30 tahun, dia berhasil menyinggahi kota-kota di Arab, Afrika, sampai Asia –termasuk ke Sumatera di Nusantara.

Ibnu Batutah punya peraturan dalam petualangannya sepanjang 120.000 kilometer itu: dia bersumpah tidak akan melintasi jalan yang sama. Namun, ada satu kota yang dia kunjungi tidak kurang dari lima kali: Kairo. Tidak seperti kota lainnya, Kairo memukau Ibnu Batutah.

Dia kali pertama singgah pada 1326, ketika Kairo berada di puncak kejayaannya. Selama tiga abad, Kairo menjadi kota muslim terhebat. Max Rodenbeck, penulis dan jurnalis yang berbasis di Kairo, mengawali pembahasan bukunya dengan petualangan Ibnu Batutah yang terpukau oleh Kairo. Seperti Ibnu Batutah, Max pun terpesona oleh kota yang dia tinggali selama sebagian besar hidupnya. “Ya, saya setuju,” tulis Max, “Kairo kota yang menakjubkan dengan kisah yang jarang diceritakan dengan simpatik dan benar.”

Menurut Max, ada dua jenis buku tentang kota: buku perjalanan dan sejarah. Walaupun kisah perjalanan hanya mampu menggali permukaan Kairo, buku sejarah pasti tidak berdaya di hadapan masa lalu kota yang sangat luas. Karena itu, Max membuat buku ini sebagai buku perjalanan sekaligus sejarah. Max membahas sejarah Kairo dari masa prasejarah ketika kali pertama permukiman permanen sekitar 10.000 tahun lalu, bahkan sekilas membahas mitos Kairo sebagai tempat Penciptaan yang disebut On.

Pembahasan berikutnya ketika para Firaun berkuasa, di mana Max menyebut Kairo sebagai Kota Mati (bab dua) karena makam-makam para Firaun begitu megah berupa piramida. Ini, menurut Max, karena penduduk Memphis (sebutan Kairo masa kuno) menilai keahlian membuat bangunan dari batu sama pentingnya dengan penciptaan tulisan. Sedemikian pentingnya, mereka mengabadikan pembangun piramida pertama, Imhotep, sebagai dewa.

Pada bagian berikutnya, Max menyebut Kairo sebagai Kota Orang Mati (bab tiga) ketika para penguasa Islam masih mempertahankan penghormatan terhadap orangorang terkemuka dengan membangun makam-makamnya yang megah. Sesungguhnya, tulis Max, kebangkitan pembangunan makam yang spektakuler terjadi setelah kedatangan Islam pada tahun 640. “Sebagaimana monumen pemakaman di Saqqara dan Giza yang mencatat inkarnasi kota dalam bangunan batunya, makam para wali, penguasa, dan tokoh masyarakat pada zaman muslim pun menggambarkan keberhasilan mereka hingga zaman sekarang.”

Pada masa Islam ini, Max mendedah Kairo di bawah dinasti-dinasti Islam: Abbasiyah, Fathimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah. Mesir menjadi provinsi Abbasiyah, sedangkan Kairo atau Misr al-Fustat, seperti masih dikenal hingga saat ini, hanyalah ibu kota provinsi, kota industri yang tidak memiliki keindahan istana. Dinasti Fathimiyah, pengganti Abbasiyah, mendirikan kota benteng seluas empat kilometer persegi berisi istana dan halaman parade serta taman pribadi terletak beberapa kilometer sebelah utara Misr al-Fustat.

Mengikuti saran para astrolog mereka menyebut istana itu sebagai al-Qahirah (kemenangan). Pedagang Italia, yang kesulitan melafalkan bahasa Arab, menyebut al- Qahirah sebagai Kairo. Inilah awal zaman keemasan kota ini. Wangsa Ayyubiyah yang menggantikan Fathimiyah yang bermazhab syiah mendukung warga Kairo yang terus memuja orang mati yang terkenal –tentu saja kecuali keturunan wangsa Fathimiyah. Penguasa baru pun memugar tempat ziarah makam Imam Syafii yang rusak serta makam-makam para fakih dan ulama Suni lainnya.

