Novel ini bercerita tentang Sawitri, seorang ibu di sebuah keluarga desa, yang selalu menanam pohon dengan karakter berbeda-beda untuk setiap anak yang ia lahirkan. Dia berharap, anak-anaknya kelak akan tumbuh dan hidup dengan karakter seperti karakter pohon-pohon itu. Tak hanya itu, bagi Sawitri, pohon-pohon itu juga menjadi obat kangen, penghibur, pengingat, dan penanda manakala anak-anaknya telah pergi merantau—meniti jalan hidupnya masing-masing—dan tak kembali untuk sekian lama.
Selengkapnya klik di sini



Penyajiannya sederhana, gamblang, dan lugas. Kisah-kisah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dipaparkan dengan ringkas, disertai konteks yang jelas. Setiap orang, termasuk anak-anak, bisa memetik ilham yang tak habis-habisnya dari buku ini.
Sejak pertama kali terbit secara pribadi pada 1926, buku ini terus dicetak ulang hingga kini meskipun penulisnya sudah meninggal pada 1950. Buku klasik ini telah mengubah kehidupan banyak orang di berbagai belahan dunia, sebuah testimoni bagi keyakinan penulisnya bahwa kelimpahan dan kebahagiaan benar-benar berada dalam jangkauan setiap orang.
Pada 523 SM, Kaisar Cambyses, penguasa Persia yang menaklukkan banyak negeri, mengirim pasukan melintasi Gurun Barat, Mesir, untuk menghancurkan peramalan di Oasis Siwa. Pasukan tersebut tak pernah tiba di sana. Konon, 50.000 tentara lengkap dengan peralatan perangnya itu diterjang badai pasir dan lenyap tak ketahuan jejaknya.
Mengantarkan pembaca ke dalam dunia obsesi kesusastraan yang luas dan kaya, Gilkey Si Pencuri Buku menunjukkan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku-buku itu tetap dipertahankan, dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi memiliki buku yang mereka sukai.