Kaum Mamluk, penakluk Ayyubiyah, membangun istana, masjid, dan universitas di pusat kota, serta makammakam yang megah. Namun, usai sudah kejayaan Kairo abad pertengahan ketika Utsmaniyah berkuasa. Dari pusat kekaisaran yang megah, puncak peradaban Islam, dan pusat perdagangan laut tengah, kota itu tersuruk ke dalam kondisi kota biasa. Ia menjadi kota garnisun Utsmaniyah. Sepanjang tiga abad pemerintahan Utsmaniyah tak satu pun monumen didirikan untuk menyaingi keaslian dan kemegahan masjid, universitas, dan makam besar di zaman Mamluk.

Pasukan Napoleon Bonaparte dari Prancis masuk ke Kairo pada 1798. Pasukan Prancis terakhir angkat kaki pada 1801 karena Inggris sudah mendarat di Iskandariyah. “Mereka meninggalkan kota yang hancur secara moral dan fisik,” tulis Max. “Mereka mengguncang ketenangan Kairo; merusak harga dirinya.” Di bawah kekuasaan Inggris, wajah Kairo berubah ke arah kota-kota di Eropa. Kisah perjalanan dan sejarah Kairo tidak berhenti di sini karena Max menelusurinya hingga tahun 1990-an.

 

 

Rahasia Kegigihan Kota Kemenangan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kairo: Kota Kemenangan karya Max Rodenbeck

Majalah Gatra | Rabu, 23 Januari 2014 | Ade Faizal Alami

 

Di sudut jalanan kota Kairo, ada benang kegemilangan sejarah Buku yang menggambarkan keunikan sebuah kota kuno yang mampu eksis dari gempuran zaman. Perkembangan kontemporer pasca-Hosni Mubarak belum terekam.

Jika memperhitungkan perang selama dua abad terakhir, Kairo memiliki alasan untuk angkuh. Semua kota pesaingnya telah dihancurkan: Baghdad dan Damaskus telah di­hancurkan bangsa Mongol. Sementara Kristen Antiokya, Tyre, dan Akko oleh pasukan muslim. Adapun Konstantinopel oleh pasukan Salib yang mengkhianati sekutu Kristennya, kaisar Byzantium.

Pada masa kekuasaan Dinasti Ayyubi, Kairo adalah ibu kota dengan pasukan militer terkuat pada zamannya. Tidak hanya pernah mengendalikan kota suci Mekkah, Madinah, dan Yerusalem. Mereka pun menguasai seluruh lahan pertanian yang subur di Mesir. Selama dua setengah abad, dinasti ini menyerap semua kekayaan di negara tersebut ke Kairo.

Al-Qahirah, kemenangan, demikian para penakluk Arab menyebut kota ini. Selama 5.000 tahun sejarahnya, Kairo menjabat kota yang kaya dengan nama agung. Sebagai pusat kekuasaan para firaun dan sultan, hadiah bagi para penakluk dari Aleksander Agung, Salahuddin Al-Ayubi, hingga Napoleon Bonaparte, Kairo merupakan kota kuno yang tidak pernah berhenti menciptakan kembali sejarahnya.

Posisinya sebagai jalan persimpangan menuju Mekkah, Kairo didatangi peziarah dari dunia Islam. Muhammad ibn Khaldun, misalnya cendekiawan abad ke-14 kelahiran Tunisia itu akhirnya menetap untuk belajar dan mengajar di sejumlah kampus di Fustat dan Kairo. Di sana ada kampus tertua yang didirikan Khalifah Mufiz dari Dinasti Fathimiyah, Al-Azhar.

Kota tua dengan banyak kegemilangan sejarah itu menjadi inspirasi bagi para pelancong. Tidak terkecuali dengan Max Rodenbeck, jurnalis yang lama tinggal di Kairo. Kontributor New York Times di Kairo itu melihat Kairo dengan cara yang berbeda. Kondisi sosial di Kairo dipotretnya, namun kemudian loncat dalam narasi sejarah. Menelusuri kekuasaan Firaun hingga dan kembali melompat ke Abad Pertengahan dalam kejayaan kekuasaan Islam. Dari situ dibawa lagi ke pemerintahan Mesir modern masa kepemimpinan Anwar Sadat.

Terlepas dari gemerlap sejarahnya, bagi Rodenbeck, Kairo adalah daerah urban terpadat penduduknya di dunia. Secara keseluruhan, rata-rata kota ini menjejalkan 70.000 orang untuk 1 kilometer persegi ke setiap daerah dengan total luas 517 kilometer persegi, menempatkan warganya lebih padat daripada pulau kecil Manhattan nan padat. Di distrik tengah seperti Muski dan Bab ash-Shariyya, kepadatannya mencapai 300.000 orang per 2,5 kilometer persegi. Angka yang menjulang tinggi di beberapa jalan kecil hing­ga mencapai 700.000.

Biasanya, orang-orang tidak memenuhi blok menara apartemen, tetapi di dalam sekian banyak rumah petak yang tidak berbeda dari lokasi perumahan pada 1.000 tahun lalu. Dalam kondisi seperti itu, dengan tiga, dan kadang lima orang berjejalan dalam ruangan kecil, keluarga bergiliran makan dan tidur.

Tekanan jumlah penduduk menyentuh setiap aspek kehidupan di Kairo. Menyebabkan harga tanah mencapai USS 500 per meter persegi. Harga yang menjadikan para spekulan sebagai milyuner.

Kerumunan orang menimbulkan kebisingan, tekanan polusi, dan ketegangan sosial. Suasana karnaval dapat terasa menjengkelkan jika suasana hati sedang buruk. Warga Kairo sendiri mengeluh. Namun secara diam-diam mere­ka kecanduan menjalani kehidupan ber­jejalan dengan pemandangan yang tidak pernah ada habisnya.

Bahkan berdasarkan pengamatan Rodenbeck, orang Mesir, terutama Kairo, yang terdampar di ujung dunia dengan kota yang bersih sekalipun akan menyebutnya sebagai sesuatu yang menjemukan. Contohnya, Frankfurt. Ya, Kairo telah menjadi kota kenangan.

Setelah sekian lama dalam protektorat Inggris, kesadaran nasional Mesir pertama kali terusik saat pemberontakan Urabi pada 1880-an. Kemudian, para syekh, tentara, dan pasha pemilik tanah bersatu melawan dominasi asing. Namun, peristiwa kebangkitan Kairo yang singkat itu dan gagasan tentang kemerdekaan di­hancurkan oleh gabungan tentara Inggris, utang negara, dan momentum menuju modernisasi yang ditimbulkan imigran Eropa dan uangyang mereka miliki.

Sayangnya, Rodenbeck tidak membahas perubahan sosial dan dampak gejolak sosial politik di Kairo pasca-tumbangnya Hosni Mubarak. Pertikaian dan bentrokan politik yang menjalar di sepanjang jalanan Kairo belakangan ini membuat kota ini menjadi saksi sejarah baru Mesir.

Jiwa Islami dalam Konstitusi Kita

Surel Cetak PDF

Resensi buku Syarah UUD 1945 Perspektif Islam karya Masdar Farid Mas’udi

Dakwatuna.com | Selasa, 11 Februari 2014 | Abdul Aziz Musaihi

 

Indonesia dikenal sebagai negara dengan ciri masyarakat yang religius. Keyakinan keagamaannya sangat kuat bahkan sangat mempengaruhi norma, nilai, budaya, dan perilaku keseharian pemeluknya. Konstitusi Negara kita sendiri secara tegas mengakui kekentalan religiusitas tersebut. Pasal 29 ayat (1) menyatakan, negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan ayat (2) menyatakan, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

Buku Syarah UUD 1945 Perspektif Islam karya Masdar Farid Mas’udi yang hadir di tengah-tengah kita ini dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan harmonisasi ayat konstitusi UUD 1945 sebagai sumber hukum Negara dengan ayat agama, dalam hal ini Islam.

Titik temu ayat konstitusi dan ayat agama seperti tejabarkan dalam buku ini sebenarnya bertitik tolak pada ajaran bersama bahwa bernegara itu sama pentingnya dengan beragama. Memperkuat negara sama pentingnya dengan memperkuat agama, dan toleransi saudara sebangsa sama pentingnya dengan toleransi sesama antar pemeluk agama yang dianut masyarakat Indonesia.

Untuk menguatkan budaya sadar berkonstitusi, umat Islam di Indonesia perlu diberi penjelasan tentang konteks isi konstitusi dengan nash-nash dan dalil-dalil dari sumber primer ajaran Islam (al-Qur’an dan Sunah) seperti yang disajikan dalam buku ini. Karena sampai saat ini, meskipun jumlahnya sangat sedikit, masih ada saja orang-orang Islam yang menganggap bahwa konstitusi negara kita UUD 1945 tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga perlu diganti.

Ada sebuah disertasi tentang gerakan “ Islam Syariat” yang ditulis Haedar Nashir dalam meraih Doktornya di pasca sarjana UGM, menyebutkan bahwa sampai saat ini masih ada sekurang-kurangnya tiga gerakan resmi yang bersifat terbuka memperjuangkan formalisasi syariat Islam, bahkan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.

Pertama, Hizbut Tahrir (HTI), merupakan organisasi yang secara terbuka memperjuangkan Indonesia menjadi Negara Islam. Kedua, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang memperjuangkan berlakunya hukum Islam Menjadi hukum nasional tanpa harus menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Ketiga, Komite Persiapan Pemberlakuan Syari’at Islam (KPPSI) Sulawesi Selatan memilih jalan realistis dengan memperjuangkan berlakunya syariat Islam melalui berbagai Peraturan Daerah (Perda) dengan memanfaatkan peluang otonomi daerah yang dibuka secara luas.

Namun gerakan-gerakan formalisasi hukum Islam tersebut kandas, karena pendukungnya dari kalangan Islam minoritas. Mayoritas umat Islam, terutama ormas-ormas besar Islam seperti NU dan Muhammadiyah, tidak setuju dengan gagasan tersebut. Bagi sebagian besar ulama dan umat Islam, bahwa negara Indonesia dengan dasar Pancasila merupakan pilihan yang sudah final dan sama sekali tidak bertentangan dengan aqidah maupun syariat Islam.

Namun demikian, sebagai pengikut paham mayoritas umat Islam tidak perlu melarang apalagi memusuhi gerakan-gerakan politik yang bertujuan memformalisasikan Islam di Indonesia. Asalkan gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara demokrasi dan fair seperti yang mereka lakukan selama ini. Bagaimanapun ekspresi atas aspirasi tersebut adalah hak konstitusional mereka yang juga merupakan anak bangsa. Hanya saja perlu dijelaskan secara demokratis dan fair juga. Bahwa pilihan final atas NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 tidaklah bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam.

Buku ini sangat menarik karena mampu memberikan rujukan dalil-dalil untuk hampir semua ketentuan yang dimuat di dalam UUD 1945. Dari buku ini dapat disimpulkan bahwa kandungan konstitusi Negara kita itu islami. Ini berarti bahwa Indonesia dengan dasar Pancasila dan UUD 1945 adalah negara yang islami, tetapi bukan Negara Islam. Negara islami adalah Negara yang secara resmi tidak menggunakan nama dan simbol-simbol Islam, tetapi substansinya mengandung nilai-nilai substantif ajaran Islam, seperti kepemimpinan yang adil, amanah, demokratis, menghormati hak asasi manusia dan sebagainya.

Pilihan atas model Islami dengan cara pemuatan nilai substantive ajaran Islam seperti ini untuk konteks Indonesia sekurang-kurangnya mempunyai dua argument. Pertama, di dalam al-Qur’an dan al-Hadits tidak ada keharusan bagi umat Islam untuk membentuk negara Islam. Yang penting bagi kaum muslim adalah adanya Negara yang melindungi dan menjamin kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran Islam. Di sini berlaku kaidah Ushul Fiqih al-‘Ibratu fil Islam bil Jauhari La bil Madthari, bahwa yang penting dalam memperjuangkan syiar Islam itu adalah menanamkan nilai substantif ajaran Islam dan bukan mengibarkan formalitas simboliknya.

Kedua, tokoh-tokoh Islam Indonesia pada masa lalu sudah pernah memperjuangkan melalui jalur kostitusional dan demokratis untuk menawarkan agar Indonesia dibangun dengan dasar Islam. Namun, hasil kesepakatan bangsa yang diperoleh melalui pergumulan politik yang juga demokratis itu adalah membangun negara Indonesia berdasarkan Pancasila.

 

Kesepakatan itulah yang harus kita terima sebagai kesepakatan luhur yang harus dijaga dan dilaksanakan secara konsekuen. Di sini dapat berlaku kaidah Ushul Fiqih Maalaa Yudraku Kulluhu Laa Yudraku Kulluhu, bahwa memperjuangkan berlakunya seluruh ajaran Islam tetapi tidak berhasil maka lakukanlah hal-hal yang masih mungkin dilakukan dan diterapkan, bukan meninggalkan sama sekali kemungkinan yang masih tersedia.

Sang Juru Damai Perang Salib

Surel Cetak PDF

Resensi buku Santo dan Sultan karya Paul Moses

Rimanews.com | Rabu, 12 Februari 2014 | Abdul Aziz Musaihi

 

Pada tahun 1219, ketika perang salib kelima berlangsung, Fransiskus dari Assisi menyeberangi garis pasukan Muslim untuk menemui Sultan Malik al-Kamil di kampnya di tepi sungai Nil. Fransiskus sudah mendambakan pertemuannya dengan  seorang pemimpin Islam itu kurang lebih lamanya tujuh tahun dan menempuh perjalanan yang sangatberbahaya.

Pemimpin pasukan Kristen, Kardinal Pelagius sendiri telah memperingatkan biarawan dari Assisi tersebut bahwa melintasi medan pertempuran antara dua pasukan guna menemui Sultan Malik al-Kamil sama halnya dengan bunuh diri di medan musuh. Selain itu, Fransiskus juga diberi tahu Kardinal bahwa sang Sultan seorang tiran kejam yang mungkin akan menyiksa dan menghukum mati jika dia dicurigai sebagai mata-mata.

Fransiskus yang tidak asing lagi dengan kekejaman kemanusiaan dalam peperangan, tahu betul akan penyiksaan dan hukuman mati yang dilakukan sang Sultan pada dirinya. Namun, Fransiskus bersi kukuh untuk tetap menemui sang Sultan dan tidak akan gentar dengan peringatan Kardinal.

Sesampainya Fransiskus di perkemahan Pasukan Muslim, ia ditangkap dan diperlakukan dengan kasar oleh pasukan Muslim, kemudian Fransiskus dihadirkan di hadapan Sultan. Cukup mengherankan bagi sang Sultan, bahwa orang Kristen tanpa senjata ini berani memasuki kamp pasukan Muslim yang menjadi musuh bebuyutannya.

Sang Sultan pun mengirabahwa barangkali orang Frank, sebutan orang Islam terhadap tentara Salib, mengirim dia ke kampnya untukmembawa balasan surat terbarunya kepada Sultan. Namunfaktanya tidak demikian,kedatangan Fransiskus ke kampnya cukup mengejutkan Sultan, bahwa ia bertemu dengan Sultan justru ingin menawarkan perdamaian. Sebuah pertemuan yang memunculkan gagasan revolusioner di kalangan umat Kristen.

Sejalan dengan sang Sultan yang sangat menginginkan adanya kesepakatan yang akan mengakhiri pengepungan pasukan Kristen terhadap Damietta sebuah kota di muara sungai Nil. Di tengah peperangan, Santo Fransiskus dan sultan Malik al-Kamil menemukan landasan bersama dalam pertemuan mereka pada tahun 1219di luar kota Damietta Mesir yang sedang terkepung.

Pada saat itu, perang salib telah berkecamuk selama lebih dari satu abad. Pasukan Kristen merebut Yerusalem dari pasukan Muslim pada 1099, tetapi mengalami pukulan telak ketika pejuang hebat Salahudin mengambil alih kembali kota suci itu delapan puluh delapan tahun kemudian. Dalam dekade berikutnya, paus demi paus meluncurkan satu per satu upaya militer yang gagal untuk merebut kembali wilayah di tanah suci tersebut. Perang antar agama punterus berlangsung selama berabad-abad saat pasukan Kristen berjuang melawan pasukan Islam di Eropa.

Inilah kisah tentang bagaimana seorang biarawan berusaha dengan caranya sendiri untuk menghentikan siklus kekerasan perang salib. Sultan yang tak lain keponakan Salahudin, jelas kagum dengan biarawan kharismatik ini yang berani menyeberangke perkemahannya. Fransiskus salah satu Santo Kristen terbesar tergugah oleh pengalaman tersebut dan menjadi sangat terkesan dengan spiritualitas Islam. Dengan sebuah pertemuan yang revolusioner pada masanya, dia mendesak agar para brudernya hidup damai di tengah umat Islam. Pertemuan kedua kesatria ini sebagai cikal bakal dialog perdamaian antara umat Kristen dan umat Islam.

Melalui buku ini, Paul Moses akan mengungkap informasi yang tidak banyak diketahui perihal diplomasi damai antara sang Santo dan sang Sultan. Paul Moses yang juga seorang jurnalis dengan gaya bahasa khas redaksi, mengatakan bahwa kisah kebenaran tentang pertemuan Fransiskus dengan Sultan dalam perang salib telah lama ditutup-tutupi dalam sejarah.

Hal ini disebabkan Biografi-biografi penting mengenai Fransiskus ditulis di bawah pengaruh para paus abad pertengahan. Para penulis biografi Fransiskus tidak bisa mencatatkan cerita yang sebenarnya yang terjadi di Damietta. Mereka menganggap bahwa Fransiskus bertentangan dengan perang salib yang menjalankan sebuah misi perdamaian.

Masalah utama yang dihadapi dalam upaya untuk memulihkan Fransiskus yang sesuai sejarah adalah bahwa dokumen-dokumen abad pertengahan ini, betapapun rinci dan informasinya tidak bisa dipercaya begitu saja sebagai nilai sejarah. Tujuan penulisan dokumen-dokumen tersebut hanya menggambarkan kesucian Fransiskus, bukan untuk memberikan sejarah nyata akan kehidupannya. Bagi Paul Moses, hal itu perlu adanya usaha untuk mendekati materi-materi tentang Fransiskus dengan cara-cara orang jurnalis investigasi, yaitu mencari agenda-agenda tertentu.

Di sinilah Paul Moses menelusuri kisah nyata Fransiskus dengan menyatukan bukti-bikti lain dari kehidupan awal sang Santo. Kebenaran tentang pengabdian Fransiskus terhadap perdamaian yang samar-samar terlihat dalam sebuah catatan awal kehidupan sang Santo yang disembunyikan dalam sebuah biografi yang ditulis oleh seorang teolog besar abad pertengahan.

Selama bertahun-tahun, cerita Fransiskushanya samar-samar terdengar. Buku ini akan mengungkap informasi pertemuan sang Santo Fransiskusdengan sang Sultan al-Kamil yang tersembunyi dibalik perang salib dalam perjalanan santo menemui Sultan untuk menawarkan perdamaian anatara umat Kristen dan Islam.

Kaum Miskin pun Harus Sekolah

Surel Cetak PDF

Resensi buku Sekolah untuk Kaum Miskin karya James Tooley

Okezone.com | Rabu, 06 November 2013 | Lusiana Dewi

 

Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi setiap individu yang bisa disamakan dengan kebutuhan untuk makan, berpakaian, dan bertempat tinggal. Oleh karenanya, pendidikan merupakan sebuah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh semua orang. Hal itu dikarenakan bahwa pendidikan menjadi alasan utama untuk mencetak manusia yang terdidik, terpelajar, beradab, dan mampu membangun peradaban dunia.

Sementara itu, sekolah masih menjadi lembaga formal pendidikan yang juga representasi dari pendidikan itu sendiri. Oleh karenanya, sekolah berusaha dijangkau oleh masyarakat. Namun demikian, penyelenggaraan sekolah itu memang tidak secara cuma-cuma, melainkan juga bersifat meterial. Oleh karenanya, terkadang masyarakat dengan tingkat ekonomi lemah tidak mampu menjangkau pendidikan yang berupa sekolah.

Realitas tentang sekolah tidak hanya sesederhana itu. Hal itu sebagaimana yang diceritakan oleh James Tooley dalam bukunya yang berjudul “Sekolah untuk Kaum Miskin”. Tooley menceritakan kisah pengalamannya menjelajahi dunia dengan melihat realitas sekolah-sekolah untuk kaum miskin di berbagai negara berkembang.

Dalam perjalanannya, Tooley mengawalinya dari daerah kumuh di Kota Tua Hyderabad di India. Di daerah tersebut, banyak kaum miskin yang memaksakan anaknya untuk masuk sekolah. Yang menjadi keterkejutan Tooley adalah bahwa wilayah kumuh tersebut banyak berdiri sekolah kecil. Sekolah-sekolah kecil tersebut didanai secara mandiri oleh orangtua siswa. Pertanyaan pun muncul, apakah sekolah-sekolah tersebut mampu menyediakan pendidikan yang berkualitas atau hanya sekadar formalisasi?

Tentunya, kaum miskin juga membutuhkan fasilitas pendidikan yang berupa sekolah. Namun demikian, jika realitas banyaknya sekolah kecil yang mandiri tersebut menjadi alternatif bagi kaum miskin, tentunya pendidikan tidak akan bisa dilakukan secara optimal.

Pandangan stereotip menyatakan bahwa kemiskinan memang tidak menyenangkan. Lagi pula, semua orang tahu bahwa orang-orang miskin dunia sangat membutuhkan bantuan demi mewujudkan pendidikan bagi seluruh anak. Bantuan harus datang dari pemerintah mereka, yang mesti menghabiskan miliaran dolar lagi guna membangun gedung dan memperlengkapi sekolah-sekolah, serta mendidik dan mendukung para gurunya, sehingga semua anak bisa mendapatkan pendidikan dasar secara gratis (hlm. 3).

Dengan demikian, kaum miskin memang membutuhkan bantuan. Akan tetapi, siapakah yang berkenan untuk membantu mereka? Jika kita membaca literatur tentang pembangunan, menyimak pidato para politisi kita, mendengarkan para bintang pop dan aktor kita, dan di atas segalanya, orang-orang miskin selalu dianggap tak berdaya. Dengan pasrah dan sabar, mereka harus menunggu sampai pemerintah dan lembaga internasional bertindak untuk mereka dan menyediakan pendidikan yang layak bagi mereka (hlm. 4).

Daerah kumuh dengan pendidikan yang ala kadarnya memang menjadi pemandangan biasa di negara-negara berkembang, apalagi negara miskin. Realitas itulah yang juga dijumpai oleh Tooley dalam penjelajahannya meneliti berbagai sekolah swasta di negara-negara berkembang.

Tidak hanya itu, akses untuk menuju daerah-daerah kumuh pun susah. Jalanan aspal berakhir tiba-tiba; selebihnya adalah jalan tanah yang begitu becek sehingga tidak dapat dilalui oleh kendaraan. Jalanan tergenang air oleh hujan malam sebelumnya. Gorong-gorong terbuka di sepanjang sisi jalan yang meluap ke jalan (hlm. 59).

Sinisme pandangan terhadap kaum miskin tersebut memang telah menjadi sebuah pendapat populer. Akan tetapi, pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk kaum miskin sekalipun. Hal itu dikarenakan, bisa jadi bahwa pendidikan adalah pemotong mata rantai kemiskinan yang telah mendera mereka.

Hal itu menjadi kesimpulan dari perjalanan panjang Tooley di negara-negara tersebut. Kemiskinan memang menjadi keterbatasan. Akan tetapi, realitas yang dilihat Tooley mengatakan hal yang lain, bahwa kemiskinan tidak dapat menjangkau pendidikan yang layak adalah salah besar. Tooley telah menyaksikan realitas tersebut dalam penjelajahannya.

Pembangunan dapat berhasil jika masyarakat mengabaikan nasihat dari para pakar dan menemukan model sendiri yang sesuai secara kultural. Mungkin pelajaran vital dari sejarah adalah bahwa sistem pendidikan negeri yang terpusat bukan model yang sesuai secara kultural bagi mansyarakat. Dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum miskin, kita mungkin sekaligus memperjuangkan sebuah kepulangan menuju akar budaya rakyat (hlm. 396).

Para orangtua miskin tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menyekolahkan anak. Mereka menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, dan mereka tahu bahwa sekolah untuk kaum miskin adalah jalan menuju kemajuan. Kaum miskin tersebut telah menemukan soluis ajaib mereka (hlm. 441).

Hal inilah yang menjadi patokan utama untuk mewujudkan pendidikan berupa sekolah bagi kaum miskin yang semua itu terceritakan oleh Tooley dari buku setebal 478 halaman ini. Buku yang berupa cerita perjalanan Tooley dalam meneliti berbagai pendidikan (sekolah) di berbagai negara ini mengungkapkan bahwa keterbatasan (baca: kemiskinan) tidak menjadi sebuah persoalan yang sulit untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, masyarakat dengan status ekonomi yang paling miskin sekalipun mampu duduk di bangku sekolah.

 

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL